Kamis, 22 Agustus 2019


Waspadai Bencana Zoonosis dengan Komitmen One Health

29 Jan 2019, 18:30 WIBEditor : Gesha

Berbagai Kementerian di Indonesia sepakat berkomitmen One Health untuk pengendalian penyakit infeksi baru dan zoonosis | Sumber Foto:PUTRI

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Masyarakat saat ini lebih familiar mengenal bencana alam seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, padahal bencana non alam juga tak kalah menjadi ancaman serius bagi kehidupan umat manusia. Salah satunya yaitu Penyakit Infeksi Baru (PIB) dan Zoonosis.

Zoonosis merupakan penyakit atau infeksi yang menular secara alami dari hewan vertebrata ke manusia. Penyakit ini sudah beberapa kali ditemui di Indonesia seperti penyebaran penyakit flu burung, ebola, antraks, rabies dan lainnya.

Melalui kolaborasi, koordinasi dan komunikasi antara Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementerian Pertanian (Kementan), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Dalam Negeri,Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan hingga Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes-PDTT) meluncurkan tiga dokumen penting untuk pencegahan dan penanggulangan Penyakit Infeksi Baru/Berulang (PIB) dan zoonosis melalui pendekatan One Health.

“Yang utama adalah suatu komitmen, karena melibatkan lintas sektoral. Mulai dari koordinasi dan komunikasi. Kemudian komitmen tersebut kita tuangkan dalam sebuah dokumen yang dapat menjadi acuan atau referensi bagi masyarakat dalam menanani penyakit ini,” kata Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementan, Fadjar Sumping Tjatur Rasa dalam acara Peluncuran Dokumen : Pendekatan One Health dalam Penanggulangan Bencana Non Alam Penyakit Infeksi Baru/Berulang dan Zoonosis, Jakarta, Selasa (29/1).

Fadjar menambahkan jika Indonesia dikenal kaya akan flora fauna dan sering dijuluki sebagai mega biodiversitas. Tetapi di sisi lain juga menjadi peluang tempat untuk penularan penyakit.

Karenanya, permasalahan zoonosis ini perlu dikendalikan sehingga tidak berkembang menjadi wabah atau pandemic. 

Ditjen PKH sebagai bagian dari Kementan memiliki dua tugas fungsi, pertama yaitu meningkatkan produksi peternakan dalam rangka penyediaan protein hewani. Kedua yaitu meningkatkan status kesehatan hewan, diantaranya untuk melindungan sumberdaya hewan atau ternak.

Fadjar menambahkan jika penanggulangan penyakit hewan merupakan bagian dari kesehatan hewan. Karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai kesehatan maupun bahaya penyakit hewan.

Pemerintah dalam hal ini Kementan melakukan pelatihan yang juga gabungan dengan sektor terkait.

“Karena memang penyebaran penyakit ini melibatkan antara manusia hewan serta lingkungan, maka dari itu perlu adanya komitmen beberapa pihak. Pelatihan juga dilakukan seperti studi kasus serta menjalin bentuk koordinasi yang baik baik itu tingkat pusat hingga daerah,” jelasnya.

Dana desa yang dimiliki oleh Kemendes-PDTT pun kini diarahkan untuk membangun Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di daerah-daerah. Bahkan Puskeswan tersebut tidak hanya untuk menangani penyakitnya, tetapi juga dalam urusan budidaya ternaknya, pakan dan lain-lain.

Untuk diketahui, pilot project program Pencegahan dan Pengendalian PIB dan zoonosis ini telah dilakukan di empat wilayah kabupaten percontohan diantaranya Bengkalis, Ketapang, Boyolali dan Minahasa.

 

Reporter : Putri/Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018