Sunday, 12 April 2026


Pasar Petani Garuda Jadi Pusat Gerakan Sertifikasi Benih, Petani Bidik E-Katalog

08 Apr 2026, 12:56 WIBEditor : Herman

Sosialisasi sertifikasi pengedar benih hortikultura di Pasar Petani Garuda Bogor

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Kabupaten Bogor terus mendorong percepatan sertifikasi benih hortikultura guna mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah. Langkah ini dinilai penting karena selama ini banyak benih lokal belum memiliki standar resmi, sehingga belum bisa memenuhi kebutuhan pasar secara optimal.

Upaya tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi sertifikasi pengedar benih hortikultura yang digelar Forum Komunikasi Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (FK-P4S) Kabupaten Bogor di Pasar Petani Garuda, Selasa (7/4/2026).

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bogor, Entis Sutisna, menegaskan bahwa sertifikasi menjadi kunci utama agar benih lokal dapat masuk ke sistem pengadaan pemerintah melalui e-katalog.

“Selama ini tanaman kita banyak, tetapi yang bersertifikat masih minim. Akibatnya, pengadaan benih justru lebih banyak dari luar daerah,” ujarnya.

Menurut Entis, jika benih lokal sudah tersertifikasi dan masuk e-katalog, maka anggaran pemerintah dapat dimanfaatkan untuk membeli produk dari petani lokal. Hal ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian benih di Kabupaten Bogor.

“Kami ingin ke depan kebutuhan benih tidak lagi bergantung dari luar, tetapi bisa dipenuhi dari Bogor sendiri,” katanya.

Ketua FK-P4S Kabupaten Bogor, Ruslan, menambahkan bahwa kegiatan ini diikuti para pedagang benih tanaman buah dan tanaman hias yang beraktivitas di Pasar Petani Garuda. Saat ini, tercatat sekitar 75 pelaku usaha tergabung dalam forum tersebut.

Beragam komoditas dipasarkan di lokasi itu, mulai dari tanaman buah unggul, tanaman hias, bonsai, hingga sarana produksi pertanian dan jasa lanskap.

Ruslan berharap para pelaku usaha tidak hanya menjadi pedagang, tetapi juga berkembang menjadi produsen benih unggul yang tersertifikasi sesuai regulasi.

“Kami ingin baik benih maupun pelakunya sama-sama tersertifikasi, sehingga memiliki daya saing di pasar,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, turut diperkenalkan varietas unggul lokal, Alpukat Garuda Yaksa, yang telah dikembangkan selama sekitar tujuh tahun di Kabupaten Bogor. Varietas ini dikenal adaptif di berbagai ketinggian wilayah, dari dataran rendah hingga tinggi.

Awalnya merupakan tanaman introduksi, Alpukat Garuda Yaksa kini telah memenuhi syarat sebagai varietas lokal setelah melalui proses pengembangan lebih dari enam tahun.

Dari sisi keunggulan, alpukat ini memiliki produktivitas tinggi dengan daging buah yang lembut, serta tingkat keberhasilan perbanyakan mencapai 95 persen. Selain itu, tanaman ini tergolong cepat berbuah, yakni dalam waktu dua hingga tiga tahun sudah mulai panen.

“Pada usia enam hingga tujuh tahun, produksinya bisa mencapai 200 kilogram per pohon,” jelas Ruslan.

Keunggulan lainnya terletak pada kulit buah yang tebal sehingga lebih tahan terhadap serangan hama, serta struktur percabangan yang rimbun yang mendukung produktivitas.

Saat ini, pengembangan Alpukat Garuda Yaksa tidak hanya dilakukan di Bogor, tetapi juga telah meluas ke sejumlah daerah lain seperti Sukabumi, Kalimantan, dan Bengkulu.

Meski permintaan benih cukup tinggi, Ruslan mengakui masih banyak petani belum mampu memenuhi pasar karena terkendala sertifikasi.

“Padahal anggaran pengadaan benih cukup besar. Namun karena belum tersertifikasi, petani belum bisa terlibat. Ini yang sedang kami dorong,” katanya.

Melalui percepatan sertifikasi, Pemerintah Kabupaten Bogor berharap pelaku usaha benih mampu menangkap peluang pasar sekaligus memperkuat ekosistem perbenihan yang lebih tertib, kompetitif, dan sesuai regulasi.

Dengan benih yang unggul dan tersertifikasi, Bogor menargetkan diri sebagai salah satu daerah penghasil benih hortikultura yang mampu bersaing di pasar yang lebih luas—sekaligus menjaga reputasi komoditas lokal unggulannya.

 

 

Reporter : Eko
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018