Sunday, 11 April 2021


Ragam Pupuk Hayati yang Menakjubkan

27 Feb 2021, 07:00 WIBEditor : Ahmad Soim

Koloni Rizhobla | Sumber Foto:Dok Rasti Saraswati

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta - Prof Rasti Saraswasi dari Balai Penelitian Tanah Bogor menjelaskan pupuk hayati berbeda dengan pupuk organik. “Pupuk hayati itu bisa disebut juga pupuk mikroba atau biofertilizier,” jelasnya. 

Ada banyak ragam pupuk hayati.atau pupuk biologi aktif ini. Dalam pupuk hayati terdapat beragam mikroba, di antaranya  mikroba penyedia hara tanah, perombak bahan organic, pemacu pertumbuhan dan  perlindungan tanaman.

Sejak tahun 1990-an sudah tersedia teknologi pupuk hayati majemuk multifungsi. “Yakni pupuk hayati yang mengandung bebera spesies mikroba dengan berbagai fungsi,” tambah Rasti.

Mikroorganisme yang terkandung dalam pupuk hayati majemuk memiliki sifat dan peran yang berlainan, terkadang dapat saling berkompetisi dan mikroba mikroba tersebut memiliki peran dan keunggulan masing-masing.

 

BACA JUGA:

> Kunci Sukses Membuat dan Mengaplikasikan Pupuk Hayati

> Gunakan Pupuk Hayati, Dapatkan Keuntungan yang Luar Biasa

 

“Dapat juga koloni mikroba tersebut mempersatukan fungsi dan peran beberapa spesies mikroba yang berbeda, menjadikan satu fungsi yang saling bersinergi luar biasa dalam proses perbaikan tanah dan peningkatan produksi tanaman,” jelasnya lagi.

Mikroorganisme tanah lanjutnya tanpa disadari paling bertanggungjawab pada berbagai trabsformasi hara dalam tanah yang berhubungan dengan kesuburan, ketersediaan hara dan kesehatan tanah.

Dr. Surono menambahkan Balittanah memiliki koleksi bermacam spesies mikroorganisme berbasis jamur  DSE dari berbagai agroekosistem seperti lahan kering, lahan sawah, dan lahan rawa untuk bahan pembuatan pupuk hayati.

Cendawan DSE jelasnya berpotensi meningkatkan produktivitas tanaman pertanian di lahan kering, terutama lahan kering masam yang mendominasi lahan kering di Indonesia. 

“Spesies DSE memiliki kemampuannya beradaptasi dengan kondisi keasaman tanah yang tinggi (pHnya lebih kecil dari 5.5), Fe dan Al tinggi, mampu melarutkan P dari bentuk Fe-P dan Al-P. Melalui aktivitas simbiotiknya, cendawan DSE mampu memacu pertumbuhan tanaman di kondisi cekaman abiotik tersebut,” paparnya kepada Sinar Tani.

Menurut Surono ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk keberhasilan penggunaan pupuk hayati lahan kering, yakni seleksi bahan aktif yaitu mikroba harus ketat berdasarkan hasil uji laboratorium, rumah kaca, dan lapangan. Di samping itu,  mikroba yang digunakan sebagai bahan aktif pupuk hayati adalah mikroba yang mampu meningkatkan adaptasi tanaman terhadap kondisi cekaman abiotik seperti cendawan DSE dan mikoriza.

“Teknik inokulasi/penggunaannnya yang tepat dan kualitas pupuk hayati yang terkontrol juga menjadi syarat yang penting untuk keberhasilan penggunaan pupuk hayati lahan kering,” ujar Surono

 

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018