Jaringan irigasi kekeringan sebagai dampak El Nino
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---El Nino atau kemarau panjang bakal melanda sebagian wilayah Indonesia. Kondisi itu perlu diwaspadai berbagai kalangan. Pasalnya, bukan hanya bakal berimbas pada produksi pangan. Bahkan Indonesia punya pengalaman, kemarau panjang akan menyebabkan bahaya kebakaran lahan.
Karena itu, Kepala Center for Climate Risk and Opportunity Management di Asia Tenggara dan Pasifik (CCROM-SEAP) IPB University, Rizaldi Boer mengingatkan agar ada manajemen resiko saat musim kemarau. “Experimental forecast CCROM IPB University untuk Juli menunjukkan hampir semua wilayah pusat produksi padi terjadi anomali hujan negatif, lebih rendah dari normal, kecuali di sebagian Kalimantan dan Sulawesi, terutama di Papua,” kata Rizaldi.

Rizaldi mengatakan, prakiraan eksperimen cuaca pada Juli oleh IPB University memiliki skill dan tingkat akurasi yang baik di hampir sebagian besar wilayah, kecuali di Sumatera bagian tengah. Sedangkan prakiraan ENSO (El Niño and the Southern Oscillation) pada 2023 menunjukkan kemungkinan terjadinya EL Nino dengan model dinamik dengan peluang di atas 50 persen setelah Juni.
Menurutnya, baik model secara statistik dan dinamik menunjukkan Indonesia akan mengalami El Nino relatif tinggi dan setelah Februari akan semakin signifikan. Di samping itu terdapat keeratan hubungan antara lautan pasifik terkait ENSO di Indonesia dengan kenaikan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik. ”Kondiis ini berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia,” ujarnya.
Potensi Gagal Panen
Rizaldi memprediksi ancaman banjir dan kekeringan pada musim tanam 2023 akan cukup tinggi. Terutama, di wilayah Jawa dan Sulawesi Selatan. Bahkan potensi gagal panen akibat kekeringan apabila tidak diantisipasi dapat mencapai 60 ribu ha, sehingga potensi penurunan produksi mencapai sekitar 500 ribu ton.
Namun, La Nina yang terjadi selama 2022 lalu mampu menurunkan risiko kekeringan pada tanaman padi. Dampaknya, banyak panen sudah terjadi di Februari dan Maret sehingga bisa langsung ditanam kembali. Dengan demikian, ancaman kekeringan pada Mei dan Juni relatif bisa diantisipasi dengan adanya panen selama periode Februari-Maret.
“Saat ini masih ada surplus produksi dari Januari hingga Februari 2023 dibandingkan dengan 2022 dan 2021 yang mencapai lebih dari 3 juta ton Gabah kering Giling (GKG),” kata Pakar Klimatologi IPB University ini.
Rizaldi mengingatkan, guna mengantisipasi dampak El Nino perlu ada optimasi pemanfaatan kalender tanaman (Katam). Pemetaan perkembangan luas tanam dan panen secara spasial dan regular dapat membantu penyesuaian informasi Katam.
Selain itu, lanjut Rizaldi, pemberdayaan petani dalam pemanfaatan informasi prakiraan cuaca dalam penyesuaian pola usaha tani juga perlu didorong. Bantuan saprotan juga terus dialirkan dengan memperhatikan kondisi prakiraan. Artinya, petani pun harus mendapat pengetahuan mengenai cuaca