
Lahan marginal bisa dibudidayakan buah naga
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Tanaman pangan maupun hortikultura membutuhkan nutrisi yang cukup dari tanah atau lahan budidaya. Akar tanaman berfungsi untuk menyerap unsur hara dan mineral yang dibutuhkan agar dapat tumbuh dan berkembang optimal.
Dibutuhkan lahan yang subur dan gembur serta penambahan pupuk baik organik dan kimia dengan tujuan untuk mendapatkan hasil panen maksimal. Namun ada hal unik dan cukup berbeda dengan tanaman buah naga.
Buah yang diperkirakan berasal dari negara Meksiko dan Guatemala di Amerika Selatan ini memiliki karakteristik yang cukup adaptif dengan berbagai kondisi lahan, termasuk lahan marginal. Lahan ini sangat rendah dari sisi kesuburan tanahnya, baik sifat fisik, biologi maupun kimia, serta ketersediaan air yang kurang mencukupi.
“Budidaya buah naga berhasil kami lakukan di banyak lahan marginal di beberapa daerah,” kata Gun Sutopo praktisi budidaya buah naga saat Pelatihan online; Sukses Budidaya Buah Naga yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Sabtu (7/8).

Pemilik usaha budidaya Sabila Farm ini menambahkan, semua jenis lahan bisa ditanami buah naga, termasuk lahan miskin atau marginal. Sedangkan untuk ketinggian lahan ideal antara 0 – 1000 di atas permukaan laut (DPL).
BACA JUGA:
Sukses-Budidaya-Buah-Naga-Gun-Soetopo-Bertani-dengan-Hati
Asroful-Uswatun-Ratu-Buah-Naga-dari-Jember
Bahkan menurutnya, budidaya buah naga bisa dilakukan pada lahan cadas kering yang mencakup lahan tadah hujan, tegalan, lading kebun campuran maupun lahan perkebunan. Bisa juga dilakukan di hutan, semak belukar, padang rumput maupun padang alang-alang. Hal penting yang harus diperhatikan menurut Gun, adalah ketersediaan atau paparan sinar matahari harus maksimal.
Pada lahan karst yang kering berbatu di perbukitan, Gun juga berhasil mengembangkan tanaman buah naga dengan menggandeng petani di daerah Parang Racuk Techno Park, Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta pada tahun 2012 lalu. “Kami kembangkan juga di Sabiin Farm, Giri Jati, Gunung Kidul serta di Kebun Roslin di wilayah Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur,” tuturnya.
Sementara itu khusus di lahan gambut, Gun berhasil memanfaatkan lahan yang cenderung basah ini di daerah Jambi dan beberapa lokasi di Kalimantan. Khusus di Kalimantan Barat, ada pengalaman menarik Gun saat memberikan pelatihan selama 2 hari pada 200-an petani dari suku dayak pedalaman.
Saat panen buah naga yang ditanam di lahan seluas 20 hektar (ha) milik mereka ternyata rasanya lebih manis dibandingkan lahan lain. Tingkat kemanisannya di angka 21 Brix, sedangkan di lahan lain hanya di angka 16 Brix.
Ada juga lahan disposal Pulau Kalimantan dan lainnya yang Gun coba budidaya. Lahan disposal adalah lahan bekas tambang batubara yang diisi dengan material buangan yang diurug dengan tanah. “Ada banyak manfaat yang bisa didapat budiadaya tanaman pada lahan jenis ini,” ujar Gun.
Misalnya ungkap Gun, bisa meningkatkan kadar bahan organik, N total, C Organik, Porositas dan K yang terdapat dalam tanah. Selain itu, akan memperlama umur vegetasi dan makin menurunkan berat volume dan berat jenis tanah.