Monday, 06 December 2021


Tingkatkan Kesadaran, SDM Pertanian Dilatih Mitigasi Perubahan Iklim

14 Nov 2021, 19:39 WIBEditor : Gesha

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Meningkatkan kesadaran SDM Pertanian untuk mitigasi perubahan iklim dan dampaknya untuk pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) menggelar Training of Trainer (TOT) untuk SDM Pertanian seperti Widyaiswara, Dosen, Guru, dan Penyuluh Pertanian, Kamis (11/11).

"Kita dorong untuk SDM Pertanian untuk mampu melakukan mitigasi efek gas rumah kaca di sektor pertanian, " ungkap Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi dalam ToT
"Pengenalan Dampak Perubahan Iklim dan Teknologi Adaptasi dan Mitigasi di Sektor Pertanian bagi Widyaiswara, Dosen, Guru, dan Penyuluh Pertanian," yang digelar secara online dan serentak melalui Agricultural War Room (AWR) dengan peserta terdiri dari 205 orang Widyaiswara, 242 dosen, 57 guru dan 620 penyuluh pertanian.

Mengapa demikian? Dedi menjelaskan, rumah kaca biasa terjadi di sektor pertanian terutama karbon dioksida (CO2) dan gas metana (CH4) atau gas hidrokarbon yang sebagian besar berasal dari alam yang dihasilkan dekomposisi anaerobik bahan organik.

Bahkan, aktivitas bahan-bahan agrokimia misalnya pupuk urea, kompos, pupuk kandang dan sebagainya juga dapat menghasilkan gas rumah kaca. Walaupun tidak telalu tinggi tapi efek panasnya ternyata jauh lebih besar, mencapai 300 kali lipat dari karbon oksida (CO2).

"Kita harus berupaya mengurangi risiko peningkatan suhu di permukaan bumi ini melalui mitigasi gas rumah kaya yang terjadi di sektor pertanian," tegas Dedi.

Perubahan iklim diakui Dedi sudah terjadi dan berdampak besar bagi kehidupan, tak hanya menyebabkan es yang berada di Kutub Utara dan Kutub Selatan mencair, tapi juga dapat menurunkan produktivitas pertanian.

Seperti diketahui, untuk menghasilkan produksi, tanaman membutuhkan proses fotosintesis yang tentunya dipengaruhi suhu. Namun jika suhunya lebih tinggi dari kondisi ideal, maka laju respirasi tanaman akan jauh lebih besar daripada proses fotosintesisnya.

Efek langsung dari perubahan iklim yang bisa dirasakan Indonesia sebagai negara tropis adalah terjadinya El Nino dan La Nina. Fenomena ini juga dapat mengganggu produktivitas.

"Kita semua tahu, gara-gara El Nino lahan pertanian kita menjadi risiko kekeringan. Dan tentu saja kekeringan dapat mengganggu sistem produksi kita. Begitu juga kalau lahan pertanian kita terlalu basah dalam waktu yang relatif lama akan menurunkan produksi dan produktivitas," ujar Dedi.

Bahkan, dengan adanya perubahan iklim ini  kejadian El nino akan semakin panjang dan semakin sering. Begitu juga La Nina baik frekuensinya maupun kualitanya juga akan semakin tinggi.

Dalam menghadapi perubahan iklim ini, Dedi menuturkan pentingnya SDM Pertanian menguasai Teknologi Adaptasi Perubahan Iklim,  khususnya dalam menyelamatkan produksi pertanian seperti memilih varietas yang tahan kekeringan atau tahan rendaman.

Kemampuan untuk mengadopsi teknologi perubahan iklim ini pun diakuinya harus dikuasai oleh SDM Pertanian, mulai dari penyuluh, petani bahkan stakeholder di pertanian lainnya.

"Menghadapi kondisi yang terus berubah dengan ketidakpastian, kita juga harus berubah dan siap dengan proses antisipasi, mitigasi dan adaptasi. Jika kita tidak dapat menyesuaikan, kita akan tertinggal," katanya.

Mitigasi-Adaptasi

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo pun mengajak seluruh insan Pertanian untuk mengambil langkah antisipasi dalam perubahan iklim ini. "Kita harus waspada dengan kondisi cuaca yang ada, Alam memang tidak bisa kita kontrol, namun kita bisa antisipasi dengan inovasi teknologi," katanya.

Mentan berharap insan pertanian mampu menghadapi tantangan climate change, global warming dan fenomena alam lain. Menurutnya, FAO pun turut membahas masalah climate change.

"Kita harus bisa adaptasi dengan kondisi yang ada. Kita maksimalkan kesempatan yang ada, jangan sampai kita kalah. Apa yang bisa kita tanam hari ini, kita tanam hari ini. Kita harus berpacu dengan kondisi dan situasi yang ada, " tegasnya.

Selain dengan memaksimalkan produksi beras, komoditas lain pun harus ditingkatkan. Seperti sagu, jagung, pisang, singkong, talas, sorghum dan sebagainya. "Kita maksimalkan sampai 2 tahun," tukasnya.

Di sisi lain, penyediaan sarana air untuk menghadapi kemarau juga harus dilakukan segera, misalnya melalui embung. Begitu pula penciptaan varietas yang tahan akan genangan dan tahan akan kekeringan. guna meminimalisir risiko gagal panen dan agar tidak menghambat produktivitas.

"Perbanyak unsur organik dalam tanah, serta pertanian perlu terintegrasi dengan peternakan. minimalisir food lost dan waste food," urainya.

Mentan menambahkan, tantangan pertanian adalah cuaca, hama, bencana alam dan impor."Kita harus kuat dan siap menghadapi tantangan ini. Ayo kita swasembada, kita pasti bisa berjuang bersama sama mewujudkan swasembada pangan. Saya memiliki keyakinan hasil dari ToT ini menghasilkan 40 juta petani indonesia tersentuh dampak positif dari kegiatan yang kita lakukan hari ini," katanya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018