
Waspadai bahaya brainrot pada anak anak
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Dunia digital kini banyak dipenuhi dengan konten receh. Menonton konten tersebut memang salah satu cara menghibur diri atau menenangkan pikiran di tengah padatnya aktivitas. Namun perlu diwaspadai bahaya konten tersebut bagi anak-anak, karena dapat menyebabkan brainrot atau penurunan kemampuan kognitif serta psikologis seseorang.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Oxford English Dictionary pada tahun 2024 lalu dan menjadi Oxford Word of the Year. Meski tidak termasuk dalam kondisi medis, brain rot tetap tidak bisa dibiarkan karena bisa menimbulkan kecemasan, bahkan depresi.
Brain rot bisa dialami siapa saja yang memiliki kebebasan akses menggunakan internet, baik anak-anak, remaja, maupun orang tua. Gejala yang dirasakan setiap orang yang pun bisa berbeda-beda. Misalnya, ditandai dengan terlalu banyak menerima informasi kurang penting, menurunnya daya ingat, mudah cemas, dan mata mudah lelah.
Ada beberapa cara mengatasi brain rot adalah dengan melakukan teknik pomodoro, menerapkan screen time, melakukan kurasi konten, dan lebih banyak melakukan aktivitas offline. Nah, Fenomena viral “Anomali Brainrot” yang ramai beredar di media sosial mulai menarik perhatian kalangan akademisi.
Salah satunya Dr Melly Latifah, dosen IPB University dari Divisi Perkembangan Anak, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia. Menurutnya, di balik kelucuan konten absurd, seperti manusia berwujud pentungan kayu (tung-tung tung sahur), hiu memakai sepatu, atau cappuccino berkepala balerina, tersembunyi potensi dampak serius terhadap perkembangan anak dan remaja.
Ia menuturkan, pada anak usia dini yang masih berada pada tahap praoperasional menurut teori Piaget, konten absurd berisiko mengacaukan pemahaman terhadap realitas. Sebab, anak-anak belum mampu membedakan fantasi dan kenyataan.
“Visual yang hiper-absurd dapat memicu pelepasan dopamin secara berlebihan, yang berdampak pada fokus dan emosi,” katanya. Selain itu, ungkap Melly, narasi yang tidak koheren dapat menghambat pemahaman struktur bahasa anak.
Sementara itu, pada kalangan remaja, paparan konten absurd secara terus-menerus dapat membentuk pola pikir tidak logis. Paparan berlebihan makin menguatkan pola pikir semakin tidak masuk akal, semakin menarik.
“Ini mengurangi kemampuan berpikir sistematis,” katanya. Bahkan lanjut Melly, konten semacam ini juga dapat mengikis empati karena sering kali menghilangkan konteks emosional dari suatu peristiwa.
Bagaimana cara mencegahnya? Baca halaman selanjutnya.