Sunday, 08 November 2026


Begini Kiprah BRMP Sayuran Kembangkan Bawang Putih Makin Produktif

20 Aug 2026, 11:29 WIBEditor : Gesha

BRMP Sayuran terus mendorong bawang putih Indonesia dari benih unggul hingga panen. Teknologi budidaya dikembangkan untuk meningkatkan hasil dan kualitas.

TABLOIDSINARTANI.COM, Lembang – BRMP Sayuran terus mendorong bawang putih Indonesia dari benih unggul hingga panen. Teknologi budidaya dikembangkan untuk meningkatkan hasil dan kualitas.

Upaya meningkatkan produktivitas bawang putih nasional kini tidak hanya bertumpu pada perluasan lahan tanam.

Penguatan dimulai dari hulu, yakni penyediaan benih unggul dan bermutu, kemudian dilanjutkan dengan perakitan teknologi budidaya, pengujian, hingga pendampingan penerapannya di lapangan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari kiprah Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Sayuran (BRMP Sayuran) di Lembang, Jawa Barat, dalam mendukung kemandirian bawang putih nasional.

Kualitas Benih

Bagi BRMP Sayuran, peningkatan produktivitas tidak bisa dilepaskan dari kualitas benih. Benih yang digunakan harus memiliki mutu genetik, fisik, fisiologis, serta kesehatan yang memenuhi persyaratan.

Empat varietas bawang putih menjadi bagian penting dalam kegiatan perbenihan BRMP Sayuran, yakni Lumbu Hijau, Lumbu Kuning, Lumbu Putih, dan Tawangmangu Baru. Keempatnya merupakan varietas lokal yang telah dikembangkan melalui kegiatan pemuliaan dan perbenihan pemerintah.

Pada 2025, BRMP Sayuran menghimpun 1,6 ton benih bawang putih unggul dan bersertifikat dari empat varietas tersebut.

Benih berasal dari tiga sentra produksi di Jawa Tengah, yaitu Tawangmangu, Temanggung, dan Tegal, untuk selanjutnya dimanfaatkan dalam program perbanyakan benih.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa strategi peningkatan produksi tidak berhenti pada penyediaan benih untuk satu musim tanam.

Benih sumber harus diperbanyak secara berjenjang sehingga tersedia bahan tanam yang cukup untuk mendukung perluasan budidaya.

BRMP Sayuran juga telah melakukan produksi benih sumber Lumbu Putih. Pada 2023, kegiatan produksi benih di IP2TP Margahayu, Lembang, ditujukan untuk menghasilkan 600 kilogram benih bawang putih terstandar. 

Lumbu Putih menjadi salah satu varietas yang menarik karena memiliki umur panen relatif genjah, sekitar 100-110 hari setelah tanam, dan dapat dikembangkan pada dataran rendah maupun dataran tinggi.

Produktivitasnya dilaporkan mencapai 18-24 ton per hektare untuk panen segar atau sekitar 6-8 ton per hektare dalam bentuk umbi kering.

Kegiatan tersebut berlanjut. Pada November 2025, BRMP Sayuran melakukan panen perdana benih kelas benih inti Lumbu Putih di Kebun Percobaan Margahayu, Lembang, dengan luas lahan sekitar 4.000 meter persegi.

Dari kegiatan itu ditargetkan sekitar enam ton bawang putih basah untuk menjadi sumber benih pada tahapan produksi berikutnya.

Seleksi Ketat 

Produksi benih bermutu membutuhkan seleksi sejak tanaman masih berada di lahan. BRMP Sayuran menerapkan seleksi untuk memisahkan tanaman yang tidak sesuai karakter varietas maupun tanaman yang terserang penyakit.

Pada pertanaman Lumbu Putih tahun 2025, misalnya, seleksi dilakukan ketika tanaman berumur 30 hari setelah tanam.

Tanaman yang tidak sesuai tipe varietas atau menunjukkan gejala penyakit ditandai, kemudian dipisahkan atau dimusnahkan agar tidak mengganggu tanaman sehat.

Proses tersebut penting karena kualitas benih bukan hanya ditentukan oleh ukuran umbi. Keseragaman varietas, kesehatan tanaman, kemurnian genetik dan kemampuan tumbuh menjadi bagian dari penentuan mutu.

Dengan demikian, konsep “dari benih hingga panen” pada pengembangan bawang putih tidak sekadar slogan.

Setiap tahap saling berkaitan, mulai dari pemilihan varietas, produksi benih sumber, seleksi tanaman, perbanyakan, hingga pengujian teknologi budidaya.

Teknologi Budidaya

Selain perbenihan, BRMP Sayuran mengembangkan teknologi budidaya untuk mendorong hasil lebih tinggi.

Materi teknologi bawang putih yang ditampilkan BRMP Sayuran mencakup pendekatan budidaya terintegrasi, pengendalian hama dan penyakit, serta pengelolaan pemupukan.

Dalam teknologi yang diperkenalkan, pemupukan tidak berdiri sendiri, tetapi ditempatkan sebagai bagian dari pengelolaan tanaman secara terpadu.

Penggunaan pupuk kandang, pupuk buatan, serta pengaturan kondisi lahan diarahkan untuk mendukung pertumbuhan tanaman dan pembentukan umbi.

Penggunaan mulsa plastik hitam-perak juga menjadi salah satu komponen teknologi budidaya yang ditampilkan.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk membantu pengelolaan lingkungan pertanaman sekaligus mendukung pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Target teknologi yang ditampilkan BRMP Sayuran berada pada kisaran potensi lebih dari 25 ton per hektare.

Namun, angka tersebut perlu dipahami sebagai potensi teknologi atau varietas, bukan berarti seluruh pertanaman petani otomatis menghasilkan angka yang sama. 

