Thursday, 23 September 2021


Urban Farming di Ruko? Anwar Bisa Buktikan

06 Sep 2021, 10:52 WIBEditor : Gesha

Urban Farming di atap ruko | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh --- Urban farming kini memang menjadi gaya hidup masyarakat. Tak punya pekarangan luas, ruko bisa digunakan untuk kegiatan urban farming. Seperti yang dilakukan Muhammad Anwar (51), pensiunan Pertamina kepada tabloidsinartani.com.

"Dengan menanam sayuran seperti kacang panjang, sawi, seledri, kangkung dan cabai merah selain untuk dikonsumsi sendiri juga untuk penghijauan dan bangunan pun menjadi lebih adem," ungkapnya. Banyaknya koleksi tanaman sayuran dan bunga di ruko yang dijadikan tempat tinggal untuk dikonsumsi sendiri dan menarik dipandang mata.

Kegiatan urban farming yang dilakukan Anwar sebetulnya hanya untuk mengisi masa pensiun sekaligus menjadi ajang pelatihan dan percontohan bagi masyarakat sekitar Gampong Batoh. "Jika kita mengajak masyarakat untuk kegiatan urban farming agak susah, tapi dengan kita buat contoh seperti ini mereka bisa meniru. Bahkan ada teman dekat saya minta bantuan untuk mendesain di rukonya," jelasnya.

Anwar mengatakan usaha urban farming mulai dirintis 4 bulan lalu. Selain di depan ruko di lantai dua juga ada ditanam berbagai sayuran dan tanaman obat seperti kunyit, lidah buaya, jahe, serai, pegagan, kelor dan juga kembang telang," urainya. Semua sayuran yang terpajang rapi tidak untuk dijual, tapi jika ada mahasiswa yang butuh 3 pot untuk praktek diberikan secara gratis. Begitu juga kalau ada ibu hamil yang ngidam ingin petik sayur di pot. "Jika pun ada yang tertarik saya hanya minta diganti harga pupuk saja, di pasar kalau dibeli harganya antara 15.000 - 20.000 per pot," bebernya.

Baca Juga :

Kelola Sampah Urban Farming dengan Bijak

Nih Tips Budidaya Sayuran Ala Urban Farming

Sofian, Bosan Kerja di Rumah Coba Urban Farming

Modal awal katanya digunakan untuk membeli tanah, pot dan pupuk organik berkisar Rp 2,4 juta, lebih banyak menggunakan bahan bekas. Luas lahan di belakang rukonya 2 x 12 meter, di lantai dua khusus untuk sayuran luasnya 4 x 12 m2. Sedangkan di belakang ruko ada space 2 x 12 m2, terdapat juga 7 pipa untuk sayuran aquaponik. 

"Dari aspek kesehatan sayur organik yang kita tanam sehat untuk dikonsumsi, secara ekonomi kalau dijual bisa mendapatkan penghasilan Rp 2 juta an per bulan," tuturnya.

Sebagai anggota Lembaga Seulawah Aceh (LSA) ia mengajak milenial untuk memproduksi pupuk organik dan berbagai sayuran organik di gerainya. Pihaknya bersedia membantu dalam hal pemasaran, karena tempatnya cukup strategis.

"Kalau misalnya kita gunakan grab membeli sayuran ke Peunayong untuk 3 jenis harganya Rp 30.000 ditambah ongkos lagi, ini tidak ekonomis. Sedangkan kalau tanam sendiri hasilnya segar. Sebenarnya untuk memulai urban farming kuncinya tidak cukup hanya kemauan saja tapi juga harus yakin," timpalnya.

Keyakinan Anwar ini juga diapresiasi Maulana yang datang untuk melihat langsung urban farming di ruko. Bahkan dirinya tertarik untuk mulai belajar. "Semangat saya tumbuh dan ingin mengadopsinya. Padahal sebelumnya saya kurang tertarik dengan kegiatan budidaya," pungkasnya.

Reporter : AbdA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018