
Padjadjaran Agritan dan Inpari 42 GSR menjadi varietas rekomendasi PM-AAS berkat potensi hasil tinggi serta ketangguhannya menghadapi hama dan penyakit utama padi
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --Padjadjaran Agritan dan Inpari 42 GSR menjadi varietas rekomendasi PM-AAS berkat potensi hasil tinggi serta ketangguhannya menghadapi hama dan penyakit utama padi
Keberhasilan program Pertanian Modern melalui Advanced Agricultural System (PM-AAS) tidak hanya bergantung pada penggunaan alat dan mesin pertanian modern. Benih yang ditanam juga menjadi penentu utama keberhasilan panen. Sebab, sehebat apa pun teknologi yang digunakan, hasilnya tidak akan optimal jika varietas yang dipilih tidak sesuai dengan kondisi lapangan atau rentan terserang hama dan penyakit.
Karena itu, pemilihan varietas unggul menjadi salah satu fondasi penting dalam penerapan PM-AAS. Program yang dikembangkan Kementerian Pertanian ini mengintegrasikan mekanisasi, pertanian presisi, digitalisasi, hingga manajemen budidaya modern untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.
Dalam seri varietas rekomendasi PM-AAS, Padjadjaran Agritan dan Inpari 42 Agritan GSR menjadi dua pilihan yang layak dipertimbangkan petani. Keduanya memiliki produktivitas tinggi, umur panen yang relatif genjah, kualitas beras yang disukai masyarakat, serta dibekali ketahanan terhadap beberapa hama dan penyakit penting yang selama ini menjadi momok di lahan sawah.
Bagi petani, memilih varietas bukan sekadar melihat potensi hasil panen. Yang tak kalah penting adalah bagaimana tanaman mampu bertahan ketika menghadapi serangan wereng, penyakit daun, maupun cuaca yang tidak menentu. Dengan varietas yang lebih tahan, risiko gagal panen dapat ditekan dan biaya pengendalian hama pun menjadi lebih ringan.
Padjadjaran Agritan
Salah satu varietas yang direkomendasikan untuk mendukung sistem budidaya PM-AAS adalah Padjadjaran Agritan. Varietas ini memiliki karakter produktivitas tinggi yang cocok diterapkan pada budidaya padi modern.
Berdasarkan data Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), Padjadjaran Agritan memiliki rata-rata hasil mencapai 7,8 ton gabah kering giling (GKG) per hektare, sementara potensi hasil maksimalnya dapat mencapai 11 ton GKG per hektare apabila dibudidayakan dengan teknik yang tepat.
Angka tersebut tentu menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi dalam sistem PM-AAS, penggunaan benih unggul dipadukan dengan pengolahan lahan menggunakan alsintan, pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman, pengaturan air yang lebih efisien, hingga pengendalian hama secara terpadu. Kombinasi inilah yang memungkinkan potensi hasil varietas dapat dimaksimalkan.

Selain produktivitasnya tinggi, Padjadjaran Agritan juga memiliki umur panen sekitar 105 hari setelah sebar (HSS). Dengan umur panen yang relatif singkat, petani memiliki peluang mempercepat musim tanam berikutnya sehingga indeks pertanaman dapat meningkat.
Dari sisi morfologi, tinggi tanaman sekitar 107 sentimeter. Postur tanaman yang tidak terlalu tinggi membuatnya lebih stabil saat menghadapi angin kencang dibandingkan varietas yang memiliki batang terlalu menjulang.
Sementara itu, hasil berasnya memiliki tekstur pulen, karakter yang masih menjadi favorit sebagian besar konsumen di Indonesia. Artinya, selain menguntungkan dari sisi produksi, varietas ini juga memiliki nilai jual yang baik di pasaran.
Bukan hanya soal hasil panen, Padjadjaran Agritan juga menawarkan perlindungan alami terhadap beberapa organisme pengganggu tanaman.
Varietas ini diketahui agak tahan terhadap wereng batang cokelat (WBC) biotipe 1 dan 2, serta agak tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB) patotipe III.
Bagi petani, informasi ini sangat penting. Wereng batang cokelat merupakan salah satu hama yang paling merugikan. Selain mengisap cairan tanaman hingga menyebabkan tanaman mengering atau "hopperburn", wereng juga dapat menjadi vektor penyebaran virus yang menyebabkan hasil panen turun drastis.
Ketika populasi wereng meledak, petani sering kali harus melakukan penyemprotan pestisida berulang kali. Kondisi ini tentu menambah biaya produksi.
