
Petani Cilacap mengakui Biosalin dan Cilamaya Muncul lebih tangguh di lahan berair, mampu bertahan saat sawah tergenang dan mendukung produksi padi.
TABLOIDSINARTANI.COM, Cilacap – Petani Cilacap mengakui Biosalin dan Cilamaya Muncul lebih tangguh di lahan berair, mampu bertahan saat sawah tergenang dan mendukung produksi padi.
Petani di Kecamatan Patimuan, Kabupaten Cilacap, mengakui varietas padi Biosalin dan Cilamaya Muncul menjadi andalan untuk dibudidayakan di lahan sawah yang kerap tergenang air.
Kedua varietas tersebut dinilai mampu bertahan dan tetap berproduksi di kondisi lahan yang sulit dibandingkan varietas padi lainnya.
Pengakuan tersebut disampaikan Kudrat Setianto dari Brigade Pangan Gemah Ripah, Kecamatan Patimuan.
Menurutnya, sebagian besar sawah di wilayah tersebut menghadapi persoalan genangan akibat buruknya sistem pembuangan air menuju Segara Anakan.
"Kalau di sini, Biosalin sama Cilamaya Muncul berani di air dalam. Untuk varietas yang lain masih bagus kalau airnya dangkal, tapi kalau lagi banyak air biasanya tidak beranak," kata Kudrat.
Ia menjelaskan, hamparan sawah seluas sekitar 25 hektare yang dikelola Brigade Pangan hampir setiap musim hujan mengalami genangan.
Bahkan saat kondisi yang dianggap rendah sekalipun, tinggi genangan masih berkisar 30–40 sentimeter dari permukaan tanah.
Karena kondisi tersebut, petani tidak bisa menerapkan sistem tanam sebar langsung.
Benih terlebih dahulu disemai di lahan kering sebelum dipindahkan ke sawah setelah berumur sekitar satu minggu.
Dalam kondisi tertentu, proses pindah tanam bahkan dilakukan hingga dua sampai tiga kali agar bibit tidak tenggelam.
"Kami pakai persemaian kering dulu, baru diturunkan ke sawah setelah cukup kuat. Kalau langsung ditanam, bibit bisa tenggelam," ujarnya.
Menurut Kudrat, kemampuan Biosalin bertahan di lahan tersebut sejalan dengan tujuan pengembangannya. Biosalin merupakan varietas padi yang dirakit oleh Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementerian Pertanian untuk mendukung budidaya pada lahan terdampak salinitas atau air payau.
Varietas ini memiliki toleransi yang lebih baik terhadap kadar garam sehingga menjadi salah satu alternatif bagi petani di wilayah pesisir yang menghadapi intrusi air laut maupun genangan air.
Sementara itu, Cilamaya Muncul juga menjadi pilihan petani karena memiliki daya adaptasi yang baik di lapangan.
Varietas unggul nasional tersebut dikenal memiliki potensi hasil yang tinggi, mampu menghasilkan anakan produktif dalam jumlah banyak, serta tahan terhadap wereng cokelat biotipe 1 dan 2 dan penyakit hawar daun bakteri.
Kombinasi karakter tersebut membuat Cilamaya Muncul tetap mampu tumbuh lebih baik dibandingkan varietas lain pada lahan yang sering tergenang.
"Yang penting tahan di air payau dan tahan di air dalam. Kalau varietas lain, dipupuk banyak pun percuma karena lahannya jadi asam dan tanaman tidak berkembang," ujar Kudrat.
Meski demikian, tantangan utama petani bukan hanya memilih varietas, tetapi juga persoalan infrastruktur pengelolaan air.
Kudrat mengatakan kawasan penampungan air menuju Segara Anakan telah mengalami sedimentasi sehingga kapasitas tampungnya terus berkurang.
Di sisi lain, sejumlah klep pengatur air juga sudah mengalami kerusakan sehingga air tidak dapat mengalir dengan baik ke hilir.
"Harusnya air dibuang ke Segara Anakan, tapi sekarang sudah dangkal. Air balik lagi ke sawah. Klep juga banyak yang bocor," katanya.
Akibat kondisi tersebut, musim tanam pertama (MT I) hampir setiap tahun mengalami keterlambatan karena petani harus menunggu genangan surut.
Tidak jarang benih yang telah disiapkan menjadi terlalu tua sebelum akhirnya bisa dipindahkan ke lahan.
Petani sebenarnya telah memanfaatkan pompa air untuk mempercepat pembuangan genangan. Namun, upaya tersebut dinilai belum efektif apabila kapasitas penampungan air di hilir belum diperbaiki.
"Kami sudah pakai pompa, tapi kalau tempat pembuangannya penuh ya tetap saja air tidak bisa keluar. Yang harus diperbaiki itu penampungan dan saluran pembuangannya," kata Kudrat.
Untuk memenuhi kebutuhan benih, petani di Patimuan sebagian besar mengandalkan benih hasil seleksi dari panen musim sebelumnya.
Benih tersebut dipilih dari tanaman yang memiliki pertumbuhan paling baik, kemudian disimpan dan digunakan kembali pada musim tanam berikutnya.
"Untuk bibit kami kebanyakan pakai turunan sendiri. Kami pilih lagi yang bagus, tidak asal ambil. Kalau ada bantuan pemerintah ya dipakai, tapi bantuan itu sifatnya hanya stimulan," ujarnya.
Selain menggunakan benih hasil seleksi sendiri, petani juga memperoleh benih dari bantuan pemerintah maupun penangkar benih bersertifikat yang memperbanyak benih sumber yang diproduksi Kementerian Pertanian.
Pola tersebut membuat ketersediaan benih varietas unggul tetap terjaga di tingkat petani.
Sementara itu, Ketua Gapoktan Sri Mulia Desa Bulupayung, Samiun, mengatakan sekitar 515 hektare sawah di wilayahnya dikelola oleh 24 kelompok tani.
Pengolahan lahan dilakukan secara bergiliran karena keterbatasan alat dan menyesuaikan kondisi lahan yang kerap tergenang.
Menurutnya, apabila sedimentasi di saluran pembuangan dapat dikeruk dan infrastruktur pengendalian air diperbaiki, produktivitas sawah di kawasan Patimuan berpotensi meningkat.
Di sisi lain, kehadiran Brigade Pangan sejak September tahun lalu juga mulai mendorong regenerasi petani dan memperkuat penerapan teknologi budidaya di lapangan.
Petani berharap pemerintah dapat memprioritaskan normalisasi kawasan penampungan air, rehabilitasi klep pengatur air, serta perbaikan saluran drainase.
Langkah tersebut dinilai menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi genangan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan varietas unggul seperti Biosalin dan Cilamaya Muncul untuk meningkatkan produktivitas padi di kawasan pesisir Kabupaten Cilacap.