
El Nino 2026 diprediksi tampil berbeda dari 2015 dan 2019, BMKG mengungkap pola tak merata.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---Musim hujan di Indonesia diprediksi makin pendek dalam beberapa tahun ke depan, membuat musim tanam ikut tertekan. Petani diminta waspada terhadap potensi kekeringan dan penurunan produksi.
Perubahan pola iklim kembali menjadi perhatian serius di sektor pertanian nasional. Dalam sebuah workshop teknologi sumber daya lahan yang digelar BRMP Sumber Daya Lahan Pertanian, narasumber Adang Hamdani dari BRMP Agroklimat dan Hidrologi Pertanian memaparkan bahwa tren musim hujan di Indonesia menunjukkan kecenderungan semakin pendek, sementara awal musim kemarau justru makin maju.
Menurut pemaparan tersebut, data historis menunjukkan adanya pergeseran signifikan pada awal musim kemarau yang cenderung lebih cepat datang, sementara awal musim hujan justru mengalami kemunduran. Kondisi ini berdampak langsung terhadap durasi musim hujan yang semakin menyusut.
Dalam proyeksi jangka panjang periode 2020–2049, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami pengurangan panjang musim hujan sekitar 10 hingga 20 hari. Bahkan di beberapa wilayah, pengurangan tersebut bisa lebih dari 20 hari atau hampir satu bulan penuh.
“Kalau kita perhatikan, potensi waktu tanam kita semakin pendek. Ini sangat berbahaya karena akan berdampak langsung pada produksi pangan ke depan,” ujar Adang dalam pemaparannya.
Dua indikator utama yang kerap dijadikan acuan, yakni ENSO (El Niño-Southern Oscillation) dan IOD (Indian Ocean Dipole), menunjukkan sinyal yang cukup menarik dan patut diwaspadai, terutama bagi sektor pertanian dan ketahanan pangan.
Berdasarkan pembaruan data iklim Februari 2026, kondisi IOD diperkirakan tetap berada dalam fase netral sepanjang tahun. Artinya, pengaruhnya terhadap cuaca di Indonesia cenderung stabil dan tidak ekstrem.
Namun cerita berbeda datang dari ENSO. Pada semester pertama 2026, kondisi ENSO masih terpantau netral, tapi perlahan mulai bergeser memasuki fase yang lebih hangat di semester kedua.
Data prediksi ENSO yang dirilis menunjukkan tren kenaikan nilai dari waktu ke waktu. Pada periode MAM 2026 tercatat -0,04, kemudian naik menjadi 0,19 di AMJ 2026, berlanjut 0,37 di MJJ 2026, hingga menanjak ke 0,60 pada JJA 2026. Tren ini terus menguat ke 0,80 di JAS 2026 dan mencapai 0,88 pada ASO 2026.
Kalau dilihat sekilas, angka-angka ini memang belum masuk kategori ekstrem. Tapi pola kenaikan yang konsisten ini menjadi sinyal awal menuju kondisi El Niño lemah pada paruh kedua 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga menegaskan bahwa potensi El Niño yang muncul diperkirakan masih dalam kategori lemah, bukan kuat seperti fenomena besar yang pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.
Meski begitu, para pengamat iklim mengingatkan bahwa status “lemah” bukan berarti bisa diabaikan. Dampaknya tetap bisa terasa, terutama pada pola hujan yang mulai tidak stabil di sejumlah wilayah Indonesia.
Tak hanya BMKG, sejumlah model iklim global juga ikut memperkuat sinyal yang sama. Model NMME dari Amerika Utara, misalnya, menunjukkan pergeseran ENSO dari netral menuju El Niño lemah. Model dari Jepang, Australia, hingga NOAA juga memberikan gambaran serupa, meskipun dengan intensitas dan waktu yang sedikit berbeda.
Artinya, ada konsensus cukup kuat di kalangan model iklim global bahwa semester kedua 2026 berpotensi memasuki fase pemanasan laut Pasifik, meski tidak dalam level yang ekstrem.
Buat Indonesia, kondisi seperti ini biasanya berdampak pada perubahan pola hujan. Beberapa wilayah bisa mengalami pengurangan curah hujan, sementara wilayah lain tetap relatif normal, tergantung dinamika lokal masing-masing.
Di sektor pertanian, kondisi ini jadi sinyal penting untuk mulai menyesuaikan pola tanam dan pengelolaan air sejak dini. Petani dan pemangku kebijakan biasanya akan lebih waspada terhadap potensi pergeseran musim hujan dan kemarau yang bisa maju atau mundur dari pola normal.
Namun satu hal yang pasti, tren saat ini menunjukkan arah yang cukup konsisten: ENSO bergerak naik, IOD tetap netral, dan potensi El Niño lemah mulai muncul di paruh kedua 2026.
Kemarau Datang Bertahap
BMKG juga memetakan awal musim kemarau 2026 yang akan terjadi secara bertahap di berbagai wilayah Indonesia. Sebagian wilayah bahkan sudah mulai memasuki musim kemarau sejak Maret–April.
Pada April 2026, wilayah yang mulai masuk kemarau antara lain Jawa Barat bagian utara, pesisir utara Jawa Tengah, DIY, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Nusa Tenggara.
Memasuki Mei 2026, pergeseran musim kemarau meluas ke Aceh, Sumatera Utara bagian tertentu, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, sebagian besar Jawa, Kalimantan Selatan, hingga sebagian wilayah Papua.
Sementara pada Juni 2026, kemarau diprediksi sudah meluas ke Sumatera Barat, sebagian Riau, Bengkulu, Kalimantan Tengah, Gorontalo, hingga Papua bagian tertentu.
Adang Hamdani menegaskan bahwa ancaman utama dari pergeseran musim ini adalah meningkatnya risiko kekeringan. Ia menjelaskan, kekeringan punya karakter berbeda dibanding bencana lain karena datangnya perlahan, sulit dikenali sejak awal, tetapi dampaknya bisa meluas ke banyak sektor.
Menurutnya, kekeringan tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisinya cenderung merayap, terakumulasi sedikit demi sedikit, hingga pada akhirnya baru terasa ketika dampaknya sudah cukup besar di lapangan. “Kekeringan itu datangnya merayap, berakumulasi, dan sering kali sulit ditentukan awal dan akhirnya,” ujarnya.
Di sisi lain, BRMP juga telah melakukan pemetaan terhadap kondisi lahan baku sawah nasional menggunakan indeks kekeringan SPI (Standardized Precipitation Index). Dari total lebih dari 7 juta hektare lahan sawah di Indonesia, mayoritas masih berada dalam kondisi relatif aman.
Data tersebut menunjukkan sekitar 87 persen lahan sawah masih dalam kategori normal, sementara 9 persen mulai masuk kondisi agak kering. Adapun 2 persen lainnya sudah tergolong kering, dan 1 persen berada dalam kondisi sangat kering.
Meski secara keseluruhan kondisi lahan masih didominasi kategori normal, keberadaan wilayah dengan status kering hingga sangat kering tetap menjadi perhatian serius.
Pasalnya, area tersebut memiliki potensi terdampak langsung terhadap penurunan produktivitas pertanian, terutama jika kondisi kekurangan air berlangsung lebih lama dari biasanya.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa ancaman kekeringan tidak bisa dipandang sebelah mata, terutama di tengah dinamika iklim yang terus berubah dan mulai menunjukkan pola yang kurang stabil.