Thursday, 16 July 2026


Alsintan TR2 Masih Minim, Pengolahan Sawah di Patimuan Harus Antre

03 Jul 2026, 16:36 WIBEditor : Gesha

Keterbatasan alsintan traktor roda dua (TR2) membuat pengolahan sawah di Patimuan, Cilacap, harus antre karena dipakai bergantian di ratusan hektare lahan.

TABLOIDSINARTANI.COM, Cilacap – Keterbatasan alsintan traktor roda dua (TR2) membuat pengolahan sawah di Patimuan, Cilacap, harus antre karena dipakai bergantian di ratusan hektare lahan.

Keterbatasan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa traktor roda dua (TR2) masih menjadi kendala utama percepatan pengolahan lahan di Kecamatan Patimuan, Kabupaten Cilacap.

Akibatnya, ratusan hektare sawah harus diolah secara bergiliran sehingga jadwal tanam kerap mundur, terutama pada musim tanam (MT) I.

Ketua Gapoktan Sri Mulia Desa Bulu Payung, Samiun, mengatakan kebutuhan traktor roda dua di wilayahnya belum sebanding dengan luas lahan yang harus digarap.

Di Desa Bulu Payung saja terdapat sekitar 515 hektare sawah yang dikelola oleh 24 kelompok tani.

"Kalau pengolahan lahan harus antre. Setelah selesai di satu hamparan, baru traktor pindah ke hamparan lainnya. Jadi waktunya cukup lama," ujar Samiun.

Menurutnya, keterbatasan TR2 membuat petani sulit mengejar waktu tanam. Semakin lama menunggu giliran olah tanah, semakin besar potensi mundurnya musim tanam berikutnya.

"Kalau alatnya masih sedikit, otomatis pekerjaan mundur. Padahal setelah panen seharusnya bisa langsung olah tanah supaya tanam berikutnya tidak terlambat," katanya.

Data Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Lingkungan Pertanian menunjukkan Kabupaten Cilacap telah membentuk 22 Brigade Pangan, melampaui target awal sebanyak 20 brigade. 

Untuk mendukung modernisasi pertanian, pemerintah juga telah menyalurkan 70 unit alsintan yang terdiri atas traktor roda dua, rice transplanter, combine harvester, pompa air, dan sprayer.

Namun, jumlah masing-masing jenis alsintan tidak dirinci sehingga kebutuhan TR2 di sejumlah sentra produksi masih belum sepenuhnya terpenuhi. 

Kondisi tersebut turut dirasakan Brigade Pangan Gemah Ripah di Kecamatan Patimuan.

Komandan Brigade Pangan Gemah Ripah, Kudrat Setianto, mengatakan persoalan mekanisasi semakin berat karena petani juga harus menghadapi genangan air yang hampir selalu terjadi saat musim hujan.

Menurut Kudrat, air yang seharusnya mengalir ke Segara Anakan justru kembali menggenangi persawahan akibat sedimentasi pada saluran penampung dan kondisi pintu air (klep) yang sudah tidak berfungsi optimal.

"Kalau musim hujan tinggi genangan bisa mencapai 30 sampai 40 sentimeter. Air buangan seharusnya ke Segara Anakan, tapi penampungannya sudah dangkal sehingga air balik lagi ke sawah," ujarnya.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut membuat petani tidak bisa langsung menebar benih di lahan.

Sebagai gantinya, mereka menggunakan persemaian kering terlebih dahulu sebelum bibit dipindahkan ke sawah saat genangan mulai surut.

"Kalau langsung ditebar bisa tenggelam. Jadi disemai dulu di darat, baru umur sekitar seminggu dipindahkan ke sawah. Bahkan kadang sampai dua sampai tiga kali pindah tanam," katanya.

Upaya mengurangi genangan sebenarnya telah dilakukan menggunakan pompa air. Namun, langkah tersebut belum efektif selama saluran pembuangan belum dinormalisasi.

"Pompa ada, tapi kalau penampungannya sudah dangkal ya airnya balik lagi. Solusinya tetap pengerukan sedimentasi dan perbaikan pintu air," jelasnya.

Selain persoalan air, petani juga harus menyesuaikan varietas padi dengan kondisi lahan.

Varietas seperti Biosalin dan Cilamaya Muncul dipilih karena dinilai lebih tahan terhadap genangan maupun air payau dibandingkan varietas lain.

Meski berbagai bantuan pemerintah telah diterima kelompok tani, Samiun berharap jumlah traktor roda dua dapat ditambah agar seluruh hamparan sawah dapat diolah lebih cepat.

Dengan mekanisasi yang lebih memadai, petani optimistis percepatan tanam dapat dilakukan sehingga produktivitas padi di Patimuan meningkat dan target swasembada pangan bisa tercapai.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018