Saturday, 15 August 2020


Teknologi Pembuatan Bio-Urine dari Kencing Sapi yang Diperkaya dengan Pupuk Hayati    

08 Jul 2020, 13:21 WIBEditor : Ahmad Soim

Pembuatan Bio-Urine yang diperkaya dengan pupuk hayati | Sumber Foto:BPTP Kepri

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Kepri – Pembuatan Bio-Urine dari kencing sapi bisa diperkaya dengan pupuk hayati dengan menambahkan mikroba dan molase. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kepulauan Riau (BPTP Kepri) membuat formulasi teknologi Bio-Urine tersebut dan sudah dimanfaatkan petani dan peternak.

Kepala BPTP Kepri Dr. Ir. Sugeng Widodo, MP mengatakan teknologi pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) bio-urine perlu dikembangkan di tingkat petani karena limbah cair urine sapi   belum banyak dimanfaatkan oleh petani/peternak dan selama ini terbuang dengan percuma.

 “Bila urine sapi   diproses dengan baik melalui fermentasi dan pencampuran molase, pupuk hayati akan bernilai ekonomi tinggi,” jelas Sugeng Widodo.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Nuraini dan Asgianingrum Tahun 2017, jelas Sugeng Widodo, penggunaan biourin sapi yang diperkaya dengan pupuk hayati dengan mikroba sebanyak 30 ml, dan molase 750 ml pada 10 L urin mampu meningkatkan N-total 860 persen, bahan organik 282 persen, dan populasi mikroba sebesar 1229 persen.

Peluang pasar Bio-Urine akan semakin besar dengan semakin tingginya kesadaran masyarakat akan bahaya dari penggunaan bahan kimia dalam pertanian. Masyarakat semakin teliti dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan.

Pola hidup sehat lanjutnya menjadi tren baru dan meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia, seperti pupuk, pestisida, Insektisida, herbisida dan zat pengatur tumbuh dalam produksi pertanian beralih ke penggunaan organik sehingga dapat menghasilkan pangan sehat dan bergizi tinggi.

Penggunaan pupuk organik cair menjadi salah satu alternatif untuk  mengurangi pengunaan bahan kimia dalam budidaya pertanian. Pupuk organik cair merupakan larutan dari pembusukan bahan-bahan organik yang berasal dari sisa tanaman dan kotoran hewan (urine) yang memiliki beberapa kandungan unsur hara.

Kelebihan dari pupuk organik cair mampu bereaksi dengan cepat karena bersifat volatil sehingga lebih cepat dapat diserap tanaman dan bereaksi sempurna ditanah. Namun memiliki kelemahan mudah menguap dalam tanah, oleh sebab itu saat aplikasi kedalam tanah maka tanah sekitar tanaman perlu digemburkan agar POC efektif.

 Pupuk organik cair yang berasal dari urine sapi dinamakan bio-urine. Bio-urine merupakan urine yang diambil dari ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing dan lainnya yang dilakukan fermentasi untuk digunakan sebagai pupuk tanaman yang ramah lingkungan.

 Meningkatkan Kandungan Hara

Urine ternak sapi segar mengandung hara yang masih rendah, serta mengandung unsur pathogen bagi tanaman, oleh karena itu disarankan urine digunakan setelah di lakukan fermentasi yang umum disebut bio-urine. Teknologi pengolahan urine ternak sapi sangat sederhana dan bernilai ekonomis serta dapat meningkatkan pendapatan peternak itu sendiri.

Beberapa manfaat bio-urine antara lain 1) mempunyai efek jangka panjang yang baik bagi tanah, yaitu dapat memperbaiki struktur kandungan organik tanah; 2) perangsang pertumbuhan akar tanaman pada benih/bibit; 3) sebagai pupuk daun organik; 4) dengan dicampur pestisida organik bisa membuka daun yang keriting akibat serangan thrip; 5) mencegah datangnya berbagai hama tanaman.

Pupuk cair bio-urine juga memiliki beberapa kelebihan antara lain:1) dapat secara cepat mengatasi defesiensi hara; 2) jumlah kandungan nitrogen, fosfor, kalium dan air lebih banyak jika dibandingkan dengan kotoran sapi padat; 3) volume penggunaan lebih hemat dibandingkan pupuk organik padat serta aplikasinya lebih mudah karena dapat diberikan dengan penyemprotan atau penyiraman; 4) mudah membuatnya, serta 5) murah harganya.

 Komposisi dan Proses Pembuatan

Teknologi pemanfaatan bio-urine sapi ini diterapkan BPTP Balitbangtan Kepulauan Riau kepada petani kooperator BPTP Balitbangtan Kepulauan Riau salah satunya di lokasi peternakan Andi Purwanto di Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan.

Tim peneliti BPTP Kepri drh Salfina A. Nurdin, MP, dkk. memperkenalkan dan mendampingi peternak sapi pada Kelompok Tani Tunas Jaya di Desa Malang Rapat Bintan, mulai proses pembuatan bio-urine dan sampai pengaplikasiannya untuk budidaya tanaman.

Komposisi pembuat Bio-Urine yang diperkaya pupuk hayati yang dibuat BPTP Kepri:

1.            Urine sapi 200 liter

2.            Tanaman Physalis 5 kg

3.            Gula merah 5 kg

4.            Garam tanpa yodium 2 kg

5.            Kotoran sapi 10 kg

6.            EM4 Tanaman 1 Liter

7.            EM4 Perikanan 0,5 liter

8.            Daun sukun 5 kg

 

Proses Pembuatan Bio–Urinenya sebagai berikut tahapan tahapannya:

1.            Timbang semua bahan sesuai dengan kebutuhan masing-masing;

2.            Urine ternak sebanyak 200 liter dimasukkan kedalam drum plastik;

3.            Tanaman physalis dan daun sukun digiling sampai halus, setelah halus masukkan gilingan tanaman physalis dan daun sukun kedalam drum berisi urine;

4.            Larutkan gula merah dan garam;

5.            Setelah semua bahan tercampur, selanjutnya aduk sampai rata dan drum ditutup rapat;

6.            Fermentasikan selama 14 hari, larutan substrat bio-urine harus dipompa menggunakan pompa mesin akuarium selama 4 jam sehari dan tutup kembali drum dengan rapat. Proses ini dilakukan selama 14 hari;

7.            Setelah 14 hari urine langsung disaring dan lakukan aerasi menggunakan aerator gelembung selama 5 jam sehari selama 14 hari. Tujuannya untuk menurunkan kandungan amoniak dalam larutan;

8.            Bio-urine siap digunakan.

 

Reporter : Irma O., Gokma A. dan Jonri S.
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018