Rabu, 24 Juli 2019


Serang Tanaman Jagung, Waspadai Ulat Tentara Jenis Baru

07 Peb 2019, 16:47 WIBEditor : Yulianto

Spidoptera frugiperda yang memakan daun tanaman jagung | Sumber Foto:Noble Research Institute

Dalam waktu cepat hama tersebut telah mewabah dari Benua Amerika pada tahun 2016, masuk ke Benua Afrika dan menyebar di wilayah Asia hingga kini sudah ke Thailand pada tahun 2018

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Ulat grayak menjadi salah satu hama yang kerap mengganggu pertanian di Indonesia, termasuk pertanaman jagung. Namun kini ada jenis ulat grayak baru yang tengah mewabah di dunia yakni Fall Armyworm (FAW) yang mesti diwaspadai masuk ke Indonesia. Apalagi dalam waktu cepat hama tersebut telah mewabah dari Benua Amerika pada tahun 2016, masuk ke Benua Afrika dan menyebar di wilayah Asia hingga kini sudah ke Thailand pada tahun 2018.

Menurut peneliti Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB, Idham Sakti Harahap, FAW atau Spidoptera frugiperda merupakan salah satu jenis ulat grayak yang mempunyai jelajah tinggi. Bahkan imago-nya bisa terbang jauh, bahkan jika terbawa anging bisa mencapai 100 km.

“Hama ini termasuk yang sulit dikendalikan, karena imagonya cepat menyebar, bahkan termasuk penerbang kuat dapat mencapai jarak yang cukup jauh dalam satu minggu. Kalau dibantu angin bisa mencapai 100 km,” kata Idham pada worshop Fall Armyworm on Corn, an Threat to Food Security in Asia Pasific  Region di Bogor, Rabu (6/2) yang diselanggaralam Corteva.

Lebih diwaspadai lagi ungkap Idham, kemampuan serangga ini bertahan pada musim dingin. Bukan hanya itu kecepatan reproduksinya juga sangat tinggi. Larva berukuran besar dan bersifat kanibal. “Kejadian di negara yang sudah mewabah, Spidoptera frugiperda masuk sebagai invansif yang tidak diikuti musuh alami, sehingga serangannya sangat cepat,” tegasnya.

Pada tahun 2017, hama tersebut menyebar hampir ke semua negara yang menanam jagung di Afrika dan Afrika Selatan. Spidoptera frugiperda kini sudah menyebar di negara tropika dan subtropika, seperti Brasil dan Amerika Selatan. Di Asia sudah masuk ke Yaman, India, Myanmar dan Thailand.

“Ada kemungkinan hama itu masuk terbawa produk sayuran yang diimpor dalam bentuk larva. Ini patut kita waspadai dan kita harus mulai mengawasi produk pertanian impor,” ujarnya.

Idham juga mengingatkan, patut diwaspadai juga ledakan populasi hama ini terhadap pada awal musim hujan, terutama pada saat masa awal musim tanam. Apalagi jika sebelumnya terjadi musim kemarau panjang.

Negara Brasil mempunyai pengalaman pahit dalam mengendalikan hama ulat grayak tersebut. Negara sepak bola itu harus mengeluarkan biaya hingga 600 juta dolar AS. Sedangkan negara-negara di Afrika yang juga terserang hama tersebut bukan hanya mempengaruhi produksi jagung, tapi juga dalam pemasaran dan perdagangan internasional.

CABI pada tahun 2018 memperkirakan kerugian yang terjadi akibat serangan hama Spidoptera frugiperda  yang menyerang  tanaman jagung di 12 negara di Afrika produksi tinggal 4 ton/tahun. Sedangkan nilai uangnya 1-4,6 juta dollar AS/tahun. “Saat ini FAW sudah ada di Thailand. Jadi kita harus mewaspadai,” ujarnya.

Mencegah Penyebaran

Idham menyarankan ada beberapa upaya mencegah penyebaran Spidoptera frugiperda jika sudah masuk ke Indonesia. Pertama, sebelum meluas dapat dilakukan eradikasi, bukan dalam skala kebun, tapi negara (pulau). “Eradikasinya bukan hanya media pembawa, tapi juga tempat menempel telurnya,” katanya.

Langkah kedua adalah menyebarkan informasi dan menghimbau masyarakat untuk segera melaporkan kalau menemukan hama tersebut. Ketiga, melakukan survei dan inventarisasi tanaman inang dan musuh alami hama Spidoptera frugiperda.

Sementara itu peneliti Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB lainnya, Dewi Sartiami menambahkan, untuk mengendalikan hama tersebut bukan hanya media pembawa yang diwaspadai, tapi juga ada kemungkinan manusia yang menjadi pembawa, terutama yang berpergian ke wilayah yang sedang mewabah Spidoptera frugiperda.

“Jangan sampai Spidoptera frugiperda sampai invansif di Indonesia. Kasus rusaknya tanaman jagung di Papua yang mencapai 500 ha secara cepat dan serempak harus kita waspadai,” tegasnya seraya menambahkan, cara paling mudah mengenali hama tersebut adalah adanya garis mirip huruf Y pada kepala.

Sementara Kepala Balai Penelitian Serealia Balitbangtan, Maros, M. Azrai menegaskan, hingga kini belum ada laporan tanaman jagung yang terserang hama Spidoptera frugiperda. Sedangkan hama yang selama ini ada yakni penggerek batang, penggerek tongkol, aphis, belalang kembar. “Sedangkan ulat grayak yang menyerang tanaman jagung memang dari jenis sudah ada di Indonesia yakni Spidoptera lituran dan exigua,”  ujarnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018