Friday, 09 October 2026


Panen Padi Bisa Naik 2 Kali Lipat? Begini Cara PM-AAS yang Mulai Dipakai Petani

07 Jul 2026, 10:43 WIBEditor : Gesha

Panen padi bisa naik hingga dua kali lipat dengan PM-AAS. Kenali teknologi pertanian modern yang membantu petani meningkatkan hasil dan menekan biaya.

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Panen padi bisa naik hingga dua kali lipat dengan PM-AAS. Kenali teknologi pertanian modern yang membantu petani meningkatkan hasil dan menekan biaya.

Upaya meningkatkan produksi beras nasional kini memasuki babak baru. Kementerian Pertanian (Kementan) mulai memperluas penerapan Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS), sebuah sistem budidaya padi modern yang diklaim mampu mendongkrak produktivitas hingga hampir dua kali lipat dibandingkan metode konvensional.

Teknologi ini menjadi salah satu strategi utama pemerintah dalam mempercepat target swasembada pangan berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim, keterbatasan lahan sawah, dan meningkatnya kebutuhan pangan nasional.

Berdasarkan hasil demonstrasi lapangan yang dilakukan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BPMP) Kementan, produktivitas padi melalui PM-AAS mampu mencapai 10 hingga 12,4 ton gabah per hektare, bahkan pada beberapa lokasi uji coba berhasil menembus 13 ton per hektare. Sebagai perbandingan, rata-rata produktivitas padi nasional saat ini masih berada di kisaran 5,5 ton per hektare.

Artinya, teknologi tersebut berpotensi meningkatkan hasil panen hampir dua kali lipat apabila diterapkan sesuai standar budidaya.

Apa Itu PM-AAS

PM-AAS merupakan sistem budidaya padi modern yang menggabungkan mekanisasi pertanian, pertanian presisi, digitalisasi, serta pengelolaan usaha tani secara intensif.

Berbeda dengan pola tanam konvensional, sistem ini tidak hanya mengubah teknik budidaya, tetapi juga mengintegrasikan penggunaan alat modern, pengelolaan air berbasis teknologi, hingga penguatan kelembagaan petani melalui pendekatan korporasi.

Konsep tersebut mengadopsi praktik budidaya modern yang berkembang di Delta Arkansas, Amerika Serikat, salah satu sentra produksi padi terbesar di negara tersebut. Setelah melalui berbagai kajian dan uji lapang, teknologi tersebut kemudian disesuaikan dengan kondisi agroekosistem Indonesia.

Enam Prinsip PM AAS

Peningkatan hasil panen pada PM-AAS didukung enam prinsip utama.

Pertama, penggunaan sistem tanam benih langsung (Tabela) dengan pola tanam rapat menggunakan drum seeder. Metode ini mampu menghasilkan populasi tanaman sekitar 800 ribu hingga 1,2 juta tanaman per hektare, sehingga jumlah anakan produktif meningkat.

Kedua, efisiensi penggunaan air melalui sistem irigasi presisi berbasis digital sehingga distribusi air menjadi lebih hemat namun tetap optimal bagi pertumbuhan tanaman.

Ketiga, mekanisasi hampir di seluruh tahapan budidaya, mulai dari pengolahan lahan menggunakan traktor dan land leveler, penanaman dengan drum seeder, penyemprotan memakai drone pertanian, hingga panen menggunakan combine harvester.

Keempat, pengelolaan usaha tani berbasis korporasi melalui konsolidasi lahan dan penguatan kelompok tani maupun koperasi agar tercipta skala ekonomi yang lebih efisien.

Kelima, intensifikasi budidaya melalui pemupukan berimbang, pengelolaan irigasi, pengendalian gulma, serta perlindungan tanaman secara lebih optimal.

Terakhir, penerapan teknologi disesuaikan dengan kondisi spesifik setiap daerah sehingga mampu memaksimalkan potensi lahan masing-masing.

PM-AAS juga memanfaatkan berbagai perangkat pertanian modern.

Petani menggunakan Automatic Weather Station (AWS) untuk memantau kondisi cuaca secara real time. Data tersebut membantu menentukan waktu tanam, pemupukan hingga pengendalian hama secara lebih akurat.

Sementara pengelolaan air dilakukan menggunakan metode Alternate Wetting and Drying (AWD), yaitu sistem pengairan berselang yang terbukti mampu menghemat penggunaan air tanpa menurunkan produktivitas tanaman.

Di sisi lain, pemupukan dilakukan secara berimbang berdasarkan kebutuhan unsur hara tanaman dengan tambahan biochar maupun pupuk organik untuk menjaga kesuburan tanah.

