Tuesday, 16 June 2026


Bagaimana Pendekatan dan Dampaknya?

08 Jul 2025, 16:38 WIBEditor : Yulianto

Waspadai bahaya brainrot pada anak anak

Meski demikian, menurut Dr Melly, konten absurd tidak sepenuhnya berbahaya jika dikelola dengan pendekatan yang tepat. Ia menyebut bahwa dalam kondisi tertentu, konten seperti ini dapat merangsang kreativitas dan fleksibilitas berpikir.

“Bagi balita, orang tua harus memberi penjelasan. Katakan saja, ini hanya khayalan AI (artificial intelligence,red) semata. Dalam dunia nyata, ikan hiu tidak memakai sepatu,” ujarnya.

Untuk remaja, Melly mengatakan, konten ini justru bisa menjadi sarana melatih kemampuan mengenali pola atau pattern recognition. Konten absurd menciptakan semacam cognitive playground yang melatih deteksi anomali, keterampilan yang sangat penting di era banjir informasi saat ini.

Untuk melindungi anak dari dampak negatif yang ditimbulkan, Melly menyarankan enam langkah yang dapat dilakukan orang tua. Pertama, bangun literasi digital. Orang tua perlu menjelaskan bahwa konten AI seperti mimpi aneh, bukan realitas.

“Kedua, batasi akses. Aktifkan restricted mode, dengan membatasi durasi misalnya 5 menit per hari, dan hindari penggunaan gawai satu jam sebelum tidur,” ucapnya.

Ketiga, ia melanjutkan, ubah konsumsi pasif menjadi aktif. Orangtua agar mengajak anak menganalisis konten absurd. Misalnya dengan memberikan pertanyaan, “Sebutkan tiga hal tidak masuk akal di video ini!”

Keempat, latih cognitive anchoring. Hubungkan konten absurd dengan fakta, seperti, “Hiu tidak berkaki, kan?” Kelima, edukasi bahaya absurditas. Jelaskan bahwa konsumsi berlebihan bisa mengubah jalur saraf, layaknya makan permen secara terus-menerus. Keenam, lakukan digital detox.

“Apabila konsumsi sudah tak terkendali, matikan internet selama 3–7 hari dan ganti dengan aktivitas fisik atau sosial langsung,” saran Dr. Melly seperti dikutip dari laman IPB.ac.id.

Dampak Brainrot bagi Anak

Istilah “brain rot” sendiri mencerminkan kondisi psikologis akibat gaya hidup digital masa kini yang dipenuhi scrolling tanpa henti, menonton secara maraton, dan multitasking. Dr Melly mengungkapkan, perilaku ini menyebabkan cognitive overload, kelelahan mental, dan berkurangnya fokus. 

“Paparan berlebihan terhadap video berdurasi pendek mengubah preferensi otak terhadap stimulasi cepat,” katanya. Karena itu, ia mengingatkan, penting bagi orang tua mengenali gejala awal “brain rot”. Gangguan ini dapat muncul dalam bentuk kognitif, bahasa, emosi, maupun sosial. 

“Anak bisa sulit konsentrasi, sering lupa instruksi sederhana, bicaranya patah-patah, atau kosakatanya menyusut. Secara emosional, mereka bisa tertawa histeris saat online tetapi datar ketika diajak bicara. Ada juga yang marah ketika gadget diambil,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap usia menunjukkan gejala berbeda. Misalnya, untuk Balita mungkin meniru gerakan absurd yang mereka lihat. Anak usia SD bisa mengalami penurunan nilai drastis. Sementara remaja mulai berkomunikasi dengan bahasa meme. Pendampingan orang tua juga sangat dibutuhkan pada anak-anak yang kecanduan gadget.

Istilah “brain rot” sendiri mencerminkan kondisi psikologis akibat gaya hidup digital masa kini yang dipenuhi scrolling tanpa henti, menonton secara maraton, dan multitasking. Dr Melly mengungkapkan, perilaku ini menyebabkan cognitive overload, kelelahan mental, dan berkurangnya fokus. 

“Paparan berlebihan terhadap video berdurasi pendek mengubah preferensi otak terhadap stimulasi cepat,” katanya. Karena itu, ia mengingatkan, penting bagi orang tua mengenali gejala awal “brain rot”. Gangguan ini dapat muncul dalam bentuk kognitif, bahasa, emosi, maupun sosial. 

“Anak bisa sulit konsentrasi, sering lupa instruksi sederhana, bicaranya patah-patah, atau kosakatanya menyusut. Secara emosional, mereka bisa tertawa histeris saat online tetapi datar ketika diajak bicara. Ada juga yang marah ketika gadget diambil,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa setiap usia menunjukkan gejala berbeda. Misalnya, untuk Balita mungkin meniru gerakan absurd yang mereka lihat. Anak usia SD bisa mengalami penurunan nilai drastis. Sementara remaja mulai berkomunikasi dengan bahasa meme. Pendampingan orang tua juga sangat dibutuhkan pada anak-anak yang kecanduan gadget.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018