Sabtu, 24 Agustus 2019


Mokamad Pudin, Petani Milenial Cerdas di Lahan Rawa

17 Jul 2019, 14:03 WIBEditor : Ahmad Soim

Mokamad Pudin | Sumber Foto:Yulia

Pahit getirnya bertani dia lalui dengan suka hati karena bertani adalah panggilan jiwanya, sehingga dapat mencapai sukses di usianya yang relatif masih muda.

TABLOIDSINARTANI.COM - Berkat gemblengan orang tuanya,  Mokamat Pudin sejak SMP sudah terbiasa bertani  membantu orang tuanya yang berprofesi sebagai petani dan peternak. Kini ia sukses menjadi petani milenial di lahan rawa di Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Pada tahun 2006, ayahnya mulai bekerja mengelola peternakan sapi milik salah satu pejabat di Kalimantan Selatan.  Kecintaannya pada pekerjaannya sebagai petani, membuatnya   enggan untuk melanjutkan sekolah setelah lulus dari SMP.

Namun orang tuanya mengarahkan dan mendorong Mokamat untuk melanjutkan sekolah ke SPP Banjar Baru, agar tetap dapat bergelut di bidang pertanian. 

Mokamat pun menuruti anjuran ayahnya, dan melanjutkan ke SPP Banjar Baru pada tahun 2010.  Tak di sangka-sangka, Mokamat justru berambisi untuk melanjutkan pendidikan pertaniannya ke perguruan tinggi, yaitu di Universitas Lambung Mangkurat, di Banjar Baru.
 
Selama sekolah dan kuliah, Mokamat juga tetap mengusahakan pertanian dengan menanam sayur-sayuran seperti cabe, mentimun, kacang kacangan, terong, bayam dan jagung di lahan orang tuanya. Namun karena kesibukan mengurus usahanya di bidang pertanian, skripsi S1 jurusan Agroteknologi hingga kini belum bisa diselesaikannya.

Mokamat optimis dapat menangkap peluang yang terbuka lebar di dunia pertanian jika digarapnya serius dengan penerapan teknologi.   Apalagi, pemerintah saat ini tengah gencar merevolusi pertanian tradisional menjadi pertanian modern dan berdayasaing tinggi. 

Dari usahanya, Mokamat Pudin berhasil membeli lahan untuk tanaman pangan seluas 1 ha. Dengan adanya program serasi, dia optimis pertanian di daerahnya akan semakin maju karena pengairannya akan semakin baik dan dapat diatur sesuai yang  dibutuhkan, sehingga petani di wilayahnya dapat menanam padi dua kali dalam setahun dan dilanjutkan dengan tanaman hortikultura.

Mokamat menyatakan kegembiraannya dengan program Selamatkan Lahan Rawa Sejahterakan Petani  (Serasi), karena akan mendapat benih padi Varietas unggul yang umurnya jauh lebih pendek dan produktivitasnya lebih tinggi.Disamping itu juga mendapatkan subsidi pupuk hayati, insektisida dan dolomit, yang semuanya itu akan  memberikan harapan kepada Mokamat Pudin untuk dapat meningkatkan produktivitas lahan di wilayahnya. 

Saat ini, meskipun lahan rawanya belum digarap dengan program serasi, namun Mokamat telah mencoba mengembangkan berbagai bidang usaha, baik  perkebunan, hortikultura maupun usaha lain seperti kios sarana produksi, obat obatan serta benih sayuran, bahkan Wifipun dibisniskan dengan cara sewa, untuk keperluan masyarakat di sekitarnya.   

Di sub sektor perkebunan Mokamat mengusahakan karet, sedangkan sub sektor hortikultura Mokamat mengusahakan cabe, mentimun, buncis, terong, jagung, bayam, dan melon. Tanaman Pangan yang diusahakan yaitu padi variatas unggul dan varietas local.

Hasil usaha taninya cukup menggembirakan.  Saat harga cabe tinggi di tahun 2014, dia mampu menghasilkan 30 Juta dari 0,5 ha lahannya. Dari melon bisa menghasilkan keuntungan 7,5 juta, dan dari mentimun bisa mendapatlkan 11 jt. Dari usaha tani padi lokal sekitar 3 ton/ha, sedangkan  padi varietas unggul bisa 4,2 ton/ha. 

Dari hasil usaha tani tersebut, ternyata mampu membeli lahan seluas 1 ha pada tahun 2011, kemudian tahun 2015 hasil usaha taninya mampu untuk meminang  seorang gadis yang sekarang menjadi istrinya. Selanjutnya pada tahun 2018, mampu membeli tanah lagi seluas 1.5 ha, bahkan sekarang mampu membangun rumahnya di jalan Krasik Alam Subur, RT 005, RW 003, Desa Bentok, Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. 

Sebagai petani millenial, facebook merupakan media yang sangat membantu Mokamat dalam mengembangkan usahanya.  Selaku agroenterpreunership yang sudah lumayan berhasil, dengan adanya WI di rumahnya, tidak saja disewakan untuk masyarakat sekitarnya, tetapi juga dipakai untuk mendukung bisnisnya.  Petugas dari Perusahaan formulator dapat langsung mengirim dagangannya ke kios miliknya,  demikian pula pedagang pengumpul juga mengambil hasil latexnya kerumahnya.
 
Terkait dengan penerapan teknologi, Mokamat sangat berkeinginan adanya percontohan dalam rangka  mengoptimalkan lahan di daerah rawa yang sudah diperbaiki infrastrukturnya.  Mokamat juga bersedia untuk menjadi jembatan penyampaian informasi kepada anggota UPKK (Unit Pengelola Keuangan dan Kegiatan), jika ada anggota UPKK yang belum faham maksud dan tujuan program serasi.

Menjadi petani milenial seperti sekarang ini, tidak mudah untuk mencapainya, karena perlu persiapan. Hingga kini, dia terus bekerja keras bersama istri tercintanya yang telah menggondol ijazah S1 dan bekerja sebagai Guru TK di Kecamatan Bentok Darat.

Dikala orang lain masih tertidur lelap, antara pukul 2.00 – 3.00 dinihari Mokamat bersama istrinya harus menyadap karetnya seluas 1 ha, hingga pukul 7.30. Setelah menyadap, istri Mokamat harus segera bersiap-siap untuk mengajar.  Pahit getirnya bertani dia lalui dengan suka hati karena bertani adalah panggilan jiwanya, sehingga dapat mencapai sukses di usianya yang relatif masih muda.


Kesuksesan Mokamat berbeda dengan zaman bapaknya dulu yang masih  mengelola usaha taninya secara tradisional. Kini Mokamat telah memanfaatkan teknologi pertanian, memanfaatkan alat dan mesin pertanian, serta memanfaatkan internet dalam pemasaran produknya. Semoga langkah Mokamat bisa memberikan inspirasi bagi kaum muda khususnya yang berada di daerah lahan rawa.

Reporter : Tim Serasi BPPSDMP Yulia, Tuti, dan Edizal
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018