Sunday, 17 January 2021


Penantian Panjang Petani Menunggu Ketok Palu Bioteknologi

21 Dec 2020, 20:30 WIBEditor : Yulianto

Beras golden rice salah satu produk bioteknologi | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Penerapan bioteknologi di Indonesia ibarat jalan panjang. Sejak diperkenalkan tahun 1980-an, hingga kini pemerintah belum juga memberikan lampu hijau. Padahal petani sangat menunggu kehadiran teknologi yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian.

“Bioteknologi sudah lama diperjuangan dan bisa diterapkan di Indonesia, kita semua sudah tahu  kelebihannya. Kami sudah berjuang lama, tapi tidak berhasil,” kata Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir saat webinar “Potensi Bioteknologi Pertanian dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan di Indonesia”, beberapa waktu lalu.

Webinar tersebut diselenggarakan Indonesian Biotechnology Information Centre (IndoBIC), bekerjasama dengan SEAMEO BIOTROP, KTNA, Persatuan Bioteknologi Pertanian Indonesia (PBPI) dan didukung International Service for the Acquisition of Agri-biotech Applications (ISAAA). Webinar itu merupakan seri ketiga dari rangkaian webinar biotek yang diselenggarakan sebagai bagian dari kegiatan sosialisasi lomba karya tulis untuk jurnalis.

Tersusul Ethiopia

Winarno mencontohkan, dalam penerapan bioteknologi Indonesia justru kalah dibandingkan negara-negara lain, termasuk Ethiopia. Pada tahun 2020, negara yang 34 tahun lalu pernah dibantu Indonesia dalam mengatasi kelaparan dan kemiskinan, terutama dalam pertaniannya, kini justru berada dalam urutan 12 negara Adidaya Pertanian dan Ketahanan Pangan versi FSI (Food Sustainability Indeks).

“Keberhasilan Ethiopia karena dengan bioteknologi. Negara kita masih berada diurutan ke-21. Untuk memperluas lahan pertanian melalui ekstensifikasi di lahan marginal tidak bisa kita berharap hanya membawa gunung kapur dari Jawa ke Sumatera dan Kalimantan yang lahannya masam. Ini  sangat tradisional,” katanya.

Winarno menilai, jika pemerintah tidak segera membuka ijin penerapan bioteknologi, maka Indonesia akan tersisih dari negara lain yang telah membuka kesempatan pada petaninya menerapan teknologi tersebut. Bahkan dikhawatirkan, Indonesia akan menjadi negara importir pangan.

Padahal menurut Winarno, banyak lahan marginal di Indonesia seperti di Sumatera, Kalimantan dan Papua yang perlu dukungan teknologi untuk bisa menerapkan budidaya tanaman pangan. “Tanpa adanya bioteknologi, kita akan sulit merealisasikan cita-cita menjadi lumbung pangan dunia. Tanpa bekal teknologi terkini, maka petani kita akan tetap menjadi petani tradisional di era teknologi 4.0,” tuturnya.

Petani Indonesia menurut Winarno, saat ini sangat berharap masuknya bioteknologi ke Indonesia. Satu harapan petani adalah agar kesejahteraan petani meningkat seperti petani di negara-negara lain yang sudah terlebih dahulu menerapkan teknologi lebih awal dengan difasilitasi pemerintah.

“Bioteknologi menjadi salah satu pilihan hidup dan harus ditekuni agar petani bisa hidup sejahtera di masa mendatang. Menjadi petani pun perlu dukungan pemerintah dari produksi hingga panen, termasuk teknologinya. Kita harus mengubah petani kita dari konvesional ke modern,” ungkapnya.

Fasilitas yang petani harapkan tak lain adalah regulasi pemerintah yang memberikan kemudahan untuk menerapkan bioteknologi. salah satu regulasi yang hingga kini belum keluar adalah mengenai pengawasan dalam budidaya tanaman bioteknologi.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018