
Petani cabai di Kota Makassar terapkan budidaya ramah lingkungan
TABLOIDSINARTANI.COM, Makassar---Petani di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar mengembangkan kampung cabai ramah lingkungan seluas 20 ha. Varietas yang dikembangkan adalah Castillo dan Varietas Dewata.
Ketua Kelompok Tani Mamampang sekaligus Ketua Gapoktan Sukamaju, Abdurahman mengatakan, saat ini kondisi pertanaman sudah berumur 150 hari dan sudah dilaksanakan panen yang ketiga kali. Dengan harga cabai keriting dikisaran Rp 17-19 ribu/kg dengan rata rata produktivitas cabai mencapai 8-9 ton/ha, petani mengaku cukup untung. ”Kami suplai ke wilayah Makassar dan sekitarnya,” katanya.
Abdurrahman mengatakan, anggota kelompok tani fokus pada budidaya ramah lingkungan. Dimulai dari persemaian dengan menggunakan media tanam kompos terfermentasi. Untuk mengatasi hama dan penyakit, petani menggunakan trichoderma dan PGPR. ”Pada lokasi pertanaman kami juga gunakan likat kuning dan adanya tanaman pembatas jagung serta penanaman refugia," katanya.
Direktur Perlindungan Hortikultura, Jekvy Hendra menghimbau kepada petani untuk menjaga produksi dan produktivitas komoditas hortikultura strategis, sebaiknya budidaya yang dikembangkan adalah pendekatan budidaya ramah lingkungan.
Saat ini, Ditjen Hortikultura mendorong pengembangan Klinik PHT. Diharapkan nantinya akan menghasilkan produk Agen Pengendali Hayati (APH) seperti Trichoderma, PGPR, Beauveria, Paenobacillus, dan lain lain.
Jekvy menambahkan, tanaman yang terkena serangan OPT dapat diatasi dengan menggunakan PGPR, Paeni Bacillus atau dapat menyiram cairan pemutih baju pada pohon yang terkena serangan.
Setelah diberikan PGPR atau disiram cairan pemutih baju, ungkap Jekvy, tunggu selama 10 hari hingga sudah kelihatan mati. Selanjutnya, digunting dan dimasukkan ke dalam kantong plastik. ”Cara ini merupakan langkah penanggulangan preventif secara ramah lingkungan," ujarnya.
Kordinator Dampak Perubahan Iklim dan Bencana Alam Ditjen Hortikultura, Agung Sunusi pada saat ditemui di lapangan menyampaikan pihaknya memberikan kepada petani cabai. Target pendampingan budidaya ramah lingkungan ini untuk membantu petani menghadapi El Nino.
Pendamping dilakukan lokasi penyangga cabai dan bawang merah nasional di tujuh provinsi yaitu Jawa Timur m, Jawa Barat, Jawa Tengah, Lampung, Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, dan NTB. "Ke depan budidaya ramah lingkungan menjadi target utama dalam menjaga ketersediaan pangan khususnya hortikultura strategis," kata Agung.
Direktur Jenderal Hotikultura, Prihasto Setyanto mengingatkan kepada seluruh jajarannya untuk harus turun dan segera melakukan pendampingan di lapangan. "Kita harus aktif dan memberikan pendampingan terkait dengan memastikan luas kondisi existing pertamanan, serangan OPT dan dampak El Nino khusunya kekeringan agar produktivitas tetap terjaga," katanya.