Hasil aktual tetap dipengaruhi varietas, lokasi, ketinggian tempat, kondisi tanah, iklim, kesehatan tanaman, kualitas benih dan penerapan budidaya.

Data lapangan menunjukkan bahwa peningkatan hasil tersebut bukan sekadar angka di atas kertas. 

Dalam panen raya bawang putih di Dusun Pancot, Tawangmangu, Karanganyar, pada September 2025, produktivitas tercatat mencapai 23 ton per hektare. BRMP Sayuran menyebut capaian tersebut melampaui target awal kegiatan.

Capaian 23 ton per hektare itu sekaligus memperlihatkan bahwa teknologi, varietas unggul, pengelolaan tanaman dan kemitraan dapat menghasilkan produktivitas tinggi ketika diterapkan sesuai kondisi lapangan.

Kultur Jaringan 

Pengembangan bawang putih juga ditempatkan dalam ekosistem teknologi hortikultura yang lebih luas. Dalam materi BRMP Sayuran, teknologi kultur jaringan menjadi salah satu pendekatan perbanyakan bahan tanaman yang dikembangkan.

Teknologi tersebut penting terutama untuk menghasilkan bahan tanaman secara lebih terkontrol dan mendukung ketersediaan bahan perbanyakan dalam jumlah lebih besar.

Dalam konteks bawang putih, penguatan teknologi perbenihan dan pemurnian varietas menjadi bagian dari upaya membangun sistem benih nasional yang lebih mandiri.

Kementan juga menyatakan Indonesia telah memiliki modal teknologi berupa kultur jaringan, varietas unggul dan pemetaan lahan potensial.

Tantangannya adalah bagaimana seluruh modal tersebut dapat diterapkan secara konsisten dan diperluas melalui kerja sama lintas sektor.

BRMP Sayuran tidak hanya bekerja pada aspek penelitian dan teknologi. Pengujian serta penerapan di lapangan menjadi bagian penting untuk memastikan teknologi dapat menjawab persoalan nyata petani.

Kemitraan menjadi salah satu instrumen yang digunakan dalam pengembangan bawang putih.

Program kemitraan dengan pelaku usaha, pemerintah daerah dan petani menjadi ruang untuk menguji penerapan teknologi sekaligus membuka akses pasar.

Di Karanganyar, misalnya, kegiatan tanam bawang putih pada 2025 melibatkan pemerintah, pelaku usaha, importir, penyedia sarana produksi dan pihak terkait lainnya.

Pada tahap awal, luas tanam direncanakan mencapai 109 hektare di Tawangmangu dan Jatiyoso. Program tersebut diarahkan untuk mempercepat realisasi penanaman sekaligus mendukung target swasembada.

Kemitraan semacam itu menjadi penting karena persoalan bawang putih tidak berhenti pada produksi.

Petani membutuhkan benih, sarana produksi, teknologi, kepastian pasar dan dukungan kelembagaan agar peningkatan produktivitas memberikan dampak ekonomi.

Tantangan

Meski teknologi dan varietas telah tersedia, pemerintah masih menghadapi tantangan besar dalam mengejar kebutuhan nasional.

Kementan menyebut persoalan yang harus dibenahi mencakup keterbatasan produksi dan distribusi benih berkualitas, kelembagaan perbenihan, akses pembiayaan dan sarana produksi, hingga integrasi hulu-hilir.

Artinya, peningkatan produktivitas tidak dapat hanya mengandalkan satu teknologi.

Dibutuhkan sistem yang menghubungkan benih bermutu dengan budidaya yang tepat, pengendalian organisme pengganggu tanaman, pengelolaan iklim dan lahan, hingga pemasaran hasil.

BRMP Sayuran mengambil posisi pada mata rantai teknologi tersebut. Dari Lembang, benih sumber dan teknologi diuji, dikembangkan, kemudian diarahkan agar dapat diterapkan pada sentra-sentra produksi.

Langkah ini menjadi semakin strategis karena pemerintah kini menargetkan perluasan lahan tanam bawang putih secara signifikan.

Dalam keterangan Kementan pada April 2026, pemerintah menyebut target 100.000 hektare lahan tanam sebagai bagian dari upaya mengejar swasembada.

Jika target tersebut ingin menghasilkan produksi yang konsisten, kebutuhan terhadap benih berkualitas dan teknologi budidaya akan semakin besar.

Dengan demikian, cerita bawang putih nasional bukan hanya tentang umbi yang dipanen dari tanah.

Di belakangnya terdapat rangkaian panjang mulai dari pemilihan varietas, pemurnian genetik, produksi benih, seleksi tanaman, pengujian teknologi, pengelolaan hama dan penyakit, pemupukan, hingga penerapan di lahan petani.

BRMP Sayuran menjadi salah satu simpul dalam rantai tersebut.

Potensi produktivitas 15-25 ton per hektare pada varietas unggul yang disebut pemerintah, capaian lapangan 23 ton per hektare di Tawangmangu, serta produksi benih Lumbu Putih di Lembang menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas memiliki basis teknologi yang nyata.

Pekerjaan berikutnya adalah memperbesar skala penerapan. Sebab, bagi Indonesia, keberhasilan bawang putih tidak cukup diukur dari seberapa tinggi produktivitas satu petak lahan, tetapi dari kemampuan membangun sistem perbenihan dan produksi yang mampu memenuhi kebutuhan nasional secara berkelanjutan.

Dari benih hingga panen, penguatan itulah yang kini menjadi kunci agar bawang putih lokal tidak hanya semakin produktif, tetapi juga semakin kuat menopang kemandirian pangan Indonesia.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018