Selasa, 26 Maret 2019


Siasat Menang dari Serbuan Cabai Kering Impor

18 Peb 2019, 16:35 WIBEditor : Ahmad Soim

Cabe merah kering impor | Sumber Foto:Soekam P

Di pasaran beredar Cabe Merah Besar kering. Harga jual grosiran cabe kering impor dari India itu di Pasar Induk Paskomnas – Tanah Tinggi Tangerang sekitar Rp35.000,-/kg

Oleh Soekam parwadi - Direktur Paskomnas Indonesia

 

TABALOIDSINARTANI.COM - Selagi sambal itu rasanya masih harus pedas, agaknya cerita tentang cabai itu tidak akan ada habisnya.  Kali ini, dari berbagai daerah di Indonesia terdengar berita tentang rendahnya harga berbagai jenis cabai.


Daerah Banyuwangi, Blitar dan Kediri yang menjadi sentranya cabai rawit, saat ini sedang panen dengan luasan sekitar 900 ha, harga cabai paling pedas itu di tingkat petani berada di bawah Rp5.000,-/kg.

Begitu kata Nanang, pelaku usaha cabai yang memiliki pekerja lebih dari 300 orang itu ngobrol di warung kopi minggu lalu.

“Padahal di belakangnya tanaman yang sekarang panen ini Pak, ada sekitar 1.600 ha lagi tanaman cabai  yang usianya masih “remaja” dengan buah pada tahap “pentil”. Itu akan panen sekitar sebulan lagi Pak, mungkin sekitar pertengahan Maret, katanya sambil cemberut.

Itu informasi lapangan yang dapat menjadi prediksi ke depan. Artinya, kalau semua tanaman bertumbuh dan panen normal, dalam waktu beberapa bulan ke depan harga cabai rawit merah akan terus rendah.

Tetapi kalau ada gangguan proses budidaya, semuanya dapat berubah. Kondisi Cabai Merah Kriting (CMK) juga mengalami harga turun hingga di bawah Rp10ribu/kg.

Penyebabnya sama, pasokan melimpah karena diawal musim penghujan 2018 lalu, semua petani yang biasa menanam Cabai, mulai tanam beramai-ramai. Akibatnya, panen bersamaan pada akhir bulan Desember lalu hingga sekarang.

Sementara itu untuk cabai merah besar (CMB) , sudah hampir dua tahunan, harga jual pedagang secara grosiran di Pasar Induk Paskomnas Indonesia di Tanah Tinggi – Kota Tangerang cukup stabil baik antara Rp16 s.d 28ribu/kg.

Dalam situasi harga cabai di pasar dalam negri rendah seperti ini, di pasaran beredar cabai impor, khususnya cabai merah kering.

Harga jual grosiran cabai kering impor dari India itu di Pasar Induk Paskomnas – Tanah Tinggi Tangerang sekitar Rp35.000,-/kg.

Dari data harga cabai kering impor ini kalau dibuat analisa atau “itung-itungan”, maka akan nampak posisi daya saing produk cabe kita di pasaran. Berdasarkan informasi dari Balai Besar Pasca Panen, milik Kementan di Bogor, rendemen cabe kering dari Cabai merah besar (CMB) basah kita sekitar 20 – 25%.

Artinya kalau kita pakai angka 20%, setiap 1 kg cabe kering diperlukan CMB  basah 5 kg. Kalau missal BEP CMB basah dipetani sebesar Rp7.000,-/kg, maka bahan pokoknya saja sudah bernilai Rp35.000,-.

Ongkos pengeringannya dan laba petani 30 persen dari BEP, bisa jadi harga jual CMB kering petani kita sekitar Rp50.000/kg. Kalau ditambah biaya kemasan, distribusi dan laba pedagang pasar induk sebesar Rp10ribu saja, maka harga grosiran dipasar induk harus Rp60.000.-/kg.

Hitungan itu jelas menggambarkan betapa lemahnya daya saing Cabai kita di pasar, menghadapi serangan cabe impor.

Perlu diketahui, kabarnya Cabai impor itu sampai digudang pengimport di Jakarta harganya hanya sekitar Rp23.000,-/kg.

Artinya, kalau pengimpor dan pedagang pasar induk mau turunkan harga jual, maka keduanya tinggal mengurangi labanya. Artinya masih memiliki kekuatan untuk bersaing.

Ada pertanyaan, mengapa cabai kering import dapat semurah itu…?. Jawabnya dapat diraba, karena mereka pasti berproduksi secara efisien.

Sama dengan harga Bawang putih, Jeruk, beras import yang begitu murahnya di pasaran kita, karena harga pokok yang rendah diproduksi.

Semua karena biaya produksi yang rendah sehingga dengan harga jual yang tidak harus tinggi, petani sudah untung. Dengan harga jual yang rendah, produk mereka akan menguasai pasar, omzetnya besar dan ujung-ujungnya labanya juga menjadi besar.

Bagaimana kira-kira masa depan cabai kering ini, ada beberapa perkiraan.

Dalam waktu dekat, agaknya serapan konsumen terhadap cabai kering masih rendah. Konsumen masih banyak yang mengkonsumsi cabe segar, terutama untuk memenuhi selera konsumen “tua”.

Namun bagi generasi “milenial”, bisa jadi akan berubah. Mereka yang muda ini tidak mempedulikan aroma cabai, tetapi lebih pada rasa.

Yang penting pedas dan praktis. Cabai segar itu daya tahannya terbatas, beberapa hari kemudian sudah busuk yang kalau dimakan dapat bikin sakit perut.

Anak muda nanti akan memilih cabai kering yang sudah diubah menjadi tepung-cabai atau saus-cabai yang dikemas, sehingga untuk mengkonsusinya praktis dan aman dari basi.

Dengan prediksi itu, ada dua hal yang mesti dilakukan untuk usaha budidaya tanaman cabai di Indonesia.

Untuk menekan biaya produksi, penanaman cabai sebaiknya fokus di musim kemarau, sehingga dapat menggunakan teknologi padat populasi, biaya murah dan produksi tinggi.

Artinya BEP dapat rendah mendekati angka Rp3.000,/kg. Setelah itu, cabai djual segar dalam jumlah terbatas sesuai dengan kebutuhan pasar dan lainnya diolah.

Musim penghujan area tanam harus dibatasi untuk mengurangi resiko gagal karena alam dan hama/penyakit.

Hal kedua adalah dibangun lembaga usaha cabai milik petani yang melakukan penguasaan Cabai saat panen raya dan industry pengolahan Cabai.

Artinya, industri ini masih milik petani secara kooperatif, sehingga laba industri itu dapat dinikmati petani sebagai tambahan pendapatan.

Dua usaha itulah mungkin konsep makronya mengurus cabe secara nasional, agar tidak terus-menerus menjadi masalah dipetani dan konsumen, termasuk pemicu inflasi di berbagai daerah.

BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018