Jumat, 13 Desember 2019


155 Petani Horti Kontrak dengan Perusahaan dan Suplier

14 Sep 2019, 09:59 WIBEditor : Ahmad Soim

Salah seorang petani yang bisa kontrak dengan perusahaan | Sumber Foto:Kontributor

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Sebanyak 155 petani hortikultura berhasil membuat kontrak pemasaran dengan perusahaan dan suplier. Sebagian mereka didorong untuk bisa ekspor.

Proyek Kemitraan Publik-Swasta antara Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian dengan JICA, memberikan dampak positif terhadap para petani. Sejak digulirkan pada 2016 lalu, proyek ini berhasil meningkatkan kapasitas SDM para petani. Mulai dari aspek budidaya, pemasaran dan distribusi produk yang dihasilkan, bahkan hingga penyediaan akses permodalan kepada perbankan (KUR/kredit usaha rakyat). 

 

Ketua Tim Proyek dari JICA, Tsutomu Nishimura mengatakan, dalam empat kali proyek kemitraan, ada 91 kelompok tani yang berhasil mendapat pembinaan dan pelatihan. Apabila dihitung sejak April 2016 hingga September 2019, terdapat 1.214 petani yang tergabung dalam kerja sama ini. Pada September 2019 nanti, proyek memasuki periode ke lima yang berlangsung hingga April 2020.

 

"Kami juga mengundang perwakilan petani untuk studi banding ke Jepang. Melihat bagaimana sistem budidaya, pemasaran dan distribusi di sana," ujar Tsutomu saat memberikan sambutan dalam acara Joint Coordination Commiteee Meeting Ke-5 di Bogor, Kamis (12/9).

 

Dia menambahkan ada sembilan komoditas hortikultura yang menjadi fokus program. Di antaranya cabai, sayuran jepang, tomat, paprika, wortel kuroda, buncis, brokoli, kembang kol dan jambu kristal. Tsutomu menjelaskan, selain membantu para petani dalam peningkatan kapasitas bertanam, pihaknya juga menjembatani mereka dalam mengakses pasar. 

 

"Kami bantu negosiasi dengan pemodal dan pasar untuk distribusi hasil taninya. Sekarang, setidaknya ada 155 petani yang melakukan kontrak dengan perusahaan dan suplier. Saya berharap pengajuan dan perpanjangan periode proyek ke lima dapat terus meningkatkan kapasitas petani," papar Tsutomo.

 

Kepala Bagian Perencanaan, Sekretariat Direktorat Jenderal Hortikultura, Achmad Widodo Heru mengatakan, untuk wilayah Jawa Barat terdapat enam kabupaten terpilih, yakni Kabupaten Bogor, Bandung Barat, Sukabumi, Cianjur, Garut dan Bandung.

 

"Fokusnya adalah bagaimana memodernisasi sistem produksi dan distribusi produk pertanian yang aman dan berkualitas tinggi. Di sini petani mendapatkan edukasi bagaimana meningkatkan kualitas hasil produksi, berproduksi secara kontinyu dan memiliki jejaring," beber dia di tempat yang sama.

 

Dodo - sapaannya - menjelaskan, selama berjalannya proyek, terdapat banyak perubahan dalam hal perbaikan sistem distribusi produk hortikultura. Selain mendapat bantuan benih dan sarana produksi, petani mendapat pengetahuan dalam hal meminimalisir biaya usaha tani. 

 

"Kami akan terus memperbaiki sistem ini. Kami menyambut baik para petani yang tergabung dalam program ini. Terlepas apabila sudah tidak lagi diperpanjang, harapannya pembinaan yang diterima selama ini terus diaplikasikan. Kami juga hubungkan dengan para pelaku usaha. Hal ini menguntungkan pelaku usaha karena tentunya pasar menginginkan produk bagus dan jelas barangnya selalu teersedia," papar Dodo.

 

Dodo juga menyebutkan, dalam skala pembiayaan, perbankan juga dilibatkan. Ini akan semakin menyemangati para petani untuk terus bertanam.

 

"Ini adalah kerja sama yang holistik, di mana petani mendapat bantuan benih, sarana produksi pertanian, akses perbankan hingga dihubungkan ke pasar. Sekarang tinggal bagaimana komitmen petani untuk terus menghasilkan produk berkualitas," tukas Dodo.

 

 

 

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018