
Panen Sayur Di La[pas Palopo
TABLOIDSINARTANI.COM, Palopo - Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Palopo (Lapas Palopo) panen 53 kilogram (kg) sayur sawi dan kangkung, Sabtu (04/06).
Diungkapkan Kalapas Palopo, Jhonny H. Gultom, panen ini baru pertama kalinya sejak awal April lalu ditanam dan belum didistribusikan atau di jual di luar Lapas. Dari 53 kg sayur yang dipanen, tterdiri dari 33 kg sawi dan 20 kg kangkung.
"Sayuran ini ditanam di brandgang blok hunian WBP Lapas Palopo dan dikelola oleh 5 orang WBP sebagai wujud pembinaan kemandirian. WBP tersebut diseleksi melalui sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP)," Kata Jhonny.
Ditambahkan Jhonny, hasil panen ini dikelola dan kerjasama dengan rekanan untuk tambahan pasokan pada dapur Lapas sebagai keperluan bahan makanan para WBP.
Lebih lanjut, Kalapas Palopo mengatakan bahwa penanaman sayuran ini sebagai tindak lanjut dari arahan Inspektur Jenderal Kemenkumham, Razilu dan Kakanwil Kemenkumham Sulsel Liberti Sitinjak saat melakukan kunjungan beberapa waktu lalu.
Kakanwil Kemenkumham Sulsel, Liberti Sitinjak mengapresiasi Pembinaan ini dan berharap agar pembinaan ini lebih ditingkatkan sehingga hasil produksinya dapat dipasarkan di berbagai pasar tradisional di kota Palopo dan Sekitarnya.
"Hal ini juga akan meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia," ungkap Liberti.
Kakanwil mengungkapkan bahwa pihaknya selalu meminta kepada kepala Lapas dan Rutan se-Sulsel untuk melaksanakan kegiatan produksi di dalam sebagai bagian dari pembinaan kemandirian agar menjadi bekal bagi WBP untuk berintegrasi kembali dengan masyarakat.
nanam padi organik, baik sebagai percontohan maupun sudah dalam skala usaha tani.
Seperti yang telah diberitakan, panen padi organik PCNU telah mulai berhasil di tuai petani di Kebumen, disusul Klaten lalu Grobogan, juga akan disusul daerah-daerah lain. Kabarnya pasar di Timur Tengah suka dengan beras organik dari Indonesia.
Sebuah prestasi yang membanggakan. Menghasilkan pangan aman dan bermutu bagi sesame manusia, seraya merawat bumi dan lingkungan hidup.
“Bumi ini bukan warisan orang tua, tapi titipan anak cucu kita. Maka wajib hukumnya untuk merawat dan melestarikan,” pungkas Budi Purnomo, Pr.