Minggu, 20 Oktober 2019


Punya Lab dan SDM Terakreditasi, BPTP Jatim Siap Wujudkan Pertanian Presisi

26 Apr 2019, 15:39 WIBEditor : Gesha

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur (BPTP Jatim) Chendy Tafakresnanto menuturkan dengan lab dan SDM yang terakreditasi, pertanian presisi bisa diwujudkan di daerah | Sumber Foto:indarto

Kalau semua lab sudah diakreditasi dan SDM-nya kompeten, pada 2024, rekomendasi pupuk bukan lagi berdasarkan keinginan petani atau kemampuan pemerintah, tapi sesuai kebutuhan tanaman. Sehingga petani pun lebih efisien menggunakan pupuk sesuai spesifi

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang --- Berkat laboratorium (lab) yang sudah terakreditasi dan SDM Kompeten, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur (BPTP Jatim)  bertekad wujudkan pertanian presisi.

Kepala  Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur (BPTP Jatim) Chendy Tafakresnanto mengatakan, dengan dukungan peralatan canggih dan SDM terlatih, BPTP Jatim bisa mewujudkan pertanian presisi dengan efisiensi tinggi dan berkelanjutan di Jatim.

“Karena itu,  semua lab idealnya diakreditasi supaya  analisis atau hasil lab bisa menjadi rujukan menuju pertanian presisi,” ujar Chendy, di sela acara Pelatihan Sistem Mutu ISO 17025:2017, di Malang.

Chendy mencontohkan kesiapan dalam rekomendasi pupuk. Mengingat selama ini kebutuhan pupuk berdasarkan keinginan petani atau kemampuan pemerintah.

Artinya, kebutuhan pupuk bukan berdasarkan kebutuhan tanaman. Bahkan, petani pun merasa tak puas kalau daun tanaman yang dipupuk tak hijau.

"Ada yang sampai 800 kg-1 ton/ha. Padahal sesuai dengan analisis yang kami lakukan yang diperlukan tanaman hanya 200-250 kg/ha. ” ujarnya.

Apabila semua lab yang ada dibawah naungan Balitbangtan diakreditasi dan SDM-nya juga dilakukan akreditasi secara bertahap, pertanian presisi yang ada di Jawa segera terwujud.

“Kalau semua lab sudah diakreditasi dan SDM-nya kompeten, pada 2024, rekomendasi pupuk bukan lagi berdasarkan keinginan petani atau kemampuan pemerintah, tapi sesuai kebutuhan tanaman. Sehingga petani pun lebih efisien menggunakan pupuk sesuai spesifikasi lokasi,” kata Chendy.

Chendy juga menegaskan,  peran laboratorium dan SDM yang kompeten sama-sama penting. Karena itu, dalam mengelola lab yang sudah diakreditasi harus ditangani langsung oleh manager mutu dan manager teknis, sehingga analisis data yang dihasilkan bermutu tinggi dan akurat.

"Apabila lab-nya sudah diakreditasi, manajer lab sudah ditraining menggunakan pelaralatan canggih akan mendorong terwujudnya pertanian presisi,” ujar Chendy.

Dalam mewujudkan pertanian presisi, BPTP Jatim sudah mengaplikasi benih unggul sesuai lokasi dan musim di 10 kabupaten di Jatim. 

“Kami juga mulai melakukan penanaman rapat (populasi ditambah,red) dengan pupuk berimbang di sejumlah daerah di Jatim,” ujarnya.

Menurut Chendy, Jatim mempunyai lahan sawah sekitar 1,1 juta ha. Petani di Jatim rata-rata tanam padi dua kali/tahun.

Nah, dengan luas lahan sawah yang tak bisa berkembang, bahkan ada kecenderungan berkurang, maka diperlukan sistem pertanian yang efektif dan efisien supaya produktivitas tanamannya meningkat.

Reporter : Indarto
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018