Monday, 23 May 2022


Indonesia Surganya Kopi Dunia

24 Mar 2022, 13:06 WIBEditor : Yulianto

Kopi menjadi komoditas yang menggiurkan | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Tanggal 11 Maret menjadi hari bersejarah bagi dunia perkopian Indonesia. Pada tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Kopi Nasional. Dengan potensi beragamnya jenis kopi yang ada, Indonesia merupakan surganya kopi bagi dunia.

Menjadikan kopi Indonesia sebagai yang terdepan bukanlah mustahil. Indonesia adalah pemasok terbesar keempat di dunia. Data Ditjen Perkebunan, sentra produksi kopi arabika berada di Aceh sebanyak 65.831 ton, Sumatera Utara 66.831 ton, Sulawesi Selatan 24.873 ton, Jawa Barat 11.220 ton, NTT 8.314 ton dan wilayah lain sebanyak 27.227 ton.

Sementara sentra kopi robusta di Lampung dengan produksi 117.092 ton, Sumatera Selatan 191.081 ton, Bangkulu 61.723 ton, Jawa Timur 32.255 ton, Jawa Tengah 21.610 ton dan wilayah lain 114.410 ron.

Negara tujuan ekspor kopi adalah Amerika Serikat dengan nilai ekspor 202 juta dollar AS atau 25 persen dari total ekspor kopi pada 2020. Kedua Jepang (56 juta dollar AS), Malaysia (55,4 juta dollar AS), Mesir (55,02 juta dollar AS), Jerman (49,7 juta dollar AS) dan Italia senilai 44 juta dollar AS.

Ketua Umum Dewan Kopi Indonesia (Dekopi), Anton Apriyantono berharap, Indonesia menjadi surganya kopi dunia. Untuk itu, mantan Menteri Pertanian ini mengajak semua pihak dan seluruh masyarakat menggalakkan dan meningkatan produksi kopi.

“Sekarang ini kita sebagai produsen kopi keempat di dunia. Mari tingkatkan produktivitas dan perluasan areal tanaman kopi agar Indonesia menjadi surganya kopi,” ujarnya. Untuk itu, menurut Anton diperlukan sosialisasi dari inovasi kopi baik dari lembaga penelitian, perguruan tinggi dan masyarakat.

Saat ini produksi kopi Indonesia 95 persen dihasilkan petani. Sisanya 5 persen swasta dan BUMN/PTPN. Untuk itu, diperlukan pendampingan kepada petani kopi agar bisa berbudidaya dan mengolah produknya dengan baik.

Untuk mewujudkannya, Anton berharap, peran akademisi menjadi penting. Di lain sisi, Dekopi juga meminta kalangan petani agar konsisten menjaga kualitas panen. Selama ini yang terjadi petani sekedar mengejar kuantitas disebabkan faktor tekanan harga,” katanya.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Dedi Junaedi mengakui, dengan kondisi geografis membuat jenis kopi di dalam negeri cukup banyak dari mulai wilayah Barat hingga Timur. Bahkan menjadi kekayaan biodiversity bangsa Indonesia. “Banyak keragaman dan kelebihan kopi dalam negeri, terutama yang specialty,” katanya.

Kopi ungkap Dedi, juga menjadi tanaman untuk konservasi lingkungan. Misalnya, di Pulau Jawa banyak lahan yang bisa dioptimalkan dengan pengembangan agroforesty berbasis kopi. “Ini menjaid penting sejalan dengan kebijakan pemerintah mendorong perluasan kopi Arabika yang memerlukan tempat lebih tinggi,” katanya.

Peran kopi dalam perekonomian nasional juga cukup besar, terutama sebagai penghasil devisa negara. Misalnya, pada tahun 2021, devisa dari kopi mencapai 904 juta dollar AS atau sekitar Rp 12,64 triliun. “Kalau dibandingkan impor kopi, tapi nilai ekspor masih surplus,” katanya.

Meski kini kopi di dalam negeri berkembang pesat dengan munculnya café dan masuknya pelaku usaha, khususnya kalangan milenial, namun di sisi lainmasih banyak tantangan yang harus dihadapi. Apalagi sebagain besar perkebunan kopi diusahakan rakyat.  

Seperti apa tantangannya? Baca halaman selanjutnya.

 

 

Reporter : Echa/indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018