Thursday, 16 July 2026


Pemda Andalkan Brigade Pangan untuk Lompatan Produksi Beras di Cilacap

03 Jul 2026, 17:37 WIBEditor : Gesha

Pemda mengandalkan Brigade Pangan untuk mempercepat optimasi lahan, regenerasi petani, dan mendorong lompatan produksi beras di Cilacap.

TABLOIDSINARTANI.COM, Cilacap – Pemda mengandalkan Brigade Pangan untuk mempercepat optimasi lahan, regenerasi petani, dan mendorong lompatan produksi beras di Cilacap.

Pemerintah Kabupaten Cilacap terus memperkuat peran Brigade Pangan sebagai ujung tombak percepatan produksi padi melalui program optimasi lahan (Oplah). 

Keterlibatan generasi muda dalam Brigade Pangan dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga keberlanjutan produksi sekaligus meningkatkan indeks pertanaman di salah satu lumbung padi terbesar di Jawa Tengah.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Sigit Widayanto, mengatakan saat ini terdapat 22 Brigade Pangan yang telah dibentuk di Kabupaten Cilacap. 

Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah seiring perluasan program optimasi lahan yang dijalankan pemerintah.

"Brigade Pangan mengikuti kegiatan optimasi lahan. Kalau optimasi lahannya bertambah, otomatis Brigade Pangan juga akan kita tumbuhkan lagi. Kurang lebih satu Brigade Pangan menangani sekitar 150 hektare lahan," ujar Sigit usai Gerakan Tanam Serempak di Cilacap, Jumat.

Menurutnya, keberadaan Brigade Pangan bukan untuk menggantikan kelompok tani (poktan) maupun gabungan kelompok tani (gapoktan), melainkan memperkuat kolaborasi antargenerasi dalam pengelolaan usaha tani.

Ia menjelaskan, selama ini sebagian besar anggota poktan dan gapoktan merupakan petani senior yang telah berpengalaman. 

Sementara Brigade Pangan diisi oleh generasi muda yang lebih adaptif terhadap penggunaan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta teknologi budidaya modern.

"Di Kabupaten Cilacap ada gapoktan, ada poktan, dan ada Brigade Pangan. Masing-masing harus saling bersinergi. Biasanya MT I dan MT II ditangani petani melalui poktan maupun gapoktan, sedangkan MT III lebih banyak dilaksanakan Brigade Pangan dengan mekanisasi," katanya.

Pembagian peran tersebut diharapkan mampu meningkatkan intensitas tanam sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan sawah sepanjang tahun.

Sigit mengakui, tantangan budidaya padi di Cilacap cukup beragam karena kondisi lahan tidak seragam. 

Di sejumlah wilayah terdapat lahan yang memiliki sistem pasang surut air, sementara di lokasi lain genangan air cenderung menetap sehingga memerlukan perlakuan khusus sebelum penanaman.

Ia mencontohkan, pada lokasi tanam terakhir yang dikunjungi dalam kegiatan tanam serempak, petani terlebih dahulu harus menyedot air dari lahan agar proses tanam dapat dilakukan secara optimal.

"Di Cilacap kondisi airnya bervariasi. Ada yang kering, ada yang airnya tidak bisa surut. Di lokasi ini termasuk yang airnya tidak berasurut, sehingga sebelum tanam harus dilakukan penyedotan air terlebih dahulu agar lahan siap ditanami," jelasnya.

Menurut Sigit, penanganan spesifik sesuai karakteristik lahan menjadi bagian penting dalam keberhasilan program optimasi lahan yang saat ini terus didorong pemerintah pusat bersama pemerintah daerah.

Program tersebut tidak hanya memperbaiki jaringan irigasi dan tata air, tetapi juga mendorong pemanfaatan mekanisasi pertanian melalui Brigade Pangan sehingga proses olah tanah, tanam hingga panen dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.

Kabupaten Cilacap sendiri merupakan salah satu sentra produksi padi nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2024 luas panen padi di Cilacap mencapai sekitar 106,35 ribu hektare dengan produksi sekitar 651,14 ribu ton gabah kering giling (GKG) atau setara sekitar 374,44 ribu ton beras. 

Meski mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya akibat berbagai faktor, Cilacap tetap menjadi salah satu penyumbang produksi beras terbesar di Jawa Tengah.

Pemerintah berharap percepatan tanam melalui optimasi lahan dan penguatan Brigade Pangan mampu mengembalikan bahkan meningkatkan produktivitas sawah di daerah tersebut.

Selain menjaga produksi pangan, keberadaan Brigade Pangan juga menjadi upaya regenerasi petani yang selama ini menjadi tantangan di berbagai daerah. 

Melalui pelibatan generasi muda, diharapkan sektor pertanian semakin menarik karena didukung penggunaan alsintan modern, manajemen usaha tani yang lebih profesional, serta peluang peningkatan pendapatan.

Sigit optimistis sinergi antara petani senior dan Brigade Pangan akan menjadi modal penting bagi Cilacap dalam mendukung target swasembada pangan nasional. 

Menurutnya, kolaborasi tersebut memungkinkan seluruh potensi lahan pertanian dapat dimanfaatkan secara optimal, terutama pada lahan hasil program optimasi yang diarahkan untuk meningkatkan indeks pertanaman hingga tiga kali dalam setahun.

"Dengan sinergi poktan, gapoktan, dan Brigade Pangan, kami optimistis produksi padi di Cilacap bisa terus meningkat sehingga kontribusi daerah terhadap ketahanan pangan nasional semakin besar," pungkasnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018