
Dirjen Hortikultura, Prihasti Setyanto saat mengunjungi lokasi budidaya anggrek milik Ekakarya
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Saat ini hampir seluruh sektor ekonomi terdampak pandemi Covid-19. Hal ini tidak berlaku untuk komoditas florikultura, bahkan potensi ekspor tanaman hias ini diprediksi mencapai 22 miliar dollar AS.
Sebuah angka yang sangat fantastis. Jauh melebihi ekspor hasil perkebunan komoditas teh dan kopi. Namun ada hal lain yang perlu dipikirkan secara serius, yaitu mengenai jaminan stok atau ketersediaan benihnya.
Salah satu pelaku bisnis ekspor florikultura, Joko As’ad mengatakan, untuk kelangsungan ekspor florikultura harus dibenahi masalah hulu yaitu perbenihan. Bahkan masalah ini sangat penting untuk menjamin kelangsungan ekspor, baik secara kuantitas maupun kualitasnya.
"Jika dimungkinkan pemerintah harus ikut campur tangan untuk mengatasi masalah ini,” kata Direktur Marketing PT Ekakarya Graha Flora ini.
Ia mengakui, tingginya permintaan benih tanaman hias menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaku usaha yang bergerak di bidang perbenihan. Untuk itu, peningkatan kualitas serta terjaminnya kontinuitas benih bermutu sangat perlu dilakukan. Termasuk pengelolaan dan manajemen produksi yang baik perlu untuk diterapkan.
PT Ekakarya Graha Flora adalah produsen anggrek bulan (phalaenopsis), dan anggrek dendrobium dalam bentuk tanaman dan benih. Kapasitas produksi anggrek perusahaan itu mencapai 1 juta anggrek per tahun.
Sistem produksinya sudah cukup modern, lengkap dengan fasilitas penangkaran benihnya dengan luas kebun screenhouse. Untuk produksi anggrek dendrobium mencapai 12 hektar (ha), sedangkan untuk anggrek bulan seluas 5 ha.
Beban Biaya Pengiriman
Namun dalam ekspor, Joko mengakui, ada sedikit kendala di sisi pengiriman. Semenjak pandemi ini , biaya freight forwarding atau pengiriman ekspor melonjak menjadi dua kali lipat. Untuk itu, perusahaannya hanya mengirim anggrek produksinya ke negeri sakura Jepang.
“Importir disana (Jepang,red) tidak terlalu mempermasalahkan biaya pengiriman. Sedangkan untuk negara lain seperti Amerika Serikat, Belanda dan Singapura agak sedikit terhambat, bahkan stop,” tegasnya.
Pelaku bisnis tanaman hias kedepan mengharapkan dukungan Kementerian Pertanian untuk memfasilitasi kemudahan ekspor. Badan Karantina juga akan memberikan akreditasi bagi produsen serta membantu memberikan kemudahan perijinan untuk ekspor.
“Kita ingin menyukseskan program pemerintah menggenjot ekspor. Yang perlu diselesaikan saat ini adalah masalah kargo dan diplomasi,” pintanya.