Thursday, 16 July 2026


Tabela Modern dalam PM-AAS Bikin Tanam Padi Lebih Cepat, Hemat, dan Produktif

09 Jul 2026, 10:27 WIBEditor : Gesha

Penerapan metode tanam benih langsung (Tabela) modern menjadi salah satu kunci keberhasilan sistem Pertanian Modern–Advance Agriculture System (PM-AAS) dalam meningkatkan efisiensi budidaya padi.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Tabela modern dalam PM-AAS mempercepat tanam padi, menghemat biaya produksi, meningkatkan populasi tanaman, dan mendukung panen di atas 10 ton per hektare.

 

Penerapan metode tanam benih langsung (Tabela) modern menjadi salah satu kunci keberhasilan sistem Pertanian Modern–Advance Agriculture System (PM-AAS) dalam meningkatkan efisiensi budidaya padi.

Teknologi ini tidak hanya memangkas tahapan tanam, tetapi juga mampu menekan biaya produksi, mengatasi keterbatasan tenaga kerja, serta membentuk populasi tanaman yang lebih seragam untuk mendukung produktivitas hingga di atas 10 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.

Setelah tahapan pemilihan varietas unggul dan persiapan lahan dilakukan dengan baik, keberhasilan budidaya dalam PM-AAS ditentukan oleh penerapan metode Tabela yang dipadukan dengan sistem proteksi tanaman sejak benih hingga fase generatif. Kombinasi kedua teknologi tersebut menjadi fondasi utama dalam menjaga populasi tanaman tetap optimal selama masa pertumbuhan.

Peneliti Pemulia Tanaman, Genetika, dan Bioteknologi Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Padi, Dr. Wage Ratna Rohaeni, menjelaskan bahwa PM-AAS bukan sekadar mengubah metode tanam, melainkan menghadirkan sistem budidaya yang mengintegrasikan seluruh komponen teknologi secara terpadu.

"PM-AAS mengoptimalkan populasi tanaman, efisiensi biaya produksi, penggunaan mekanisasi, serta perlindungan tanaman sejak awal. Semua komponen harus berjalan bersama sehingga tanaman mampu menghasilkan produktivitas tinggi," ujar Wage.

Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi jawaban atas tantangan pertanian padi saat ini, terutama semakin mahalnya biaya produksi dan semakin sulitnya memperoleh tenaga kerja untuk kegiatan tanam.

Pangkas Tahapan Budidaya

Selama ini petani Indonesia mengenal berbagai metode budidaya padi, mulai dari tanam pindah konvensional, sistem jajar legowo, hingga tanam benih langsung secara sederhana. Seiring perkembangan teknologi, berbagai negara produsen padi juga terus mengembangkan sistem tanam yang lebih efisien.

Dalam buku saku PM-AAS yang disusun BRMP Padi dijelaskan bahwa Indonesia dikenal dengan sistem jajar legowo, Amerika Serikat mengembangkan direct seeding, China menerapkan broadcasting seeding yang dipadukan dengan teknologi smart farming, sedangkan Vietnam mengembangkan sistem wet rice farming.

PM-AAS kemudian mengadopsi berbagai keunggulan tersebut dengan menyesuaikannya terhadap kondisi agroekosistem Indonesia. Salah satu inovasi utamanya adalah penggunaan metode Tabela modern yang memanfaatkan berbagai alat tanam mekanis sesuai kebutuhan petani.

Berbeda dengan sistem tanam pindah yang mengharuskan petani membuat persemaian, mencabut bibit, kemudian memindahkannya ke lahan produksi, metode Tabela langsung menempatkan benih pada lahan yang telah dipersiapkan.

Cara ini membuat proses budidaya menjadi lebih singkat karena beberapa tahapan dapat dihilangkan tanpa mengurangi kualitas pertumbuhan tanaman.

"Semakin sedikit tahapan budidaya yang dilakukan tanpa mengurangi kualitas pertumbuhan tanaman, maka efisiensi usahatani akan meningkat. Itu menjadi salah satu prinsip PM-AAS," kata Wage.

Wage menuturkan, penggunaan Tabela modern dirancang untuk menjawab persoalan yang kini banyak dihadapi petani, yakni keterbatasan tenaga kerja tanam dan tingginya ongkos produksi.

Dalam penerapannya, PM-AAS menyediakan berbagai pilihan alat sesuai luas lahan dan kemampuan petani.

Untuk lahan berukuran kecil, petani dapat menggunakan drum seeder manual yang memiliki konstruksi sederhana, mudah dipindahkan, dan membutuhkan investasi relatif rendah.

Sementara pada lahan yang lebih luas tersedia direct seeder tipe R2 maupun T-R4 yang mampu menghasilkan jarak tanam lebih seragam sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih merata.

Adapun kawasan budidaya berskala besar dapat memanfaatkan riding tabela yang menggunakan traktor maupun drone seeder untuk mempercepat proses penanaman dengan kapasitas kerja yang jauh lebih tinggi.

Menurut Wage, mekanisasi bukan semata menggantikan tenaga manusia, tetapi memastikan benih tersebar merata sehingga seluruh tanaman memiliki peluang tumbuh yang sama.

"Keseragaman populasi merupakan dasar pembentukan hasil. Jika sejak awal benih tersebar merata, maka tanaman memiliki peluang tumbuh yang sama sehingga produktivitas meningkat," ujarnya. 

Lantas Model Populasi yang bisa diterapkan petani seperti apa? cek selanjutnya...

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018