Jumat, 12 Desember 2025


Pendataan Varietas Lokal, Selamatkan Plasma Nutfah Indonesia

24 Okt 2018, 14:27 WIBEditor : Gesha

Pendataan varietas lokal menjadi penting untuk tetap menjaga plasma nutfah Indonesia

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Kekayaan sumberdaya alam genetik (SDG) atau plasma nutfah Indonesia sudah terkenal. Namun sayangnya, pemanfaatannya masih belum optimal karena pendataan yang kurang.

Indonesia mempunyai jutaan jenis koleksi beragam flora dan fauna, untuk tanaman obat saja ada 7500 jenis. Padahal, bila SDG sebagai varietas lokal ini dapat dikembangkan secara optimal bisa menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

"Hingga saat ini belum semua sumberdaya hayati dimanfaatkan dengan baik bahkan beberapa diantaranya menjadi punah karena ketidaktahuan dan minimnya konservasi genetik," ungkap Kepala Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perijinan Varietas (PPVTPP), Prof Erizal Jamal saat Seminar Pengembangan dan Pemanfaatan Varietas Lokal Indonesia, Rabu (24/10).

Padahal, upaya perlindungan terhadap kekayaan SDG diawali dengan dokumentasi dan pendataan yang baik. Kemudian ada beragam pendekatan dalam pelestarian, pemanfaatan, perlindungan biofifisik konservasi serta perlindungan hukum.

"Rendahnya pendaftaran varietas lokal ini karena lemahnya kesadaran dan pemahaman masyarakat lemahnya kesadaran dan pemahaman masyarakat dan pemerintah daerah terhadap pentingnya keberadaan SDG," tukasnya.

Hingga sekarang baru ada 1065 varietas lokal yang sudah terdaftar di Pusat PVTPP dari potensi yang diperkirakan mencapai ratusan ribu koleksi di seluruh Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan percepatan pendaftaran varietas lokal dengan kerjasama berbagai pihak terutama Dinas Pertanian, Balai Pengawas dan Sertififikasi Benih hingga Balai Pengkajian Teknologi Pertanian se-Indonesia. "Kalau dulu per tahun hanya 50 varietas lokal yang terdaftar. Sekarang, per tahun sekitar 200 varietas lokal yang didaftarkan," tuturnya.

Diakui Prof. Erizal, deskripsi dari varietas lokal masih dilakukan sederhana oleh pihaknya. Karena itu perlu adannya peningkatan deskripsi varietas dalam bentuk marka molekuler. "Perwakilan daerah (dinas maupun BPSB) kami latih deskripsi lalu mereka yang lakukan sendiri dengan melihat bentuk fisik daun, bunga dan sebagainya. Kita sekarang sedang rintis kerjasama dengan BB Biogen untu dilatih marka molekulernya," tuturnya.

Pentingnya pendataan varietas lokal ini juga dinilai penting oleh pemerhati lingkungan hidup, Prof. Emil Salim. Menurutnya, Indonesia sangat beranekaragam mulai dari jenis sampai agroekosistemnya. "Karena itu, tulis, catat, daftarkan varietas lokal yang ada di tiap daerah," tuturnya.

Kementerian Pertanian menurut Prof. Emil merupakan penanggungjawab atas pendataan kekayaan varietas lokal yang ada di Indonesia. "Karena itu, kembangkan keanekaragaman hayati di seluruh Indonesia," tuturnya.

Pendataan ini juga penting untuk menjadi database nasional sehingga memudahkan semua SDG yang dimiliki Indonesia bahkan sudah berkembang di luar negeri.

Staff Ahli Menteri Bidang Perdagangan dan Kerjasama Internasional Kementerian Pertanian, Mat Syukur pendataan nanti sebaiknya ditindak lanjuti dengan beragam upaya tindakan nyata dalam pelestarian SDG sekaligus upaya pengembangannya, yang diawali dengan pengembangan varietas lokal di daerah setempat.

Pengembangan Ekonomi

Setelah varietas lokal tersebut dilakukan pendataan dan pendaftaran, langkah selanjutnya yang terpenting adalah pengembangan, khususnya yang bersentuhan langsung dengan kegiatan ekonomi masyarakat sejalan dengan potensi daerah. Contohnya melalui pengembangan kuliner dan daerah tujuan wisata spesifik lokasi.

Banyak contoh daerah di Indonesia yang menjadikan varietas lokal yang sudah didaftarkan menjadi Indikasi Geografis (IG) dan menjadi ikon serta daya tarik dalam pengembangan wisata dan ekonomi daerah. Contohnya, Kopi Gayo, Beras Cianjur, Beras Solok, dan lainnya.

Prof. Emil Salim sendiri menuturkan varietas lokal juga bisa dikembangkan hingga menjadi ikon negara seperti halnya Ginseng yang berasal dari Korea, Mangga di Filipina, atau bahkan Tulip di Belanda. Sehingga bisa memberikan nilai tambah dari varietas yang kita miliki.

Lebih lanjut, Prof. Emil menuturkan penting sekali mengembangkan varietas lokal untuk obat, pariwisata dan lain-lain. Untuk diketahui, data dari BB Biogen ada sekitar 3.256 spesies tanaman, terbanyak tanaman obat yang belum di eksplorasi. Padahal, sudah banyak jurnal-jurnal kesehatan di seluruh Indonesia yang memuat manfaat dari beragam tanaman obat.

Indonesia sebenarnya memiliki sebuah wahana koleksi sekaligus pengembangan pariwisata dalam bentuk Taman Buah Mekarsari di Cileungsi Kabupaten Bogor yang diresmikan 14 Oktober 1995. Kepala Divisi Penelitian dan Pengembangan Tanaman Taman Buah Mekarsari, Azis Natawijaya menuturkan kini pihaknya telah memiliki 1400 jenis buah, baik varietas lokal maupun varietas dari luar negeri.

Ditambah dengan 100 ribu tanaman biofarmaka, tanaman pangan, tanaman sayuran, kini Taman Buah Mekarsari menjadi lokasi agrowisata yang menarik secara nasional. Pengunjung juga dapat menikmati buah-buah segar dan dapat memetik buah-buahan tersebut secara langsung dari pohonnya.

Bagi yang ingin membeli bibit tanaman, dilokasi ini juga disediakan Garden Center yang menjadi tempat penjualan aneka bibi tanaman buah dan sayur.t Selain itu di Mekarsari ini juga terdapat pusat iptek seperti Laboratorium untuk melakukan penyilangan verietas tumbuhan guna menghasilkan tumbuhan dengan varietas baru. (gsh)

 

 

 

 

 

 

 

Reporter : Gesha
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018