Minggu, 18 Agustus 2019


Bertanam Cabai di Lahan Berpasir, 1 Pohon Mampu Panen 2 kg !

09 Agu 2019, 15:00 WIBEditor : Gesha

Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto memperlihatkan hasil panen dari lahan berpasir di Kulonprogo | Sumber Foto:HUMAS HORTIKULTURA

Umur tanaman cabainya dalam 75 hari sudah dapat dipanen. Petani sekitar juga disiplin untuk mengganti komoditas tanamannya apabila sudah 12 sampai 15 kali panen.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Kulonprogo --- Bertanam cabai ternyata bisa dilakukan di mana saja asalkan aspek unsur hara mampu terpenuhi. Termasuk yang dilakukan oleh petani Kulonprogo yang berada di pinggiran Pantai Trisik. Dari satu pohon cabai saja bisa dipanen sebanyak 2 kilogram dan mampu panen sepanjang tahun.

Pemandangan unik dan menarik tersebut ketika Dirjen Hortikultura Prihasto Setyanto berkunjung ke Kulonprogo. Dirinya melihat aneka cabai rawit varietas Hilux tumbuh subur di lahan berpasir dengan hasil yang menggembirakan.

"Satu pohon bisa 2 kilogram dan ini sudah 12 kali panen, pak. Hasilnya bagus dan ukuran buahnya besar-besar. Tiap harinya kami bisa kirim hingga ke lima titik di Jakarta. Pokoknya hasilnya berlimpah,” ujar Ketua Kelompok Tani Sidodadi Ngatimin kepada Prihasto.

Ngatimin juga bercerita bahwa umur tanaman cabainya dalam 75 hari sudah dapat dipanen. Petani sekitar juga disiplin untuk mengganti komoditas tanamannya apabila sudah 12 sampai 15 kali panen. Mereka menjaga betul komitmen ini sebagai upaya memutus siklus hama. Tidak hanya sekedar bertanam, Ngatimin bersama petani lain juga mengembangkan benih lokal. Upaya ini dilakukan agar petani mandiri dan tidak ketergantungan produksi benih yang dijual di pasaran.

Seakan tidak percaya, Prihasto melihat satu per satu tanaman di bawah sinar matahari pekat dan lahan berpasir, komoditas pedas ini mampu mewarnai lahan yang hampir disebut sulit ditanami tersebut.

“Ini luar biasa ya, dengan bermodalkan pupuk kandang kotoran ayam dan air, cabai bisa tumbuh subur di sini. Bahkan bisa mengisi pasar Jakarta,” ujar Anton semangat.

Tak berlokasi jauh dari areal Ngatimin, Anton kembali menyambangi petani yang tengah menyirami tanamannya. Secara spontan dirinya mencicipi air yang digunakan untuk menyiram sebidang lahan yang ternyata tidak asin.

“Kembali kita harus bersyukur. Di lahan yang 10 tahun lalu terbengkalai, tumbuh subur cabai. Mulai dari cabai rawit hingga cabai keriting. Airnya pun berlimpah dan meski dekat bibir pantai, ini air tawar,” ujarnya senang.

Sebagai bahan informasi, pengelolaan lahan berpasir untuk tanam cabai tidaklah sulit. Pasir cukup diberi pupuk kandang sebagai unsur hara dan memperhatikan jadwal penyiraman. Untuk tanaman cabai rawit, penyiraman dilakukan tiap tiga hari sekali. Sementara untuk cabai keriting atau cabai besar, penyiraman dilakukan setiap hari.

"Saya terharu, anugerah Allah ternyata luar biasa, lahan berpasir yang sangat miskin unsur hara ternyata bisa bermanfaat buat masyarakat disekitar sini, dengan semangat masyarakatnya yang luar biasa didukung oleh sumber air tanah yang melimpah dan dangkal di lahan pasir laut ini bisa memberi kesejahteraan buat masyarakatnya, betul kata pepatah if there is a will, there is a way" pungkasnya.

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018