Saturday, 29 January 2022


Manfaatkan Ruang, Cara DKI Jakarta Ber-Urban Farming

13 Jan 2022, 12:03 WIBEditor : Gesha

Konsep urban farming di rooftop | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA ---  Karena keterbatasan lahan, pertanian perkotaan (urban farming) dilakukan penggiat di DKI Jakarta dengan memanfaatkan aneka ruang yang tersedia. Mulai dari gang, rooftop gedung, rooftop masjid, rooftop hotel hingga sekolah dan sarana publik lainnya.

"Urban farming di DKI Jakarta bukan berbasis lahan tetapi berbasis ruang, sehingga aneka ruang bisa dimanfaatkan. Ada tiga ruang, yakni rumah, kantor dan ruang antara kantor dan rumah," ungkap Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Ir. Suharini Eliawati, M.Si dalam dalam Webinar "Urban Farming di tengah Perubahan Iklim" yang digelar TABLOID SINAR TANI, Rabu (12/01). 

Adapun tanaman yang dapat dikembangkan untuk pertanian perkotaan di atap gedung di antaranya sayuran, sayur buah, tanaman hortikultura seperti cabai hingga bunga. Metode penanaman yang bisa dilakukan dengan menggunakan pot atau wadah, hidroponik, penanaman secara vertikal, penanaman sayuran dengan budidaya ikan atau vertiminaponik. Sedangkan metode penanaman untuk lingkungan tertutup atau minim cahaya seperti di apartemen dapat menggunakan "indoor farming" dan "container farming" yang memanfaatkan sinar UV.

Pemanfaatan ruang ini diawali tahun 2014 melalui pemanfaatan pekarangan dan gang, Pemprov DKI Jakarta mengajak masyarakat untuk menggeluti urban farming. Saat itu hanya ada 25 gang yang ikut berpartisipasi dalam urban farming. Namun kini telah disambut baik, dan berkembang hingga 625 gang hijau yang dibangun masyarakat, secara hidroponik maupun vertical garden. 

Pemprov DKI Jakarta di tahun 2014 mulai mencontohkan urban farming di lingkungan pemerintahan dengan dibuatnya Balkot Farm yang kemudian direplikasi dalam 5 wilayah Walikota se- DKI Jakarta. Bahkan kini rooftop Gedung Dinas KPKP DKI Jakarta disulap menjadi lokasi pertanaman buah naga dan anggur. Di halaman pekarangan pun dipersiapkan showroom Obor Pangan Lestari (OPAL) yang kini dibuka untuk umum dengan model "Panen Sepuasnya, Bayar Seikhlasnya".

Atap mesjid bahkan hotel kini pun berpartisipasi dalam urban farming. Salah satunya adalah Masjid Baitussalam yang berlokasi di Kelurahan Keagungan, Kecamatan Taman Sari Jakarta Barat dan Hotel Ciputra Jakarta yang menjadikan urban farming untuk mendukung estetika gedung juga pelengkap food and beverage. Rooftop  RS Cipto Mangunkusumo pun dimanfaatkan sebagai urban healing bagi pasien. 

Ruang lain seperti rumah susun (rusun) pun dimanfaatkan untuk menularkan semangat urban farming. Hasilnya, inflasi DKI Jakarta stabil, karena lahan rumah susun banyak ditanami cabai dan cuaca mendukung, terjadi panen raya untuk masyarakat. Sehingga saat hari raya, masyarakat tidak terlalu merasakan guncangan ekonomi karena cabai.  

"Ini yang dirasakan langsung, karenanya, kita kerjasama langsung dengan Dinas dan OPD terkait seperti Perumahan Rakyat agar lahan-lahan terbuka di kawasan rusun bisa diberdayakan untuk pertanaman cabai dan lainnya, " tutur Elly.  Namun jika tidak terpenuhi luasan lahan, Elly mengaku masyarakat di rumah susun bisa mengusahakan pertanaman cabai secara hidroponik. 

Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA)  atau yang kini dikenal dengan nama Taman Maju Bersama menjadi ruang publik masyarakat dan bisa dimanfaatkan untuk diseminasi teknologi langsung bagi masyarakat. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018