Monday, 23 May 2022


Maggot, Emas dari Sampah

19 Jan 2022, 10:59 WIBEditor : Yulianto

WEBINAR MAGGOT, PELUANG BISNIS MASA DEPAN | Sumber Foto:Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Sampah menjadi persoalan rumit yang kini dihadapi berbagai daerah, bahkan menjadi masalah besar bagi lingkungan. Karena itu harus ada jalan keluar untuk mengatasi masalah sampah tersebut. Salah satunya dengan mengembangkan maggot.

Meski berasal dari sampah atau limbah, maggot bisa menjadi emas. Potensi pengembangan usaha dari maggot bukan hanya untuk pupuk organik, tapi juga pakan ternak. Bagi yang ingin menekuni budidaya maggot, biayanya pun relatif murah.

Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan. Dinas Lingkungan Hidup Kota Bogor, Feby Darmawan mengatakan, dengan jumlah penduduk di Kota Bogor yang lebih dari 1 juta jiwa menghasilkan sampah sebanyak 600 ton atau 65 armada truk sehari. Komposisi perbandingan 60 persen sampah organik dan 40 persen sampah anorganik.

“Bahkan selama pandemi sampah meningkat tajam, karena banyak masyarakat yang lebih banyak tinggal di rumah yang sebelumnya bekerja di Jakarta. Sumber sampah 50 persen berasal dari rumah tangga,” katanya saat webinar Maggot: Peluang Bisnis Masa Depan yang diselanggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (19/1).

Untuk menangani sampah tersebut, Pemda Bogor melakukan upaya pemilahan sampah organik dan anorganik. Untuk sampah organik yang masuk ke rumah kompos akan dikelola menjadi maggot. “Alternatif pengelolaan sampah organik biasanya kita manfaatkan untuk biopori, maggot dan komposter,” katanya.

Feby mengungkapkan, kelebihan pengembangan maggot adalah tidak menimbulkan bau. Sebab, sampah organik langsung dimakan lalat tentara hitam (BSF), bahkan dalam waktu cepat. Selain itu, dapat menghasilkan pupuk. Dari maggot akan mengeluarkan kotoran yang sangat baik untuk menjadi pupuk organik.

Maggot juga sebagai alternatif pakan ternak. Di tengah tingginya harga pakan ternak, menurut Feby, maggot menjadi salah satu alternatif pakan ternak yang cukup murah. Apalagi maggot mengandung protein tinggi.

“Budidaya maggot biayanya cukup murah dan teknologinya juga sederhana. Investasi organik paling murah adalah maggot, bahkan bisa diiaplikasikan di tingkat rumah tangga, hanya dengan menyediakan kandang lalat hitam kita bisa membudidayakan maggot,” tuturnya.

Namun Feby mengingatkan, jika ingin membudidayakan maggot, maka harus diperhatikan hama tikus dan burung. Untuk itu, ia menyarankan agar tempat/kandang untuk budidaya tertutup rapat, sehingga tidak dimasuki hama tikus.

Ke depan dengan budidaya maggot, Feby berharap, sampah yang dikirim TPA akan terus menurun. “Ke depan jika tidak ada upaya mengurai sampah dari sumber, khususnya rumah tangga, maka TPA tidak akan tertampung,” tegasnya.

Sampah Ibarat Bom Waktu

Ketua Paguyuban Pegiat Maggot Nusantara, M. Ardhi Elmedian melihat sampah organik ibarat bom waktu. Karena itu pihaknya mendorong pemerintah untuk memperhatikan persoalan tersebut, khususnya terkait dengan perubahan iklim dan persampahan.

Pemerintah menurutnya, telah mengeluarkan persoalan sampah. Misalnya, UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah sejenis Sampah Rumah Tangga.

Selain itu, Perpres No. 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah sejenis Sampah Rumah Tangga. Selain itu, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. 14 Tahun 2021. Meski pemerintah telah mengeluarkan berbagai peraturan, namun Ardhi melihat, penanganan sampah ini belum bisa terselesaikan dengan baik. 

Menurutnya, untuk mengatasi masalah bisa dengan mengembangkan budidaya maggot. Misalnya, dari hasil survei sampah organik dapur yang dilakukan Pegiat Maggot Nusantara, dari 45,89 ton/hari sampah sisa rumah tangga atau 16.800 ton/tahun menghasilkan 7,5 ton/hari atau 2.800 ton/tahun maggot di Indonesia.

Karena itu, pihaknya mendorong dukungan Pemerintah Daerah untuk pengembangan maggot dari sampah organik dapur. Apalagi Ardhi menilai potensi pengurangan sampah sisa makanan dengan BSF sebanyak 38,57 persen sangat memungkinkan. “Yang kami harapkan adalah dukungan dari kabupaten/kota dan dukungan infrastruktur, serta prasarana sarana dari pemerintah. Kita harus bareng-bareng mengatasi sampah ini,” ujarnya.

Bahkan Ardhi yakin masalah sampah bisa teratasi minimal 40 persen dan pengurangan efek gas rumah kaca. Namun ia mengingatkan, perspektif pengembangan maggot bukan ekonomis semata, tapi lingkungan hidup. Sebab pengelolaan sampah merupakan sebuah sistem yang harus ditangani bersama semua pihak.

“Kalau perspektif dimulai dari lingkungan hidup. Kalau perspektif ekonomi, nanti sampah jadi komoditas yang diperjualbelikan, akhirnya tujuan membantu petani dan peternak akan sulit tercapai,” tegasnya. Yuk sama-sama tangani sampah dengan mengembangkan maggot.

Bagi Sahabat Sinar Tani yang ingin mendapatkan materi webinar dan sertifikat bisa diunduh dilink di bawah ini.  

SERTIFIKAT WEBINAR MAGGOT: PELUANG BISNIS MASA DEPAN 

 

MATERI WEBINAR MAGGOT: PELUANG BISNIS MASA DEPAN

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018