Senin, 22 April 2019


Ini Dia Dobel Manfaat dari Budidaya Cabai Ramah Lingkungan

10 Peb 2019, 11:28 WIBEditor : Gesha

Petani cabai di OKU Selatan sudah merasakan dobel manfaat dari penerapan budidaya cabai ramah lingkungan | Sumber Foto:HUMAS HORTIKULTURA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Ogan Komering Ulu --- Budidaya cabai ramah lingkungan kini tengah digalakkan di berbagai daerah sentra karena telah terbukti memberikan dobel manfaat.

Salah satu sentra yang telah melakukan budidaya cabai ramah lingkungan adalah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan di Provinsi Sumatera Selatan. Sentra produksi tersebut tersebar di beberapa kecamatan antara lain Pulau Beringin, Sungai Are, Sindang Danau dan Warkuk Ranau Selatan.

Berdasarkan data Ditjen Hortikultura, produksi cabai di wilayah ini pada 2018 sebesar 8096 ton. Angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya sejumlah 3420 ton.

Kabid Hortikultura Kabupaten OKU Selatan, Tardi mengatakan Kecamatan Pulau Beringin adalah sentra utama cabai di OKU Selatan. Daerah ini merupakan kawasan cabai dengan sentra utamanya yaitu Desa Tanjung Kari, Desa Simpang Pancur, Desa Tanjung Bulan dan Desa Aromantai. Salah satu kelompok tani di daerah ini menerima bantuan kawasan pengembangan cabai melalui dana APBN 2018 seluas 5 hektare

Selama ini, satu hal yang ditakutkan petani karena dapat menurunkan produksi yakni serangan OPT (Organisme Pengganggu Tumbuhan). Jenis OPT yang sering menyerang cabai di daerah ini adalah trips, kutu kebul, lalat buah dan antraknosa. Namun demikian serangannya masih tergolong wajar dan dapat ditangani.

“Pengendalian OPT ramah lingkungan (RAMLI) sudah disosialisasikan disini. Salah satu kegiatannya adalah memperkenalkan cara pembuatan Trichoderma, PGPR, perangkap likat kuning dan perangkap lalat buah,” ujar Kasi Perlindungan Tanaman Hortikultura BPTPH Sumsel, Yosi Utama.

Kelompok Tani Tebet Gayat, Desa Tanjung Bulan Ulu, Kecamatan Pulau Beringin merupakan salah satu kelompok yang sudah mendapatkan pelatihan penerapan pengendalian OPT ramah lingkungan. Cabai  yang diusahakan petani adalah cabai keriting dengan varietas Rimbun dan Priyayi.

"Panen cabai bisa dilakukan sampai 16 kali. Harga cabai saat ini relatif stabil dan masih menguntungkan," tutur anggota kelompok tani, Yohan.

Kasi Sarana Pengendalian OPT Sayuran dan Tanaman Obat, Enung Hartati Suwarno mengapresiasi dan terus menghimbau petani untuk menggunakan sarana pengendalian OPT ramah lingkungan, karena banyak keuntungannya.

“Mengurangi biaya pestisida kimia yang mahal, petani sehat, cabai yang dihasilkan aman konsumsi dan kelestarian lingkungan terjaga.”

Ditanyakan mengenai dukungan Ditjen Hortikultura, Enung menyatakan, “Dukungan anggaran untuk pengendalian OPT tahun ini sama seperti tahun lalu, yakni bantuan kawasan pengembangan cabai melalui dana APBN 2019 seluas 5 hektare,” lanjutnya.

Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf dalam kesempatan terpisah menyampaikan bahwa Kementerian Pertanian tidak pernah bosan mengajak petani untuk berbudidaya hortikultura ramah lingkungan.

“Penggunaan pestisida kimia adalah pilihan terakhir dalam pengendalian OPT. Dalam penggunaannya harus perhatikan 6 prinsip yaitu tepat sasaran, mutu, jenis pestisida, waktu, dosis dan konsentrasi serta cara penggunaannya. Prinsip tersebut dilakukan agar hasil yang diperoleh efektif,” tutupnya.

Reporter : Enung Hartati
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018