Dengan menggunakan varietas yang memiliki ketahanan alami, intensitas serangan dapat ditekan sehingga penggunaan pestisida menjadi lebih hemat. Namun demikian, petani tetap dianjurkan menerapkan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), seperti menjaga kebersihan lahan, melakukan tanam serempak, memanfaatkan musuh alami, serta menggunakan pestisida secara bijaksana apabila populasi hama telah melewati ambang ekonomi.
Inpari 42 Agritan GSR
Selain Padjadjaran Agritan, varietas lain yang direkomendasikan adalah Inpari 42 Agritan GSR atau Green Super Rice.
Varietas ini dikembangkan untuk menghasilkan produktivitas tinggi dengan penggunaan input budidaya yang lebih efisien. Konsep Green Super Rice sendiri bertujuan menghasilkan tanaman yang tetap mampu berproduksi baik meski penggunaan pupuk dan air lebih hemat, sehingga cocok diterapkan pada sistem pertanian modern yang berkelanjutan.
Secara produktivitas, Inpari 42 Agritan GSR memiliki rata-rata hasil sekitar 7,11 ton GKG per hektare, sedangkan potensi hasilnya mencapai 10,58 ton GKG per hektare.

Umur panennya sekitar 112 hari setelah semai, dengan tinggi tanaman sekitar 93 sentimeter. Tanaman yang lebih pendek umumnya memiliki risiko rebah lebih kecil, terutama ketika memasuki fase pengisian bulir yang membuat malai menjadi lebih berat.
Tekstur berasnya juga pulen, sehingga memiliki daya tarik bagi konsumen.
Keunggulan lain Inpari 42 Agritan GSR adalah ketahanannya terhadap beberapa penyakit utama tanaman padi.
Varietas ini memiliki ketahanan terhadap kerebahan, sehingga tanaman tetap kokoh meski mendapatkan pemupukan optimal.
Selain itu, Inpari 42 juga agak tahan terhadap wereng batang cokelat biotipe 1. Dari sisi penyakit, varietas ini memiliki ketahanan terhadap hawar daun bakteri (patotipe III) serta penyakit blas daun ras 073, dan masih tergolong agak tahan terhadap ras 033.
Karakter tersebut membuat Inpari 42 menjadi pilihan menarik bagi petani yang berada di wilayah dengan tekanan penyakit cukup tinggi.
Meski demikian, para penyuluh pertanian tetap mengingatkan bahwa ketahanan varietas bukan berarti tanaman kebal terhadap semua serangan. Ketahanan tersebut akan bekerja lebih optimal apabila didukung dengan budidaya yang benar, mulai dari penggunaan benih bersertifikat, pemupukan berimbang, pengaturan jarak tanam, hingga monitoring rutin kondisi pertanaman.
Sangat Cocok Mendukung PM-AAS
Dalam penerapan PM-AAS, setiap komponen budidaya saling mendukung satu sama lain. Benih unggul, mekanisasi, irigasi yang efisien, pemupukan presisi, hingga pemanfaatan teknologi digital menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Karena itu, penggunaan varietas unggul seperti Padjadjaran Agritan dan Inpari 42 Agritan GSR menjadi langkah awal yang sangat penting.
Varietas dengan potensi hasil tinggi akan memberikan respons yang lebih baik terhadap penerapan teknologi budidaya modern. Sebaliknya, apabila petani masih menggunakan benih yang kualitasnya rendah atau sudah mengalami penurunan mutu karena ditanam berulang kali tanpa peremajaan, maka peningkatan produktivitas akan sulit dicapai meskipun teknologi yang digunakan sudah canggih.
Melalui PM-AAS, pemerintah mendorong petani agar tidak hanya mengejar hasil panen tinggi, tetapi juga meningkatkan efisiensi usaha tani. Artinya, biaya produksi bisa ditekan, penggunaan air dan pupuk menjadi lebih hemat, sementara produktivitas tetap meningkat.
Pada akhirnya, kombinasi teknologi modern dengan varietas unggul akan menciptakan sistem budidaya padi yang lebih tangguh menghadapi tantangan perubahan iklim, serangan hama, maupun penyakit.
Bagi petani yang ingin mulai menerapkan konsep PM-AAS, memilih varietas seperti Padjadjaran Agritan dan Inpari 42 Agritan GSR bisa menjadi langkah awal yang tepat.
Selain menawarkan potensi hasil yang tinggi, kedua varietas ini juga memiliki karakter tahan terhadap beberapa hama dan penyakit utama, sehingga peluang memperoleh panen yang lebih aman dan menguntungkan semakin besar. Dengan benih unggul sebagai pondasi, teknologi modern yang diterapkan di lapangan akan memberikan hasil yang lebih optimal sekaligus mendukung target peningkatan produksi padi nasional secara berkelanjutan.



