Sabtu, 24 Agustus 2019


Sebentar Lagi Panen, Petani Tak Ingin Ada Impor Cabai

07 Agu 2019, 16:18 WIBEditor : Yulianto

Petani cabai | Sumber Foto:Yulianto

Tidak semua petani menikmati harga cabai yang saat ini sedang tinggi. Sebab, sebagian besar petani sudah tidak menikmati karena tanamannya sudah tidak berproduksi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kalangan petani cabai berharap pemerintah tak membuka keran impor cabai. Sebab kebijakan itu justru akan menurunkan semangat petani menanam komoditas pangan strategis ini.

Terlebih saat ini petani sedang menikmati harga yang pantas. Apalagi harga cabai diprediksi akan kembali turun memasuki musim panen puncak pada akhir bulan ini. “Harga bagus kan nggak lama. Sebentar lagi juga sentra-sentra cabai akan memasuki panen, harga pasti berangsur turun kok," kata Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jawa Timur, Nanang.

Bahkan petegas Nanang, petani siap membantu operasi pasar dengan menjual di bawah harga pasar. Sebenarnya kami pun tidak ingin harga tinggi-tinggi. Ujung-ujungnya kami juga yang dirugikan kalau sampai beneran ada impor cabai,” ujarnya.

Ketua AACI, Dadih Sudiana mengatakan, tidak semua petani menikmati harga cabai yang saat ini sedang tinggi. Sebab, sebagian besar petani sudah tidak menikmati karena tanamannya sudah tidak berproduksi. “Hanya 5 persen yang menikmati harga tinggi,” katanya.

Ketua Paguyuban Petani Cabai Indonesia di Kabupaten Kediri, Suyono mengaku telah melakukan pemantauan ke beberapa daerah sentra. Daerah-daerah yang akan panen mulai akhir Agustus antara lain Situbondo 1.000 ha, Jember 1.500 ha dan Banyuwangi 2.000 ha.

Karena itu ia memprediksi harga akan menurun sampai normal pada pertengahan September. Tolong, sekali lagi jangan sampai ada impor terlebih saat memasuki panen raya cabai,” tegasnya.

Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia, Tunov Mondro Atmojo, langsung bergerak cepat mengarahkan petani binaannya di wilayah Magelang dan sekitarnya untuk membanjiri pasar Jakarta dengan cabai hasil panennya. “Saya tidak rela petani harus dikorbankan apalagi kalau hanya ambisi importir yang mementingkan urusannya sendiri,” tegasnya.

Pengamat Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor, Prima Gandhi menilai, kenaikkan harga cabai karena produksi yang terkonsentrasi di salah satu masa panen. Misalnya, pada awal Januari tahun ini stok cabai melimpah dan harga jualn turun, sehingga petani merugi.

Kalau saat ini naik, impor jangan dulu dilakukan agar petani merasakan untung,” katanya. Namun demikian, menurut Prima, harga cabai juga perlu diantisipasi lonjakannya karena merupakan salah satu faktor penyumbang inflasi.

Gandhi mendukung pemerintah yang berupaya memastikan cabai dapat dipanen sepanjang musim, sehingga tak ada kelebihan atau kekurangan pasokan. Apalagi pemerintah sudah membantu petani melalui modal dan teknologi agar produksi cabai tidak boleh berkumpul di satu musim, sehingga harga tidak naik atau turun banyak.

Kasubdit Aneka dan Sayuran Buah, Direktorat Jenderal Hortikultura, Mardiyah Hayati, di sela-sela memimpin acara rapat koordinasi dengan petugas dan petani cabai di sentra utama wilayah Jawa di Solo, Selasa (6/8) mengatakan, saat ini produksi cabai kurang maksimal karena dampak kemarau di beberapa sentra utama, terutama di Banyuwangi, Kediri dan Blitar.

Kondisi tersebut diperberat dengan fakta bahwa pembentukan harga cabai sampai saat ini tidak ada yang mengawasi. Semua masih mengikuti mekanisme pasar yang belum tentu adil buat petani. Penanganan stok ketika panen raya juga belum tertangani sehingga saat panen melimpah, sehingga petani harus menanggung harga rendah.

Untuk mengangkut cabai dari daerah sentra ke non-sentra masih dihadapkan pada biaya kargo atau distribusi yang makin mahal. Tolong semua pihak bisa lebih bijak menyikapi kondisi saat ini. Hati-hati menyebut kata impor," katanya

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018