Thursday, 29 October 2026


Bukan Soal Produksi! Ini Biang Kerok Ekspor Tanaman Hias Jawa Barat Seret ke Pasar Dunia

28 Oct 2026, 14:51 WIBEditor : Gesha

Produksi melimpah, tapi ekspor tanaman hias Jawa Barat justru melemah. Barantin ungkap hambatan yang selama ini jarang disadari pelaku usaha.

TABLOIDSINARTANI.COM, Bandung – Produksi melimpah, tapi ekspor tanaman hias Jawa Barat justru melemah. Barantin ungkap hambatan yang selama ini jarang disadari pelaku usaha.

Tanaman hias Jawa Barat dikenal subur dan beragam, tapi ekspornya justru seret. Badan Karantina Indonesia (Barantin) membeberkan biang keroknya.

Hal itu terungkap dalam webinar Go Ekspor BARANTIN edisi ke-14 bertema "Kupas Tuntas Tanaman Hias Jawa Barat Tembus Pasar Dunia", Rabu (28/10/2026). 

Acara digelar Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Karantina dan diikuti pelaku UMKM, penyuluh pertanian, akademisi, mahasiswa, serta perwakilan kementerian dan lembaga.

Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Barat, drh. Cahyono, membeberkan data yang bikin prihatin. 

Sepanjang 2025, balainya menyertifikasi sekitar 277 ribu batang tanaman hias untuk diekspor. Namun hingga September 2026, jumlahnya baru sekitar 53 ribu batang.

Menurut Cahyono, kondisi pasar global memang sedang tidak baik-baik saja. Karena itu, pelaku usaha perlu bergerak bersama mencari pasar baru. 

Tahun lalu pun naik turunnya tajam. Ekspor tertinggi terjadi pada Juli dengan 37.850 batang, sedangkan terendah pada April dengan 9.720 batang.

Padahal modal Jawa Barat tidak main-main. Sentra produksinya tersebar di Kabupaten Bandung Barat, Bogor, Cimahi, Kuningan, dan Sukabumi. 

Jenis yang digemari pasar dunia antara lain aroid dan sukulen. Tanamannya sudah menembus sedikitnya 47 negara, dengan tujuan besar seperti Thailand, Tiongkok, Singapura, Amerika Serikat, dan Belanda.

Lalu apa yang bikin ekspor tersendat? Cahyono menunjuk biaya logistik sebagai hambatan yang paling berat.

Banyak penerbangan langsung dari Indonesia tidak tersambung ke negara tujuan akhir. Padahal tanaman hidup tidak bisa menunggu lama di jalan, sebab kualitasnya cepat turun.

Pesaing terdekat, Thailand, punya keunggulan karena rute penerbangan langsungnya hampir menjangkau semua negara tujuan. 

Akibatnya, sebagian tanaman hias Indonesia belum bisa dikirim langsung ke Uni Eropa dan Amerika Serikat, dan masih mampir lewat negara perantara.

Cahyono berharap perjanjian dagang Indonesia dengan Uni Eropa bisa membuka jalan, karena Eropa disebut pasar besar bagi tanaman hias Tanah Air.

Masalah berikutnya ada di kebun dan nursery. Menurut Cahyono, banyak UMKM belum mampu memenuhi jumlah dan kesinambungan pasokan yang diminta pasar ekspor.

"Pembeli luar negeri butuh barang yang datang rutin, seragam, dan sehat, bukan sekali kirim lalu berhenti," tukasnya.

Analisis SWOT dari BKHIT Jawa Barat menegaskan hal serupa. Kelemahannya meliputi konsistensi mutu, skala usaha, pengelolaan nursery, ketertelusuran atau traceability, dan biaya logistik. 

Soal ketertelusuran, asal tanaman harus tercatat jelas, mulai dari indukan sampai rumah kemas. Tanpa data itu, ekspor langsung ke negara tujuan sulit dibuka.

Karena itu, strategi utamanya bukan sekadar menambah produksi. Yang digenjot adalah mutu, kesehatan tanaman, konsistensi, ketertelusuran, dan nilai per tanaman. 

Peluang nilai tambah ada pada tanaman asli Indonesia yang tidak dimiliki negara lain dan dihargai istimewa.

Banyak pelaku usaha juga terjegal urusan administrasi. Persyaratan fitosanitari setiap negara tidak sama.

Eksportir perlu mengecek izin impor, apakah jenis tanamannya dilarang atau masuk daftar CITES, organisme pengganggu tumbuhan yang disasar, bagian tanaman yang dikirim, hingga redaksi sertifikat dan pernyataan tambahan.

Agar tidak kena tolak, Barantin mengajak pelaku usaha memanfaatkan klinik ekspor yang ada di setiap balai karantina provinsi. 

Kepala PPSDM Karantina, Wisnu Wasita Putra, meminta masyarakat tidak sungkan datang ke kantor karantina untuk bertanya soal persyaratan komoditas dan negara tujuan.

Pelaku usaha yang masih ragu juga bisa berkonsultasi soal jenis tanaman yang cocok dan negara yang pasarnya terbuka. 

Menurut Wisnu, peran Barantin tidak berhenti sebagai penjaga pintu masuk dan keluar negara, tetapi juga penguat ekonomi bagi UMKM dan eksportir. 

Wisnu menegaskan, tantangan utama dari ekspor adalah memastikan kiriman diterima di negara tujuan tanpa notifikasi ketidaksesuaian. 

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018