Selasa, 27 September 2022


Ingin Berhasil Budidaya, Petani Wajib Kenali Bahan Penyusun Tanah

12 Sep 2022, 09:52 WIBEditor : Yulianto

Pengurus Penyuluh Pertanian Swadaya Indonesia, Admansyah Lubis | Sumber Foto:Dok. Admansyah

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kerusakan tanah karena terganggunya keseimbangan bahan penyusun atau pembentuk tanah membuat produktivitas tanaman tidak optimal. Karena itu, petani diharapkan memahami bahan penyusun tanah agar bisa mengambil langkah memperbaiki kerusakan tersebut. 

Tanah yang baik terdiri dari bahan-bahan penyusun/pembentuk tanah seperti bahan organik, pasir, debu dan liat. Hal tersebut disampikan Pengurus Penyuluh Pertanian Swadaya Indonesia, Admansyah Lubis dalam webinar Tanah Sehat Hasil Panen Berlipat yang diadakan Tabloid Sinartani bekerjasama dengan FMC, Rabu, (31/8).

Berdasarkan pengalaman Admansyah di lapangan, kandungan bahan organik dan pasir dalam tanah sudah kritis. Artinya jika bahan tersebut tidak terpenuhi, maka unsur yang timbul adalah liat non silikat. “Makna liat non siliat adalah disuatu media tumbuh itu tinggi senyawa racun tanah yang sangat berdampak pada penurunan hasil produksi tanaman,” ujarnya.

Admansyah menjelaskan, tanah yang baik terdiri dari bahan organik yang disesuaikan dengan kondisi tanah dan iklim di daerah tersebut. Pengamatan Admansyah, tanah di sebagain besar Sumatra dan Jawa justru sudah tidak memiliki unsur organik dan pasir. “Yang tersisa hanya  dominan unsur liat yang mengandung almunium,” katanya.

Menurutnya, senyawa alumunium ini sangat berpengaruh pada proses kimia tanah yang mana unsur pospor dan kalium terikat oleh senyawa alumunium tadi. Karena itu, petani merasa sudah memupuk, tetapi produksi tidak bisa naik. “Karena faktor senyawa alumunium tanah mengikat pospor dan kalium,” ungkapnya.  

Karena itu, Admansyah menyarankan untuk memberikan pasir di sawah pada awal pertanaman. Pasir akan berfungsi membuka pori-pori tanah, sehingga terjadi sirkulasi pengikatan oksigen, hydrogen dan nitrogen di udara. Hal tersebut akan membantu petani untuk mengatasi sementara permasalahan yang ada.

“Jadi yang kami lakukan konsepnya menghidupkan tanah. Artinya kami mengajarkan petani apa itu tanah yang baik dan rusak. Tanah yang rusak yaitu tanah dengan bahan penyusun tanah yang tidak lagi seimbang,” paparnya.

Bahan penyusun tanah menurut Admansyah, memiliki peran yang penting. Jadi jika bahan penyusun tanah tidak ada, maka tanah tidak akan berperan secara optimal.  Misalnya, bila tanah tidak ada bahan organik maka dalam tanah tidak akan terjadi pertukaran kation.

Begitu juga dengan pasir sangat berperan dalam proses pengikatan tanah terhadap oksigen. Karena fungsi oksiben yaitu mengurai unsur-unsur  senyawa logam secara oksidasi, sehingga tidak terbentuk senyawa racun pada tanah. “Bahan organik, selain dapat mengikat air dan mengurai senyawa racun, juga bisa melepas senyawa air. dan senyawa yang mengandung garam tinggi bisa diurai menjadi netral,” tambahnya.

Admansyah melihat bahan penyusun tanah berperan terhadap struktur tanah. Struktur tanah itulah yang akan berperan membentuk kepadatan, aerasi, suhu, kelembapan dan kapasitas tanah.  “Jadi apabila bahan penyususn tanah sudah terbentuk maka sifat biologi tanah akan berperandan sifat kimia tanah akan bereaksi,” ujarnya.

Melihat kondisi tanah pertanian yang kritis, Admansyah selalu menyampaikan betapa pentingnya petani memahami tentang bahan penyusun tanah. “Kita dari Penyuluh Pertanian Swadaya Indonesia memiliki konsep menghidupkan kembali tanah dan setelah itu baru kita berikan nutrisi bagi tanaman,” ungkapnya. 

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018