
Belanda termasuk berhasil dalam mengembangkan varietas lokal untuk menjadi branding negara tersebut dengan adanya tulip
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Indonesia memiliki varietas lokal yang beragam, namun pemanfaatannya masih rendah. Karena itu, sebaiknya Indonesia meniru Belanda yang sukses dengan memanfaatkan Tulip sebagai trademark.
Hal tersebut diungkapkan Staff Ahli Menteri Bidang Perdagangan dan Kerjasama Internasional Kementerian Pertanian, Mat Syukur pada saat Seminar Pengembangan dan Pemanfaatan Varietas Lokal Indonesia, Rabu (24/10).
"Belanda kini menjadi salah satu penghasil beragam produk pertanian di dunia. Kini Belanda menjadi negara kedua eksportir pangan. Tahun 2017 saja, total nilai ekspor US$ 113 Milyar atau sekitar 2 Milyar Euro dengan andalan ekspor adalah bunga, umbi, daging dan susu.
Padahal luas Belanda tidak sampai seluas Provinsi Jawa Timur yaitu 1300 km persegi dan dengan lahan terbatas itulah, Belanda bisa mengekspor ke seluruh dunia. "Kunci keberhasilan mereka adalah teknologi dan sumberdaya manusia yang mumpuni disamping beragam plasma nutfah yang memadai dan digunakan untuk menunjang ekonomi masyarakat," bebernya.
Lebih lanjut Mat Syukur menuturkan Indonesia sebenarnya beruntung karena berada di khatulistiwa dan dilimpahi matahari sepanjang tahun dan ketersediaan sumberdaya air yang memadai. "Belanda menggunakan plasma nutfah tersebut sebagai sumber utama dalam pengembangan benih sebagai tulang punggung utama dalam pengembangan beragam tanaman dan ternak," tuturnya.
Baca Juga : Pendataan Varietas Lokal, Selamatkan Plasma Nutfah Indonesia
Pemerhati lingkungan dan sumberdaya alam Indonesia, Prof. Emil Salim pun memaparkan hal serupa. Belanda mempunyai pendataan sumberdaya genetik yang mumpuni bahkan memiliki rekomendasi teknologi pada agrosistem lokal pada musim tertentu. "Tak hanya pendataan dan proses produksi saja, pemanfaatan varietas lokal juga menjadi kunci sukses Belanda dalam pengembangan Tulipnya," tuturnya.
Bahkan tulip Belanda menjadi tujuan pariwisata yang terkenal di dunia khususnya pada saat musim semi. "Semua orang, agendanya adalah mengunjungi Belanda untuk lihat tulip. Indonesia harus mulai mencari varietas lokal yang bisa dibanggakan bahkan menjadi tujuan wisata dunia," jelasnya.
Misalnya di Sumatera Utara dikembangkan varietas lokal untuk kemudian menjadi daya tarik wisata tahunan yang berskala besar. "Disinilan peranan Kementerian Pertanian untuk mengembangkan keunggulan varietas dari plasma nutfah tanaman Indonesia," harapnya.
Prof. Emil berpesan bahwa alam Indonesia itu khas dan gunakan keuntungan tersebut sebagai daya saing komparatif di dunia. Sehingga pertanian bukan hanya pangan semata tetapi bagaimana meningkatkan nilai tambah dari isi alam Indonesia. (gsh)