Selasa, 22 Oktober 2019


Mengintip Potensi Si Naga Merah Bersisik dari Subang

13 Jun 2019, 16:39 WIBEditor : Gesha

Budidaya buah naga ini dilakukan sejak 2012 dan keuntungannya cukup menjanjikan. | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

Buah naga yang ditanam adalah jenis buah naga merah seluas kurang lebih 16 hektare dan buah naga kuning sekitar 4 hektare. Benih buah naga yang dibudidayakan berasal dari Jember.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Subang --- Jika selama ini Subang dikenal sebagai daerah penghasil nenas dan manggis, ternyata Subang juga punya buah naga. Buah asal Amerika Tengah ini sudah dibudidayakan di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia.

Sentra si buah bersisik ini salah satunya ada di Desa Cirangkong, Kecamatan Cijambe. Disana terdapat perkebunan seluas 20 hektar yang dikelola swasta dan menaungi 75 orang pekerja.

Buah naga yang ditanam adalah jenis buah naga merah seluas kurang lebih 16 hektare dan buah naga kuning sekitar 4 hektare. Benih buah naga yang dibudidayakan berasal dari Jember.

Budidaya buah naga ini dilakukan sejak 2012 dan keuntungannya cukup menjanjikan. Bagaimana tidak, panen bisa sepanjang tahun karena penyerbukan dilakukan pada malam hari secara manual dengan memakai teknologi lampu untuk merangsang pembungaan.

Populasi tanam per hektare sebanyak adalah 4.000 pohon atau terdiri dari 1.000 tiang di mana tiap tiang 4 pohon.

Tidak ada kendala dalam pemasaran hasil panennya. Sebanyak 60 persen hasil produksi dipasarkan ke pasar modern di Jakarta dan Bandung dengan harga per kg antara Rp 30 - 35 ribu dan saat panen raya bisa mencapai Rp 18 ribu per kilogram.

Diekspor

Sebagian produksi buah naga dari Desa Cirangkong sejak 2013 sudah diekspor ke Timur Tengah (Arab Saudi, Kuwait, dan Dubai) serta Eropa (Jerman, Inggris, dan Belanda).

"Sampai dengan saat ini, ekspor buah naga dari perusahaan masih berlangsung ke beberapa negara dengan total ekspor bervariasi tergantung permintaan dari negara tujuan ekspor," ujar Manager Pemasaran PT. Trisna Naga Asih, Rully.

Buah naga sendiri sudah mendapatkan sertifikat Global GAP. Sertifikat Global GAP adalah sistem sertifikasi produk yang menerapkan pendekatan sistem produksi untuk memastikan keamanan produk buah segar untuk dikonsumsi.

"Buah naga merupakan salah satu komoditas potensi ekspor. Dalam waktu dekat ekspor buah naga ke Cina akan dibuka dan Cina menjadi pasar yang potensial," ujar Pelaksana Tugas Direktur Buah dan Florikultura, Yanti.

Berdasarkan angka BPS, pada 2018 volume ekspor buah naga dan sapodila mencapai 76 ton atau senilai Rp 2 miliar. Dirinya berharap dengan terbukanya pasar Cina, petani buah naga makin meningkatkan semangat untuk berbudidaya buah naga yang baik dan benar.

 

Reporter : Apriyanti Ragonda
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018