Friday, 15 May 2026


BRMP Rilis Rekomendasi Pemupukan Padi Sawah, Ini Rumus Hitungannya

20 Apr 2026, 07:46 WIBEditor : Gesha

BRMP merilis rekomendasi pemupukan padi sawah berbasis status hara tanah dan target produksi, lengkap dengan rumus hitungan agar petani bisa lebih efisien dan hasil panen meningkat optimal.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- BRMP merilis rekomendasi pemupukan padi sawah berbasis status hara tanah dan target produksi, lengkap dengan rumus hitungan agar petani bisa lebih efisien dan hasil panen meningkat optimal.

Upaya meningkatkan produktivitas padi sawah kembali mendapat perhatian serius dari lembaga riset pertanian. Dalam Workshop Teknologi Sumber Daya Lahan yang digelar oleh BRMP Sumberdaya Lahan Pertanian, narasumber dari BRMP Tanah dan Pupuk, Ema Lindawati, memaparkan secara rinci rekomendasi pemupukan berbasis status hara tanah dan target produksi yang bisa dijadikan acuan petani di lapangan.

Ema menjelaskan bahwa rekomendasi pemupukan yang disusun BRMP tidak dibuat secara umum, melainkan berdasarkan analisis tingkat kesuburan tanah serta target hasil yang ingin dicapai. Dengan pendekatan ini, petani dapat menyesuaikan dosis pupuk sesuai kondisi lahan masing-masing, sehingga lebih efisien dan tepat sasaran.

Menurutnya, pada lahan dengan tingkat kesuburan sedang hingga tinggi yang ditandai dengan kandungan P, K, C-organik, dan kapasitas tukar kation (KTK) yang juga berada pada kategori sedang hingga tinggi, pemupukan anorganik dapat diefisienkan hingga maksimal 25 persen. 

Artinya, jika standar pemupukan 100 kilogram per hektare, maka dosis dapat dikurangi menjadi sekitar 75 kilogram tanpa menurunkan produktivitas secara signifikan.

Namun, kondisi tersebut berbeda pada lahan dengan tingkat kesuburan rendah. Pada lahan seperti ini, Ema menegaskan bahwa pengurangan dosis pupuk tidak diperbolehkan karena unsur hara di dalam tanah sudah sangat terbatas.

Justru, lahan dengan status rendah harus mendapatkan asupan pupuk sesuai rekomendasi penuh agar tanaman tetap mampu tumbuh optimal.

Dalam pemaparannya, Ema juga menyoroti tren penurunan kandungan C-organik tanah sawah di Pulau Jawa yang terjadi dari tahun ke tahun. Kondisi ini dipicu oleh kebiasaan pengelolaan lahan yang kurang ramah lingkungan, seperti pembakaran jerami dan minimnya penggunaan pupuk organik.

Pemupukan Berimbang dan Organik

Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut menjadi alasan kuat mengapa pemupukan berimbang harus selalu dikombinasikan dengan pupuk organik. 

Selain menyediakan unsur hara tambahan, pupuk organik juga berfungsi menjaga struktur tanah, meningkatkan kesuburan, serta mempertahankan keseimbangan ekosistem mikroorganisme di dalam tanah. 

“Tanpa bahan organik, tanah akan mengalami penurunan kualitas secara perlahan. Ini yang sering tidak disadari petani,” ungkapnya.

Ema juga menjelaskan bahwa meskipun kandungan unsur hara dalam pupuk organik relatif lebih rendah dibandingkan pupuk anorganik, kontribusinya tetap penting dalam sistem pertanian berkelanjutan.

Sebagai contoh, satu ton pupuk organik dari kotoran ayam dapat setara dengan sekitar 16,7 kilogram urea, 16,7 kilogram SP36, dan 5 kilogram KCl. Meski kecil secara angka, manfaat jangka panjangnya terhadap kesuburan tanah dinilai sangat besar.

Dalam sesi pemaparan lain, BRMP juga menunjukkan adanya peta status unsur hara di beberapa wilayah, termasuk di Jawa Barat, yang memperlihatkan kecenderungan peningkatan status P dan K dari rendah menuju sedang hingga tinggi. Kondisi ini menjadi dasar penting dalam penyesuaian dosis pemupukan berbasis lokasi.

Ema menekankan bahwa sebelum melakukan pemupukan, petani perlu mengetahui terlebih dahulu status unsur hara tanah. Deteksi ini penting untuk mengidentifikasi faktor pembatas pertumbuhan tanaman, tingkat kesuburan tanah, hingga potensi defisiensi atau kelebihan unsur hara yang dapat mempengaruhi hasil panen.

Untuk mendukung hal tersebut, BRMP mendorong penggunaan berbagai teknologi uji cepat seperti perangkat uji tanah sawah, sistem SISCROP, hingga analisis laboratorium. Semua alat ini bertujuan membantu petani mendapatkan data yang lebih akurat sebelum menentukan dosis pupuk.

Menurut Ema, evaluasi kesuburan tanah dapat dilakukan melalui beberapa metode seperti analisis tanah, analisis jaringan tanaman, percobaan pot, hingga uji lapang. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan akurasi rekomendasi pemupukan sekaligus mengurangi kesalahan dalam pengelolaan lahan.

Di akhir pemaparannya, Ema menegaskan bahwa pemupukan berimbang bukan hanya soal meningkatkan produksi, tetapi juga efisiensi dan keberlanjutan lingkungan. Ia menyebut bahwa penggunaan pupuk harus dilakukan secara bijak, baik anorganik maupun organik, serta disesuaikan dengan kondisi tanah dan kebutuhan tanaman.

“Pemupukan berimbang perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi, efisiensi pemupukan, dan mengurangi pencemaran lingkungan. Pengelolaan tanah yang tepat adalah kunci utama,” tutupnya.

Dengan rilis rekomendasi ini, BRMP berharap petani dapat menerapkan sistem pemupukan yang lebih presisi berbasis data lapangan, sehingga produktivitas padi sawah dapat terus meningkat tanpa mengorbankan kesuburan tanah di masa depan.

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018