
Ketergantungan impor bawang putih mulai dipangkas. Pemerintah mengebut produksi benih lokal dengan target 693 ton pada 2026.
TABLOIDSINARTANI.COM, Lembang – Ketergantungan impor bawang putih mulai dipangkas. Pemerintah mengebut produksi benih lokal dengan target 693 ton pada 2026.
Upaya memutus ketergantungan impor bawang putih mulai digenjot dari hulunya.
Pemerintah melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) mempercepat produksi benih sumber bawang putih lokal dengan target mencapai 693 ton pada 2026.
Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian Hortikultura, Inti Pertiwi Nashwari, mengatakan produksi benih sumber menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat ketersediaan benih bermutu di dalam negeri.
Pada 2026, produksi benih sumber bawang putih lingkup BRMP ditargetkan berlangsung di lahan seluas 177 hektare. Produksi tersebut ditargetkan menghasilkan sekitar 693 ton benih.
“Untuk memenuhi target luasan tersebut, jumlah benih yang dibutuhkan BRMP sebesar 141,6 ton,” sebut Inti.
Inti mengungkapkan kebutuhan benih tersebut berasal dari dua sumber. Sebanyak 44,38 ton merupakan hasil produksi BRMP pada 2025 yang digunakan untuk penanaman seluas 55 hektare.
Sementara kekurangannya, yakni 97,22 ton, dipenuhi dari penangkar untuk mendukung penanaman di lahan seluas 122 hektare.
Produksi Benih Diperluas
Produksi benih sumber bawang putih pada 2026 dilaksanakan oleh sejumlah satuan kerja BRMP.
Lokasinya mencakup BRMP Tanaman Sayuran, BRMP Sumatra Utara, BRMP Sumatra Selatan, BRMP Jambi, BRMP Jawa Tengah, BRMP Jawa Timur, dan BRMP NTB.
Untuk memenuhi kebutuhan benih, BRMP juga menggandeng penangkar anggota Asosiasi Benih Bawang Putih (ASBATI) yang tersebar di sejumlah sentra produksi.
Kerja sama tersebut mencakup penangkar di Temanggung, Tegal, Karanganyar, Malang, dan Sembalun. Kolaborasi ini diperlukan agar kebutuhan benih untuk memperluas areal produksi dapat terpenuhi.
Langkah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penguatan bawang putih nasional nggak cukup hanya mengandalkan lahan produksi.
Ketersediaan benih sumber yang bermutu menjadi bagian penting agar penangkar bisa memperbanyak benih dan memasok kebutuhan petani.
Sebelumnya, produksi benih sumber bawang putih lingkup BRMP pada 2025 dilakukan pada lahan seluas 45 hektare.
Produksi tersebut melibatkan BRMP Tanaman Sayuran, BRMP Sumatra Utara, BRMP Jawa Tengah, BRMP Jawa Timur, dan BRMP NTB.
Dari lahan tersebut, produksi mencapai 44,38 ton umbi kering benih.
Namun, produksi pada 2025 bukan tanpa tantangan. Kegiatan berlangsung pada masa off season, sekitar Oktober hingga Desember, ketika risiko gangguan cuaca dan iklim cukup tinggi.
Sejumlah lokasi produksi bahkan mengalami dampak curah hujan tinggi, angin kencang, banjir, longsor hingga serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
Kondisi tersebut menyebabkan kerusakan tanaman dan pembusukan umbi sehingga produktivitas di beberapa lokasi tidak mencapai target optimal.
Meski begitu, ada lokasi yang mampu menunjukkan hasil positif.
Penanaman varietas Lumbu Kuning di lahan Instalasi Pengujian dan Penerapan Modernisasi Pertanian (IP2MP) Gur-Gur, BRMP Sumatra Utara, misalnya, mampu menghasilkan produktivitas hingga 12,5 ton per hektare umbi basah.
Hasil produksi 2025 sebanyak 44,38 ton kemudian tidak berhenti sebagai produksi satu kali. Benih tersebut dimanfaatkan kembali atau dilakukan revolving untuk mendukung produksi benih sumber pada 2026 di lahan seluas 55 hektare.
Melawan El Nino
Tahun ini tantangan kembali muncul. Produksi benih sumber bawang putih 2026 menghadapi kondisi cuaca dan iklim ekstrem, salah satunya kekeringan yang dipengaruhi fenomena El Nino.
Namun, kondisi tersebut tak lantas membuat produksi berhenti.
Penerapan teknologi menjadi salah satu cara yang dilakukan untuk menjaga produktivitas.
Di Temanggung, penanaman bawang putih oleh BRMP Tanaman Sayuran bahkan mampu mencapai produktivitas hingga 18 ton per hektare.
Capaian tersebut diperoleh melalui penerapan teknologi produksi lipat ganda (Proliga) bawang putih.
Angka 18 ton per hektare ini menjadi salah satu catatan penting dalam pengembangan produksi benih.
Sebab, teknologi budidaya dapat menjadi penentu ketika petani harus berhadapan dengan tantangan cuaca yang makin sulit diprediksi.
Di sisi lain, laporan progres juga mencatat hamparan Blok E seluas 6 hektare dengan umur tanaman sekitar 109 hari.
Hamparan tersebut diproyeksikan memiliki potensi produksi sekitar 17,1 ton, dengan ukuran diameter umbi sekitar 5–6 cm.
Sementara itu, terdapat pula tiga petak seluas masing-masing sekitar 1 hektare yang dilaporkan siap memasuki masa panen.
Inti menjelaskan, target produksi 693 ton pada 2026 nantinya tak seluruhnya digunakan kembali oleh BRMP.
Dari total produksi tersebut, sekitar 144 ton direncanakan digunakan untuk revolving produksi benih sumber bawang putih oleh BRMP pada 2027.
Sementara 549 ton sisanya akan diarahkan untuk mendukung penyediaan benih bawang putih bermutu oleh para penangkar.
Skema tersebut menjadi penting dalam memperbesar efek produksi benih sumber.
Artinya, benih yang dihasilkan tidak hanya berputar di lingkungan BRMP, tetapi juga dapat diperbanyak oleh penangkar untuk memperluas ketersediaan benih berkualitas bagi petani
Dengan pola ini, produksi benih sumber diharapkan menjadi fondasi untuk memperkuat rantai perbenihan bawang putih nasional.
Apalagi, kebutuhan bawang putih dalam negeri selama ini masih menghadapi persoalan ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.
Karena itu, penguatan benih lokal menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus dikebut jika Indonesia ingin mengurangi ketergantungan impor.
Produksi 693 ton pada 2026 pun bukan sekadar mengejar angka.
Di belakangnya ada upaya memperluas areal produksi, memperkuat penangkar, menerapkan teknologi budidaya, sekaligus membangun sistem perbenihan yang lebih berkelanjutan.
Jika produksi benih sumber bisa terus meningkat dan penangkar mampu memperbanyaknya secara konsisten, pasokan benih bermutu untuk petani akan semakin kuat.
Pada akhirnya, perang melawan ketergantungan impor bawang putih bukan hanya soal memperbanyak luas tanam.
Benih menjadi titik awalnya. Dan tahun ini, pemerintah mulai menggeber produksi dengan target besar yaitu 693 ton benih sumber bawang putih dari 177 hektare lahan.