
Varietas unggul kelapa untuk santan
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Upaya pemerintah mempercepat hilirisasi kelapa nasional mendapat dukungan kuat dari dunia riset. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini telah menghasilkan puluhan varietas kelapa unggul yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri, mulai dari santan, minyak kelapa, air kelapa hingga gula kelapa.
Hal tersebut disampaikan Ketua Kelompok Riset Pemulia Tanaman Pusat Riset Tanaman Palma BRIN, Ismail Maskromo, dalam webinar bertajuk Hilirisasi, Ungkit Nilai Tambah dan Daya Saing Kelapa Nasional yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Rabu (22/7).
Menurut Ismail, saat ini kelapa kembali menjadi komoditas yang mendapat perhatian besar dari pemerintah. Dukungan BPDP terhadap riset kelapa menjadi momentum penting untuk mempercepat lahirnya inovasi yang mampu mendukung pengembangan industri hilir.
"Kelapa semakin seksi dan mendapat perhatian lebih dari pemerintah. BPDP membuka peluang untuk riset kelapa dan ini merupakan kesempatan bagi kita untuk meningkatkan produksi kelapa dengan dukungan riset yang kuat," ujar Ismail.
Ia menjelaskan, hingga kini para peneliti telah menghasilkan 56 varietas unggul kelapa yang terdiri atas empat varietas Kelapa Genjah Unggul Nasional, sembilan varietas Kelapa Genjah Unggul Lokal, sebelas varietas Kelapa Dalam Unggul Nasional, 22 varietas Kelapa Dalam Unggul Lokal, serta sepuluh varietas kelapa hibrida.
Menurutnya, keberhasilan menghasilkan puluhan varietas unggul tersebut menjadi modal besar bagi Indonesia dalam mendukung program hilirisasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap varietas dikembangkan sesuai kebutuhan industri. "Yang terpenting sekarang adalah memastikan produk apa yang akan kita hasilkan dari kelapa ini. Dari sana kita bisa menentukan varietas apa yang akan ditanam," katanya.
Jenis Kelapa
Ismail menjelaskan, kelapa dalam masih menjadi pilihan utama untuk menghasilkan minyak kelapa karena memiliki ukuran buah besar dan kandungan minyak yang tinggi. Namun, tipe ini memiliki kelemahan karena baru mulai berbuah pada umur lima hingga enam tahun serta pertumbuhan batang yang relatif cepat.
Sebaliknya, kelapa genjah memiliki banyak keunggulan. Selain mulai berbuah hanya dalam waktu 1,5 hingga 2,5 tahun, pertumbuhan batangnya lebih lambat sehingga pohonnya tidak cepat menjulang tinggi. Kondisi tersebut membuat proses panen menjadi jauh lebih mudah dan efisien. "Kelapa genjah sangat potensial untuk pengembangan industri santan, air kelapa, maupun nira karena cepat berbuah dan lebih mudah dipanen," jelasnya.
Sementara itu, varietas kelapa hibrida dikembangkan untuk menggabungkan keunggulan kedua tipe tersebut. Kelapa ini mampu berbuah lebih cepat dibanding kelapa dalam, memiliki ukuran buah sedang, serta cocok digunakan sebagai bahan baku minyak, santan, dan berbagai produk olahan lainnya.
Ismail memperkenalkan tiga varietas kelapa genjah unggul terbaru yang telah dilepas BRIN dan diproyeksikan menjadi andalan industri santan nasional. Varietas pertama, Genjah Entog Kebumen yang mulai berbuah pada umur sekitar 2,5 tahun. Varietas ini memiliki produktivitas tinggi, daging buah tebal, serta pertumbuhan batang hanya sekitar 31,37 sentimeter per tahun.
Keunggulan utamanya adalah kandungan lemak santan mencapai 43 persen, dry matter 50,22 persen, dan tingkat kemanisan santan sebesar 15,60 persen. "Kelapa ini kami sebut sebagai raja lemak santan karena memiliki kandungan lemak paling tinggi sehingga sangat potensial mendukung industri santan," ungkap Ismail.
Varietas kedua adalah Genjah Merah Bali yang juga mulai berbuah pada umur sekitar 2,5 tahun. Selain menghasilkan santan berkualitas dengan kandungan lemak sekitar 35 persen, varietas ini memiliki potensi menghasilkan lebih dari tiga liter nira per pohon setiap hari sehingga cocok dikembangkan sebagai kelapa multiguna.
Sementara itu, Genjah Hijau Erabolo Labuhan Batu menjadi varietas paling cepat berbuah, yakni hanya sekitar 1,5 tahun setelah tanam. Varietas ini memiliki kandungan lemak santan mencapai 40,5 persen dan tingkat kemanisan santan hingga 16,05 persen. "Dengan berbagai keunggulan tersebut, varietas ini bisa dikatakan sebagai kelapa yang paling cepat berbuah sekaligus memiliki santan paling manis," ujarnya.
Selain menghasilkan buah lebih cepat, varietas genjah juga memiliki pertumbuhan batang yang lebih lambat. Ismail membandingkan Kelapa Hibrida PB 121 yang pada umur 39 tahun dapat mencapai tinggi sekitar 17 meter, sedangkan Kelapa Genjah Entog Kebumen pada umur sekitar 40 tahun diperkirakan hanya memiliki tinggi 10 hingga 12 meter.
"Ini membuktikan bahwa varietas genjah sangat mempermudah proses panen karena pohonnya jauh lebih pendek," katanya. Namun demikian, Ismail memberikan catatan, keberhasilan hilirisasi kelapa memerlukan dukungan regulasi pemerintah, inovasi teknologi, serta pengembangan varietas unggul yang sesuai dengan kebutuhan industri.
"Mutu genetik benih kelapa harus terus ditingkatkan melalui riset pemuliaan, teknologi molekuler, dan perbanyakan massal secara in vitro. BRIN siap berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung hilirisasi kelapa Indonesia sehingga mampu meningkatkan nilai tambah dan daya saing komoditas ini di masa depan," tuturnya