Friday, 25 September 2020


Sambal Tuk-tuk Khas Tapanuli, Pedas Menggigit!

05 Oct 2018, 15:45 WIBEditor : Gesha

Sambal Tuk-tuk dengan Andaliman, Pedas menggigit ! | Sumber Foto:Cookpad

TABLOIDSINARTANI.COM, Tapanuli --- Bagi penggemar pedas, nampaknya wajib menjelajah rasa sambal di Sumatera Utara. Di negeri Batak ini terdapat sambal tuk-tuk yang diolah dari ikan aso-aso. Rasanya? Pedas Menggigit!.

Untuk penggemar sambal, suku Batak ternyata punya sambal andalan yang bisa memanjakan lidah penggemar sambal. Uniknya, sambal ini juga diolah dengan menggunakan bahan ikan aso-aso (sejenis ikan kembung) atau ikan teri.

“Sebenarnya bahan-bahan untuk membuat sambal tuktuk tidak berbeda dengan bahan sambal-sambal lainnya, sederhana saja. Yang membuat sambal ini sedikit lebih berbeda dengan sambal yang lain adalah andalimannya,” tutur salah satu orang Tapanuli di Jakarta, Sirait.

Andaliman sendiri termasuk jenis jeruk-jerukan dan bentuknya mirip dengan lada (merica) berwarna hijau dan kecil-kecil. JIka sudah kering, andaliman berwarna kehitaman. Bila digigit akan tercium bau minyak atsiri dan merangsang nafsu makan.

Bagi orang Batak, andaliman ini banyak juga digunakan dalam setiap masakannya. Aroma yang sedap mampu memanjakan hidung. Lidah pun dimanjakan dengan rasanya yang pedas menggigit.

“Sambal tuk-tuk ini paling sedap jika dimakan bersama Gule Bulung Gadung maupun Bolgang. Rasanya sedap!!. Meskipun pedas menggigit tapi selalu pengen nambah lagi,” tutur Sirait.

Sebutan sambal tuktuk sendiri di Sumatera berbeda-beda. Jika kita berkunjung ke Tapanuli, sambal ini bisa Anda temui dengan nama sambal tuktuk. Sedangkan jika berkunjung ke Simalungun disebut dengan tinuktuk.

Bedanya, di Simalungun sambal tinuktuk biasa digunakan untuk disiram pada daging dan lauk seperti ikan mujair, ikan mas dan ikan nila bakar. Sambal ini sangat enak dinikmati saat musim dingin (penghujan).

Dahulunya, sambal ini hanya bisa ditemui pada perayaan ibu melahirkan di Simalungun.

“Sejak nenek moyang Batak dulu, Tinuktuk merupakan sambal rempah yang berkhasiat dan cukup digemari. Terutama ibu habis melahirkan. Dulu dikampung tidak ada dokter, jadi habis bersalin, ibu bayi harus makan sambal tinuktuk dicampur dengan ikan bakar,” kata warga Simalungun, Anta Boru Damanik.

Menurut Anta Damanik, kini sambal Tinuktuk sudah sulit dijumpai di pasar-pasar tradisional Batak, bahkan rumah makan khas Batak.

Sulitnya mendapatkan sambal Tinuktuk ini, disebabkan cara pembuatannya yang sulit. Selain ragam rempahnya, takaran rempah juga harus pas serta pembuatnnya harus tradisional.

Disebutkan, sambal ini hilang akibat mudahnya mendapatkan penyedap rasa instan dipasaran saat ini. Generasi muda Batak dan para orang tua Batak sudah lupa akan sambal tradisional Tinuktuk ini. Sambal Tinuktuk halal bagi semua orang. Bahan-bahannya semuanya serba alami dan mudah dijumpai, khususnya di tanah Batak.

 

 

 

Reporter : Gesha
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018