Minggu, 14 April 2024


Produk Bioteknologi Aman Dikonsumsi dan Bikin Petani Sejahtera

07 Mar 2024, 07:50 WIBEditor : Gesha

Adopsi benih Bioteknologi untuk petani | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Biotechnology and Seed Manager dari Croplife Indonesia, Agustine Christela Melviana menekankan tanaman dan benih yang menggunakan ilmu bioteknologi aman untuk dikonsumsi.

"Di Indonesia, Komisi Keamanan Hayati yang diatur oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2005 (PP No. 21/2005) tentang Keamanan Hayati untuk Produk Rekayasa Genetika, telah menjamin keamanan Produk Rekayasa Genetika (PRG) secara menyeluruh, termasuk keamanan pangan, pakan, dan lingkungan," ungkapnya.

Sehingga keamanan bioteknologi telah melibatkan penelitian menyeluruh dari lembaga terkemuka seperti WHO, FAO, dan EPA.

"Jika terdapat zat yang berpotensi membahayakan, PRG tidak akan diberikan izin untuk dijual dan didistribusikan. Ini berarti makanan rekayasa genetika yang sudah tersedia di Indonesia saat ini aman untuk dikonsumsi," tuturnya.

Bahkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menegaskan PRG yang sudah beredar di pasaran sudah pasti aman dikonsumsi karena sudah dikaji dan mendapatkan persetujuan keamanan pangan PRG dari BPOM.

Pengkajian keamanan pangan PRG dilakukan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian (precautionary approach) dan mengacu standar internasional.

Standar ini mencakup toksisitas, alergenisitas, kesepadanan komposisi pangan PRG dengan pangan non PRG dilihat dari kandungan gizi dan non gizi, serta informasi genetik. 

Tingkatkan Kesejahteraan Petani

Tak hanya aman dikonsumsi dan produksi yang meningkat, Agustine juga menegaskan penggunaan benih Bioteknologi berkontribusi dalam peningkatan pendapatan petani dan meningkatkan efisiensi petani.

Pengalaman menggunakan benih bioteknologi diungkapkan petani kepada Agustine dalam kunjungan Lapang. Salah satu yang menarik dan seringkali tak terukur adalah waktu Kerja Petani yang lebih efisien dibandingkan sebelumnya.

Dengan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penyiangan, termasuk penyiangan dengan tangan, serta meminimalisir penggunaan input agrikultur lainnya, petani dapat memiliki lebih banyak waktu untuk kepentingan pribadi, keluarga, pekerjaan lain, atau sekadar bersantai.

"Petani Perempuan dari Dompu, ibu Ine mengaku bisa mengantar anak ke Sekolah, padahal sebelumnya ia harus bangun pagi buta untuk ke ladang," sebutnya.

Agustine menambahkan, antara tahun 1996 hingga 2020, benih bioteknologi berhasil memberikan keuntungan ekonomi sekitar ~$261 miliar (AS) secara global.

Agustine juga menghitung dengan pengurangan biaya produksi sebesar 30 persen dan peningkatan hasil yang signifikan mencapai 70 persen pada tahun 2020, membuat petani di negara berkembang mendapatkan pendapatan tambahan sebesar $5.22 dari setiap dollar yang diinvestasikan di benih bioteknologi.

Pada tahun 2018, Filipina mencatat peningkatan produksi sebesar 23.5 persen berkat penggunaan benih bioteknologi.

Sebanyak 470.500 petani dan keluarganya merasakan manfaatnya, termasuk pendapatan tambahan yang memungkinkan mereka memberikan sandang dan pangan lebih baik, melakukan perbaikan dan peningkatan properti, serta berinvestasi dalam pendidikan yang lebih baik untuk anak-anak.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018