Thursday, 29 October 2026


Memacu Laju Swasembada Bawang Putih

16 Sep 2026, 09:51 WIBEditor : Yulianto

Webinar Swasembada Bawang Putih

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA---Pemerintah telah mengibarkan kembali bendera swasembada bawang putih. Targetnya dalam 3 tahun kebutuhan di dalam negeri dapat terpenuhi. Berbagai strategi pun disiapkan pemerintah.

Jika melihat perjalanan sejarah perkembangan bawang putih di dalam negeri, maka bangsa Indonesia pernah mempunyai pengalaman manis. Pada tahun 1995, Indonesia pernah mencapai swasembada bawang putih dengan produksi sebanyak 152.421 ton.

Namun, produksi bawang putih Indonesia terus menurun. Bahkan tahun 2023 hanya mencapai 39.438 ton. Akhirnya Indonesia menjadi importir bawang putih yang sangat besar.  Misalnya, tahun 2019 mencapai 602.745 ton, meski kemudian tahun 2025 menurun menjadi 525.640 ton. Bahkan tahun 2024, Indonesia menjadi pengimpor bawang putih terbesar di di dunia dengan jumlah 555.886 ton.

Dengan potensi sentra-sentra bawang putih seperti Temanggung (Jawa Tengah), Lombok Timur (Nusa Tenggara Barat), dan Enrekang (Sulawesi Selatan) yang pernah menyokong swasembada bawang putih, pemerintah mulai memprioritaskan pengembangan bawang putih di dalam negeri. Bahkan menjadikan bawang putih sebagai komoditas strategis yang mendapat dukungan anggaran khusus dan subsidi sarana produksi, termasuk pupuk.

Potensi Lahan

Saat webinar Dukungan Pupuk Bersubsidi untuk Percapatan Swasembada Bawang Putih yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bekerjamsa dengan PT. Pupuk Indonesia di Jakarta, Rabu (16/9), Direktur Perbenihan Hortikultura, Kementerian Pertanian Muhammad Agung Sunusi optimistis dengan potensi lahan yang ada untuk pengembangan bawang putih, Indonesia bisa kembali mencapai swasembada.

Data Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sumber Daya Lahan Pertanian (SDLP), potensi lahan untuk budidaya bawang putih mencapai 1,52 juta hektar (ha). Lahan tersebut berada di Pulau Sumatera seluas 699.048 ha, Jawa 327.081 ha, Kalimantan 14.065 ha, Sulawesi 247.232 ha, Bali dan Nusa Tenggara 180.454 ha, Maluku dan Papua seluas 55.577 ha.

Untuk tahun ini, pemerintah menetapkan luas lahan pengembangan bawang putih sebesar 5.000 ha. Terbesar di Jawa Tengah seluas 2.240 ha, NTB 762 ha, Sumatera Utara 563 ha, Jawa Timur 358 ha, kemudian Jawa Barat seluas 245 ha.

Namun Agung mengakui, banyak tantangan untuk mencapai swasembada bawang putih. Diantaranya, peningkatan daya saing dari aspek size dan harga, peningkatan konsumsi bawang putih lokal dan SDM dalam hal ini petani. Karena itu, pemerintah melakukan akselerasi percepatan produksi bawang putih dari hulu, hilir hingga dukungan APBN.

“Dengan tantangan impor bawang putih yang tinggi, harus ada langkah untuk menurunkan impor secara bertahap. Dari mulai swasembada benih hingga produksi. Pemerintah juga telah membuat skenario swasembada bawang putih,” tuturnya.

Skenarionya, pada tahun 2026 luas pengembangan untuk memproduksi benih seluas 5.000 ha dengan produksi benih sebanyak 20 ribu ton. Kemudian tahun 2027, luas tanam 20 ribu ha dengan produksi benih 80 ribu ton.

Pada tahun 2028, luas penanaman 80 ribu ha dengan produksi benih 120 ribu ton dan produksi bawang konsumsi sekitar 320 ribu ton. Pada tahun 2029, luas tanam mencapai 120 ribu ha dengan produksi benih 120 ribu ton dan produksi bawang konsumsi sebanyak 630 ribu ton.

Strategi yang pemerintah siapkan. Di bagian hulu, dengan riset peningkatan produktivitas bawang putih, baik ukuran umbi dan percepatan dormansi, serta teknologi budidaya untuk menghasilkan produktivitas tinggi. Sedangkan di hilir melalui promosi, akses pasar dan kemitraan.

