Monday, 23 May 2022


Jaga Standarisasi Budidaya, Hasilkan Maggot Kualitas Ekspor

21 Jan 2022, 16:11 WIBEditor : Herman

Likasi Budidaya Maggot Desa Midang, Nusa Tenggara Barat

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Bagi sebagian besar masyarakat, sampah mungkin menjadi masalah, namun di tangan Arifudin Nurrahmatulah, S. Tr.P, sampah disulap menjadi berkah. Dengan membudidayakan maggot yang memanfaatkan sampah sebagai makanannya, Arifudin bisa mendapatkan keuntungan bukan hanya untuk dirinya melainkan untuk masyarakat disekitar.

Maggot bisa jadi solusi untuk mengatasi permasalahan sampah yang terjadi di berbagai daerah. Bukan hanya itu, kandungan protein yang tinggi dan asam amino pada Maggot bisa menjadi makanan premium untuk berbagai jenis unggas, ikan hingga hewan peliharaan lainnya.

Hal itulah yang menjadi alasan Arifudin Nurrahmatulah, S. Tr.P memilih terjun ke usaha budidaya maggot. Diceritakan Alumnus Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang, dalam  Webinar Maggot Peluang Bisnis Masa Depan yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani Rabu, (19/1). Maggot yang merupakan organisme pengurai sampah/limbah tercepat menjadi solusi untuk mengatasi masalah sampah yang bisa mencemari lingkungan.

Maggot yang merupakan larva lalat Black Soldier Fly (BSF) menjadi makanan premium bagi berbagai unggas, ikan hingga berbagai binatang peliharaan. “Fresh maggot itu digunakan untuk pakan unggas dan ikan, sementara dried maggot untuk binatang hias seperti ikan, burung, kura-kura, hingga kucing,” ujar Arifudin.

Kandungan protein pada maggot sangat tinggi, dari uji mutu yang dilakukan Arifudin didapat hasil kandungan protein maggot min 30%, lemak min 5?n abu max 13%. Dengan kandungan tersebut maggot bisa sangat membantu menurunkan cost budidaya ternak hingga 45%, karena dengan diberi maggot sebagai makanan pada ternak ada banyak manfaat yang bisa didapat. Seperti mempercepat pertumbuhan sehingga mempercepat masa panen dan meningkatkan kekebalan tubuh ternak.  

Berdayakan Masyarakat

Ilmu budidaya maggot yang didapat saat kuliah diaplikasikan Arifudin di kampung halamannya. Selain untuk mengatasi masalah persampahan, budidaya maggot yang dilakukan juga bisa meningkatakan perekonomian masyarakat sekitar. “Budidaya maggot bisa menjadi solusi pengolahan sampah, karena waktu itu dari 19 TPS 3R yang ada, hanya 3 TPS yang beroperasi karena terkendala biaya untuk operasional,” ujarnya.

Ketika memulai memperkenalkan maggot di desanya, diakui Arifudin tidak mudah. Karena masyarakat Narmada, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) belum banyak yang mengenal maggot. Selain harus mengedukasi masyakarat dalam mengolah sampah menjadi media budidaya maggot, Arifudin juga harus memperkenalkan maggot kepada peternak ayam, ikan, itik dan lainnya bahwa maggot adalah pakan premium untuk meningkatkan pertumbuhan hewan.

Dengan kerja kerasnya, saat ini Arifudin sudah bisa membangkitkan ekonomi masyakat sekitar dalam mengolah sampah untuk membudidayakan maggot dengan puluhan pembudidaya maggot yang menjadi binaannya. “ Alhamdulillah saat ini kami sudah memiliki perusahaan yang membeli maggot dari pembudidaya maggot binaan, baik itu dari TPS maupun pembudidaya rumah tangga,”ujarnya.

Standarisasi Budidaya Maggot

Dalam membudidaya maggot banyak hal yang perlu diperhatikan agar menghasilkan maggot berkualitas. Standarisasi budidaya maggot harus dijaga mulai dari persiapan pembuatan biopond, pemilihan telur hingga pemberian pakan.

Pengelolaan siklus merupakan penentu keberhasilan budidaya maggot mulai dari pemilihan telur, larva dewasa, pupa hingga BSF. “Siklus telur menjadi kunci keberhasilan dalam budidaya maggot,” tambahnya.

Selain itu Standarisasi produksi pengelolaan yang tepat bisa menghasilkan maggot berkualitas. Pembuatan instalasi budidaya yang baik dan benar akan mempermudah pengelolaan dan mencegah timbulnya masalah dalam budidaya salah satunya masalah bau tidak sedap.

Faktor kelembapan, ketinggian biopond, dan arah mata angin pada instalasi sangat berperan dalam timbulnya bau. “Agar tidak bau, pembangunan instalasi kami ukur ketinggian kelembapan. Karena ketinggian instalasi biopond berbeda antara dataran tinggi dan dataran rendah,” ujarnya.

Untuk mengatasi bau, pemberian pakan juga sangat berpengaruh. Dijelaskan Arifudin dalam pemberian pakan harus memperhatikan populasi maggot agar tidak ada makanan yang tersisa. “Ketika makanan maggot itu basah juga akan menimbulkan bau,” tambahnya.

Dalam menjaga kualitas maggot yang dihasilkan, Arifudin menyampaikan harus ada treatment khusus dalam pengolahan sampah untuk pakan maggot. Limbah yang digunakan Arifudin berupa limbah buah dan sayur, makanan sisa, makanan kadaluarsa, minuman kadaluarsa hingga roti yang sudah kadaluarsa.

“Disini kami banyak mendapatkan makanan kadaluarsa dari para distributor yang kesulitan dalam membuang limbahnya. Bahkan untuk membuang limbah tersebut para distributor mengeluarkan biaya kepada kami,” jelasnya.

Untuk limbah buah dan sayur sebelum diberikan kepada maggot harus terlebih dahulu dicacah. Untuk sisa makanan bisa dilihat terlebih dahulu teksturnya bila masih berbentuk besar bisa dicacah terlebih dahulu atau langsung bisa diberikan bila sudah berbentuk kecil.“Maggot butuh makanan yang bertekstur dan tidak berbentuk bubur,” ungkap Arifudin.

Menurut Arifudin, dalam melakukan budidaya maggot dirinya memiliki standarisasi, salah satunya tidak memberikan kotoran hewan untuk pakan maggot. Hal tersebut dilakukan karena untuk kotoran hewan banyak mengandung patogen dan hal tersebut bisa mempengaruhi hasil kandungan dalam maggot yang dipanen. "Untuk maggot yang diberi makan kotoran hewan memang bisa tumbuh besar dan sehat, namun saya sarankan itu untuk dijadikan indukan bukan untuk maggot yang dipanen dan dipasarkan,” ungkapnya.

Dengan standarisasi budidaya maggot yang terus terjaga, Arifudin bisa menghasilkan magot berkualitas bahkan produknya bisa masuk ke pasar ekspor. Untuk maggot fresh yang dihasilkan adalah maggot dengan usia panen max 18 hari dan ukuran seragam. Sedangkan untuk dried maggot memiliki warna putih golden brown, minyak terkonsentrasi didalam larva dan memilki tekstur padat.

Reporter : Rafi
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018