
Penyuluh Pantar Tengah bersama petani
TABLOIDSINARTANI.COM, Pantar Tengah --- Musim panen 2026 membawa kabar menggembirakan bagi para petani di Kecamatan Pantar Tengah, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.
Curah hujan yang stabil sepanjang musim tanam 2025/2026 membuat hasil padi ladang dan jagung meningkat tajam dibandingkan beberapa tahun terakhir.
Melimpahnya hasil panen membuat sebagian petani bahkan mengaku “bingung” menentukan kebun mana yang harus dipanen lebih dulu. Banyak petani di wilayah ini memiliki lebih dari satu lahan, baik untuk padi maupun jagung, dan hampir semuanya menghasilkan panen yang baik.
Aktivitas panen kini berlangsung hampir setiap hari. Sebagian dilakukan secara gotong royong dalam kelompok, sementara lainnya dikerjakan secara perorangan.
Musim tanam kali ini dinilai jauh lebih baik dibanding beberapa tahun sebelumnya yang sering terganggu curah hujan tidak menentu. Kondisi cuaca yang mendukung membuat tanaman tumbuh optimal sehingga produksi meningkat.
Meski panen melimpah, panen padi tetap membutuhkan biaya cukup besar karena melibatkan banyak tenaga kerja. Biaya konsumsi selama panen biasanya mencakup beras, hewan ternak seperti babi atau kambing, gula, kopi, rokok, hingga minuman tradisional seperti tuak.
Untuk satu kebun dengan luas lebih dari satu hektare, biaya konsumsi saat panen bahkan bisa mencapai lebih dari Rp8 juta.

Berbeda dengan padi, panen jagung relatif lebih ringan karena tidak membutuhkan tenaga kerja sebanyak panen padi. Namun bagi petani Pantar Tengah, besarnya biaya tersebut bukan menjadi penghalang.
Bertani tetap menjadi pekerjaan utama yang dijalani masyarakat dari musim ke musim.
Sebagian petani bahkan mampu menanam jagung hingga dua kali dalam setahun. Jagung hibrida biasanya ditanam pada November hingga Januari untuk dijual ke pasar, sedangkan padi ditanam sebagai persediaan pangan keluarga selama satu tahun.
Selain tanaman pangan, petani juga mengandalkan komoditas perkebunan seperti jambu mete dan kelapa untuk menambah pendapatan. Kedua tanaman ini relatif mudah dikelola karena tidak membutuhkan perawatan rumit.
Kelapa biasanya dijual mentah atau diolah menjadi kopra dan minyak kelapa. Pada musim hujan, harga kelapa mentah berkisar Rp6.000 hingga Rp8.000 per kilogram.
Sementara itu, padi jarang dijual dalam jumlah besar karena lebih diprioritaskan untuk kebutuhan pangan keluarga. Namun beras hitam atau ketan hitam memiliki nilai jual lebih tinggi dan bisa mencapai sekitar Rp25.000 per kilogram jika dipasarkan ke luar daerah.
Kecamatan Pantar Tengah sendiri dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Pulau Pantar. Produksi pertanian dari wilayah ini setiap tahun cenderung lebih tinggi dibanding kecamatan lain di pulau tersebut.
Panen tanaman pangan tahun ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga Mei–Juni 2026 karena waktu tanam yang tidak serentak, yakni mulai akhir Oktober hingga awal Januari.
Pada musim tanam ini juga muncul inisiatif menarik dari mantan Rektor Universitas Tribuana Kalabahi, Alfons Gorang, yang membuat demplot jagung hibrida seluas tiga hektare di Desa Tude, Kecamatan Pantar Tengah. Lahan percontohan ini diharapkan dapat memotivasi petani mengembangkan jagung hibrida sebagai komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Koordinator Penyuluh Pertanian BPP Kecamatan Pantar Tengah, Darius Bler Sir, SST, berharap ke depan petani dapat meningkatkan produksi sekaligus memperluas pemasaran komoditas unggulan, khususnya beras hitam.
“Harapan kami, petani Pantar Tengah semakin maju dan mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian mereka,” ujarnya.
Melimpahnya panen tahun ini menjadi bukti bahwa kerja keras petani, dukungan penyuluh, dan kondisi alam yang mendukung dapat membawa harapan baru bagi ketahanan pangan masyarakat di Pulau Pantar.