”Saat ini kami juga telah mengusulkan penerbitan regulasi Harga Pembelian Pemerintah (HPP) bawang putih konde basah sebesar Rp 12 ribu/kg dan Harga Acuan Pemerintah konde benih kering Rp 46 ribu/kg,” ujarnya. 

Pengembangan Benih Unggul

Sementara itu, Kepala Pusat BRMP Hortikultura, Inti Pertiwi Nashwari juga mengakui masih ada  permasalahan bawang putih di dalam negeri. Diantaranya, keterbatasan lahan yang sesuai, ketersediaan benih bermutu belum memadai, produktivitas dan efisien budidaya masih rendah dan serangan hama penyakit.

Selain itu, biaya produksi juga masih tinggi, resiko gagal panen akibat iklim dan cuaca tinggi, daya saing bawang putih dalam negeri rendah terhadap bawang putih impor, serta kendala sarana dan prasarana pasca panen.

Dengan tantangan tersebut, BRMP Hortikultura menyiapkan strategis peningkatan produksi bawang putih. Salah satunya, penguatana sistem perbenihan  melalui perakitan varietas unggul baru (VUB) adatif perubahan iklim dan berada di dataran medium, serta teknologi perbenihan secara cepat dan massal seperti kultur jaringan.

Saat ini produksi benih sumber BRMP Hortikultura tahun 2026 seluas 177 ha dengan target 593 ton benih sumber. Lokasinya berada di Sumatera Utara 13 ha, Jambi 5 ha, Sumatera Selatan 3 ha, Jawa Barat 106 ha, Jawa Tengah 20 ha, Jawa Timur 5 ha dan NTB 25 ha.

“Kita juga terus mencari teknologi agar ke depan bawang putih juga bisa ditanam off season. Selain itu juga melakukan pemurnian untuk meningkatkan kelas benih. Kita lakukan kajian riset benih sumber. Selama ini banyak benih dari sentra produksi bawang putih banyak tercampur,” tuturnya.

BRMP Hortikultura juga menyiapkan SOP Budidaya Bawang Putih untuk bisa meningkatkan produktivitas hingga 20 ton/ha melalui teknologi Produksi Lipat Ganda (Proliga).  “Kami siapkan acuan cara budidaya yang baik dengan sistem pertanian modern. Dari mulai penggunaan benih, termasuk pupuk, tenaga kerja, resiko pasca panen dan biaya margin,” ujarnya.

Mendukung swasembada bawang putih, Vice Presiden Pengelolaan Pelanggan Pupuk Indonesia, Robin Radhian Lee menilai, pemupukan menjadi faktor kunci peningkatan produktivitas bawang putih dengan kontribusi sebanyak 25 persen. Karena itu, Robin menegaskan, perlu optimalisasi penggunaan pupuk subsidi bawang putih agar tercapai lima tepat sasaran yakni Tepat Sasaran, Tepat jenis, Tepat Dosis, Tepat Waktu dan Tepat Cara.

Menurut Robin, keseimbangan rasio N, P, K, dan Sulfur (S) sangat krusial dalam menentukan laju fotosintesis, pembentukan anakan, hingga aroma dan kekerasan umbi. Pupuk Indonesia telah merekomendasikan acuan standar nasional untuk mencapai target potensi produktivitas panen 10–15 ton umbi basah per hektar.

Untuk dosis pupuk urea sebanyak 300 kg/ha yang diaplikasikan pada fase vegetatif 15 Hari Setelah Tanam (HST) dan  35 HST. Kemudian dosis NPK 15-15-15 sebanyak 600 kg/ha yang diaplikasikan bertahap 15 HST, 35 HST, dan dominan di 50-55 HST. “Pemberian nutrisi secara bertahap untuk mencegah pemborosan akibat penguapan dan pencucian air hujan,” ujarnya.

Robin menegaskan, pihaknya mendukung pemerintah untuk mencapai swasembada. “Kami siap berkolabroasi untuk meningkatkan pencapaian bawang putih,” katanya. 

Bagi Sahabat SINAR TANI yang telah mengikuti webinar, bisa mengunduh e-sertifikat dan mendapatan materinya di link bawah ini:

Materi : Klik Disini
Esertifikat : Klik Disini
Esertifikat Berdasarkan Nomor : Klik Disini

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018