Hasil Uji Lapang

Keberhasilan PM-AAS mulai terlihat dari sejumlah lokasi percontohan. Di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, penerapan varietas Inpago 12 menghasilkan rata-rata produktivitas 10,4 ton per hektare.

 

Analisis usaha tani menunjukkan biaya produksi sekitar Rp40,5 juta, dengan hasil panen sekitar 10.400 kilogram dan nilai penerimaan mencapai Rp67,6 juta, sehingga memberikan keuntungan sekitar Rp27 juta.

Keberhasilan serupa juga terlihat pada Gelar Teknologi PENAS XVII Gorontalo. Melalui penerapan varietas Inpago 12 Agritan, produktivitas diperkirakan mencapai 12,48 ton per hektare, bahkan pada beberapa petak mencapai 13,43 ton per hektare.

Analisis usaha tani menunjukkan pengeluaran sekitar Rp15,17 juta per hektare, sedangkan pendapatan mencapai sekitar Rp30,6 juta, sehingga keuntungan petani diperkirakan sekitar Rp16,35 juta per hektare per musim tanam.

Hasil tersebut memperlihatkan bahwa peningkatan produktivitas berjalan seiring dengan peningkatan keuntungan petani.

Keberhasilan PM-AAS juga mendapat respons positif dari para petani.

Seorang petani asal Kalimantan Timur mengaku baru pertama kali melihat pertumbuhan padi setinggi dan semenghasilkan itu.

Menurutnya, malai padi tampak lebih panjang dengan jumlah bulir yang jauh lebih banyak dibandingkan tanaman yang biasa mereka budidayakan.

Pengakuan serupa datang dari petani Kalimantan Tengah yang menyebut pertumbuhan tanaman pada demplot PM-AAS jauh melampaui kebiasaan yang mereka lihat selama bertahun-tahun.

 

Testimoni tersebut memperkuat keyakinan bahwa modernisasi pertanian mampu mengubah cara pandang petani terhadap teknologi baru.

 

Mulai Diterapkan

Pengembangan PM-AAS dilakukan secara bertahap sejak 2025.

Program diawali melalui kajian skala kecil di Kabupaten Muara pada Maret 2025, kemudian diperluas ke Kabupaten Soppeng pada September 2025 sebelum memasuki tahap validasi seluas 300 hektare hingga Maret 2026.

Memasuki April 2026, Kementan mengembangkan demonstration farm seluas 2.000 hektare di 15 provinsi.

Hingga 1 Juli 2026, PM-AAS tercatat telah diterapkan di 34 provinsi dengan total luasan sekitar 1.846 hektare.

Ke depan, pemerintah menargetkan pengembangan teknologi ini hingga 1 juta hektare sebagai bagian dari strategi mempercepat swasembada pangan nasional.

Potensi pengembangan terbesar berada di Jawa Barat seluas 120.668 hektare, disusul Jawa Timur 104.360 hektare, Jawa Tengah 96.535 hektare, Kalimantan Selatan 78.370 hektare, Nusa Tenggara Timur 62.526 hektare, Aceh 60.906 hektare, Sulawesi Selatan 57.746 hektare, dan Sumatera Selatan 55.642 hektare.

Dengan kombinasi mekanisasi, digitalisasi, efisiensi penggunaan sumber daya, serta peningkatan produktivitas, PM-AAS diharapkan menjadi salah satu pilar penting transformasi pertanian nasional menuju swasembada pangan yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani Indonesia.

Pilar Baru Swasembada Pangan

 

PM-AAS hadir pada momentum yang tepat ketika Indonesia sedang memperkuat ketahanan pangan nasional.

Pertumbuhan jumlah penduduk, perubahan iklim, keterbatasan tenaga kerja pertanian, hingga tekanan terhadap lahan produktif menuntut sistem budidaya yang lebih efisien dan adaptif.

Dengan memadukan mekanisasi, digitalisasi, efisiensi sumber daya, serta pengelolaan usaha tani berbasis korporasi, PM-AAS membuka jalan menuju pertanian yang lebih modern, produktif, dan berdaya saing.

Lebih dari sekadar mengejar peningkatan hasil panen, PM-AAS menawarkan paradigma baru bahwa swasembada pangan harus dibangun melalui inovasi, efisiensi, dan keberlanjutan.

 

Ketika teknologi mampu diadopsi secara luas oleh petani Indonesia, cita-cita mewujudkan produksi pangan yang kuat sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani bukan lagi sekadar harapan, melainkan target yang semakin nyata untuk dicapai.

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018