Saturday, 17 October 2026


Mentan Ajak Kampus Hilirkan Riset, Targetkan Indonesia Jadi Superpower Pangan

29 Jun 2026, 13:16 WIBEditor : Herman

Mentan Amran saat menghadiri Sarasehan Kebangsaan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan perguruan tinggi, ilmuwan, dan lembaga riset memegang peran strategis dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara superpower melalui kekuatan sektor pangan.

Untuk itu, Kementerian Pertanian (Kementan) membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya agar hasil riset kampus tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat segera dihilirkan menjadi teknologi yang meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani.

Komitmen tersebut disampaikan Mentan Amran usai menghadiri Sarasehan Kebangsaan yang diikuti lebih dari 2.600 peserta, terdiri atas 219 rektor, 44 direktur perguruan tinggi vokasi, enam ketua perguruan tinggi, 1.596 dosen, serta ratusan ilmuwan dan peneliti dari berbagai lembaga, Sabtu (27/6).

"Insya Allah, kita akan berkolaborasi ke depan. Kita akan tingkatkan kolaborasi yang selama ini sudah dibangun," ujar Amran.

Amran mengatakan berbagai inovasi yang lahir dari perguruan tinggi telah terbukti mampu meningkatkan produktivitas sektor pertanian secara signifikan. Salah satunya melalui pengembangan benih unggul yang menghasilkan produktivitas padi jauh di atas rata-rata nasional.

Menurutnya, produktivitas padi yang sebelumnya rata-rata sekitar 5,5 ton per hektare kini mampu mencapai 9 ton, bahkan hingga 13,9 ton per hektare berkat dukungan teknologi hasil riset perguruan tinggi. "Ini hampir dua kali lipat. Itu karena teknologi," katanya.

Tidak hanya di sektor tanaman pangan, inovasi juga mampu meningkatkan produktivitas peternakan. Amran mencontohkan hasil riset yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada (UGM) mampu meningkatkan bobot sapi dari sekitar 500 kilogram menjadi mencapai satu ton.

Mentan menjelaskan Kementerian Pertanian selama ini telah menjalin kerja sama dengan berbagai perguruan tinggi dalam mengembangkan beragam inovasi yang siap diterapkan secara luas.

Kerja sama tersebut antara lain dilakukan bersama IPB dalam pengembangan benih unggul, yang hasil risetnya telah dibeli pemerintah senilai Rp250 miliar.

Sementara itu, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan traktor dan alat panjat kelapa, Universitas Hasanuddin (Unhas) menghasilkan inovasi di bidang ayam dan jagung, Universitas Andalas mengembangkan komoditas gambir, Universitas Lampung mengembangkan teknologi budidaya ubi, sedangkan Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan teknologi pengering (dryer). "Semua ini harus kita hilirkan agar manfaatnya benar-benar dirasakan petani," ujar Amran.

Ia menilai inovasi yang lahir dari kampus menjadi faktor utama dalam mendorong lonjakan produksi dan produktivitas pertanian nasional. "Kolaborasi ini sangat baik karena penemuan-penemuan baru yang mampu menciptakan lonjakan produksi maupun produktivitas berasal dari inovasi," katanya.

Amran optimistis Indonesia memiliki peluang besar menjadi salah satu negara superpower dunia melalui sektor pangan apabila seluruh elemen bangsa mampu membangun ekosistem riset dan inovasi yang kuat.

"Kalau kita mau menjadi superpower, tumpuannya adalah inovasi baru dari kampus. Ini luar biasa dan harus terus kita dorong," tegasnya.

Ajakan Mentan Amran mendapat dukungan penuh dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto. Menurutnya, sinergi antara Kementerian Pertanian dan perguruan tinggi merupakan langkah strategis untuk mempercepat hilirisasi hasil riset sehingga dapat dimanfaatkan langsung oleh petani maupun pelaku usaha pertanian.

"Tadi Bapak Menteri Pertanian menyampaikan keinginan yang sangat kuat agar perguruan tinggi ditantang menghasilkan inovasi yang siap dihilirkan. Produk-produk pendukung pertanian seperti elektronika, alat pertanian modern, hingga precision agriculture harus segera dimanfaatkan," ujarnya.

Brian menambahkan pihaknya akan segera menginventarisasi berbagai hasil penelitian yang siap dikembangkan bersama Kementerian Pertanian.

"Ini merupakan kolaborasi yang sangat luar biasa. Bapak Menteri Pertanian sangat terbuka dan sangat menunggu produk-produk perguruan tinggi yang siap dikerjasamakan. Kami akan segera menginventarisasi dan menyampaikannya kepada Bapak Menteri," katanya.

Tindak Lanjut Arahan Presiden

Kolaborasi tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto saat membuka Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2026, Jumat (26/6).

Dalam kesempatan itu, Presiden menegaskan perguruan tinggi harus menjadi motor kebangkitan bangsa melalui riset dan inovasi yang mampu menjawab berbagai tantangan nasional, termasuk mewujudkan kemandirian pangan serta memperkuat industri nasional.

Presiden menilai Indonesia memiliki seluruh modal untuk menjadi negara maju, bahkan menjadi superpower melalui kekuatan pangan, apabila pemerintah, perguruan tinggi, ilmuwan, peneliti, dan dunia industri mampu berkolaborasi menghasilkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Karena itu, menurut Presiden, hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium, tetapi harus dihilirkan menjadi teknologi yang mampu meningkatkan produktivitas, mengurangi ketergantungan impor, serta memperkuat daya saing nasional.

"Saya berkali-kali datang kepada kampus. Saya tanya profesor-profesor IPB, kenapa kita tidak bisa punya benih gandum? Kenapa kita harus impor gandum?" ujar Presiden.

Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk berani memulai berbagai terobosan melalui penguatan riset dan inovasi.

"Tidak apa-apa, minimal kita mulai. Kita harus berani mulai. Kita adalah negara keempat terbesar di dunia. Kita adalah negara yang kekayaannya luar biasa," tegasnya.

Reporter : Eko
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018