Tuesday, 28 June 2022


Tantangan Pengembangan Kopi

24 Mar 2022, 13:06 WIBEditor : Yulianto

Kopi menjadi komoditas yang menggiurkan | Sumber Foto:Dok. Sinta

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Dedi Junaedi  mengatakan, hampir sebagian komoditas perkebunan, termasuk kopi yang diusahakan rakyat produktivitasnya rendah. Ini karena banyak tanaman kopi yang sudah tua. Karena itu,  tanaman tersebut harus diremajakan.

Tantangan lainnya ungkap Dedi, petani saat menanam kopi belum menggunakan benih unggul. Untuk itu program prioritas pemerintah kini adalah membangun kebun nursery atau benih. “Tahun lalu sudah terbangun di Jawa Barat dan Lampung Barat. Dengan kebun nursery ini diharapkan dapat mempercepat peremajaan kebun kopi,” katanya.

Data BPS menyebutkan produksi kopi dalam negeri cenderung stagnan. Misalnya,  pada tahun 2012, luas lahan sekitar 1.235.289 ha. Dengan produktivitas 745 kg/ha, sehingga produksinya hanya sebanyak 691.163  ton. Sementara pada tahun 2021 (angka sementara), lahan kopi seluas 1.249.615, produktivitas sekitar 815 kg/ha dan produksi sebanyak 765.415 ton.

Dengan adanya gerakan tanam kopi serentak yang berlangsung di Bandung, beberapa waktu lalu, Dedi berharap ada perluasan lahan dan memberikan nilai tambah produksi kopi petani. Ke depan, petani tidak hanya menjual biji kopi hijau.

“Kita dorong petani menghasilkan green bean hingga roasted bean, bahkan menghasilkan end product,” katanya. “Jadi kalau kita ingin berdaya saing, perlu produktivitas tanaman yang tinggi dan kualitas baik,” tambahnya.

Selain memperbaiki bagian hulu (kebun kopi), Dedi menjelaskan, pemerintah juga mendorong hilirisasi dengan memberikan bantuan pasca  panen. Namun dengan keterbatasan anggaran, jumlah bantuan tidak cukup banyak.

Selama periode 2017-2011 bantuan pasca panen hanya 352 unit (huller, pulper, timbangan duduk dan solar dryer), padahal kebutuhannya 7.850 unit. Sedangkan bantuan pengolahan sebanyak 366 unit (mesin roaster, mesin pembubuk, mesin pengemas dan bangunan UPH kopi). Sementara kebutuhannya sebanyak 7.836 unit.

Untuk itu, lanjut Dedi, pemerintah mendorong pemanfaatan Kredit Usaha Rakyat (KUR), baik untuk perluasan areal kopi dan pengolahan kopi. Bahkan tahun lalu, serapan KUR kopi cukup besar. “Ini cukup menggembirakan di tengah keterbatasan anggaran pemerintah,” ujarnya. 

Reporter : Echa/indri
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018