Minggu, 18 Januari 2026


Lebih Menguntungkan, Petani Beralih Tanam Cabai

09 Mei 2021, 11:29 WIBEditor : Ahmad Soim

Cabai merah besar jenis cili kulai

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Nunukan -- Sudah lazim petani berusaha membudidayakan tanaman yang memiliki harga jual bagus, begitu juga dengan Raba Dinata (47) yang tergabung dalam kelompok tani Setia Kawan di Sei Jepun Nunukan Selatan Kabupaten Nunukan, awalnya aktif menanam jagung manis karena harganya menurun maka kini beralih ke tanaman cabai.

Rencananya berbuah manis, sejak awal Februari lalu Raba berkutat menanam cabai, ia memilih membudidayakan cabai merah besar jenis cili kulai dan akhirnya sekarang menuai hasil yang menguntungkan, menurutnya ini merupakan pertama kali menanam cabai merah besar jumlahnya 2000 pohon, terdiri dari jenis cili kulai 1800 pohon dan sisanya cabai merah keriting.

“Alhamdulillah sampai sekarang sudah terpanen 1,3 ton, semuanya laku terjual dengan harga di tingkat petani Rp 35.000 per kg, sebenarnya kalau dijual langsung ke pasar bisa lebih mahal lagi tapi saya tidak memiliki waktu karena sudah sibuk mengurus kebun selain itu juga menjual eceran dalam jumlah besar itu agak sulit,” ujar Raba. 

Raba merasa sangat bersyukur karena dapat menjual cabainya di saat harga bagus, hasil dari penjualan ini akan ia gunakan untuk membeli peralatan guna mendukung usahanya sebagian lagi dijadikan modal menanam musim berikutnya, sebab ada rencana tanam ke dua lebih luas lagi.

“Saya perhatikan sekarang sebagian bunga keduanya sudah muncul lagi, kemungkinan habis lebaran bisa panen kembali, agar pertumbuhan bunga kedua bagus banyak yang menyarankan sebaiknya dikompos lagi,  tapi saya berfikir bagaiman caranya  tetap ditambahi kompos tapi tidak membuka mulsa plastik,” jelasnya. 

BACA JUGA:

Akhirnnya ia memilih menggunakan pupuk organik cair ditambah sedikit pupuk kimia sebagai pemancing lalu  dikocorkan ke tanaman cabai dan menurut Raba pertumbuhan bunga keduanya menjadi lebih baik.

“Cabai merah besar jenis cili kulai ini memang diminati pasar untuk memperoleh bibitnya agak sulit di dapat di pasaran, biasanya dipasok dari sebelah (Malaysia) tapi buatan Taiwan, untuk mengatasinya kita mencoba melakukan pembibitan sendiri,” katanya.

Raba mengakui bibit cabai yang sekarang ia tanam berasal dari kebun milik keluarganya, proses pembibitannya dipilih cabai dari bunga buah yang kedua atau ketiga, lalu tentukan secara kasat mata pertumbuhan dan bentuknya bagus, kemudian dimatangkan dengan sempurna.  

“Kalau dari bunga buah pertama dijadikan bibit biasanya kurang begitu baik, bijinya agak berwarna hitam, produksi dan pertumbuhannya tidak begitu bagus,” imbuhnya.

Kepala Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Nunukan Selatan, Samsiar mengungkapkan Kelurahan Nunukan Selatan memang salah satu daerah sentra penghasil cabai untuk Kota Nunukan baik cabai besar maupun cabai rawit.

“Setidaknya tercatat 5 poktan aktif membudidayakan tanaman cabai, apalagi sekarang ini harganya lumayan bagus petani sangat bersemangat,” ucap Samsiar.

Samsiar juga mengakui berusaha untuk membantu petani mencari pasar selain kota Nunukan seperti ke Tarakan atau eksport ke Tawau Malaysia, “ke depan kita ingin pemasarannya lebih bagus lagi, sebab ada rencana beberapa anggota poktan mau tanam lebih luas lagi kalau hanya mengandalkan di Nunukan  saja pasarnya masih terbatas,” tutupnya.

=== 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Ibnu Abas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018