Friday, 07 May 2021


Daging Kerbau Impor Masuk Pasar, Peternak Hilang Motivasi

28 Apr 2021, 19:46 WIBEditor : Gesha

Daging kerbau impor yang masuk pasar | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Impor daging kerbau beku menjadi upaya pemerintah dalam menambah stok daging untuk memenuhi kebutuhan sekaligus mengendalikan harganya. Langkah ini telah dilakukan sejak tahun 2016 dan pendistribusiannya melalui Perum Bulog hingga sekarang.

"Distribusi daging kerbau setiap tahunnya bertambah cukup tinggi dan pendistribusiannya ke seluruh Indonesia, tak hanya lagi Jabodetabek," ungkap Sekjen Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia periode 2015-2020, Rochadi Tawaf dalam Focus Group Discussion (FGD) Mengawal Pasokan Daging Jelang Lebaran yang diadakan TABLOID SINAR TANI, Rabu (28/4).

Berdasarkan catatan dari Perum Bulog, di tahun 2019, ada 58.666 ton daging kerbau beku yang didistribusikan kepada 90 mitra distributor di 19 wilayah distribusi oleh Kanwil Bulog.

Untuk tahun 2021, Bulog telah merealisasikan impor dengan volume 13.000 ton dari total 80.000 ton daging kerbau yang ditugasi pemerintah. Meski masih jauh dari total volume penugasan, dia memastikan jumlah tersebut bisa memenuhi kebutuhan saat Ramadan dan Idulfitri.

Adapun wilayah distribusi daging kerbau beku tersebut antara lain Jabodetabek, Jabar, Jateng, DI Yogyakarta, Sumsel Babel, Bengkulu, Sumbar, Jambi, Riau dan Kepulauan Riau, Sumut, Kalbar, Kaltim dan Kaltara, Kalteng, Kalsel, Sulut dan Gorontalo, Sulteng, Sultra dan Sulsel hingga Sulbar. Harga daging sapi kerbau beku ini dijual dengan harga Rp 80 ribu per kilogram.

Importasi daging kerbau beku dibolehkan masuk ke negeri ini melalui SK Mentan No. 2556/2016 pada 8 Juni 2016 dan Peraturan Pemerintah Nomor 4/2016 dan memiliki dampak yang luar biasa.

"Distribusi daging kerbau beku ini terbukti bisa melakukan intervensi dan penekanan di daerah-daerah," tutur Rochadi yang mengutip hasil penelitian Daud tahun 2019 yang menyatakan daging kerbau beku, sampai 2019 telah mampu menggeser kontribusi daging sapi lokal di beberapa tempat hingga sekitar 50 persen.

Hasilnya, pemotongan sapi lokal di rumah pemotongan hewan (RPH) di sekitar wilayah Jabodetabek maupun daerah lainnya menurun tajam. 

Berdasarkan beberapa kajian mengenai dampak importasi daging kerbau terhadap peternak sapi di dalam negeri, justru terungkap kondisi usaha peternak menjadi tidak bergairah, karena tidak berdaya saing. 

Peternak kehilangan pasar potensial hariannya di RPH. Pangsa pasarnya bergeser ke hari raya Kurban. Di sisi lain konsumen dan industri pemrosesan daging menikmati murahnya harga bahan bakunya.

Harga Tak Pengaruh

Meskipun mampu menggeser kontribusi daging, namun nyatanya impor daging kerbau beku tidak mampu menurunkan harga daging sapi yang senantiasa berada pada harga stabil tinggi. 

Untuk diketahui, konsumen daging sapi yang sekitar 16 persen berada pada segmentasi kelompok masyarakat menengah atas. Konsumen kelompok ini tidak terganggu oleh harga daging kerbau beku yang murah, karena preferensinya terhadap daging sapi.

Importasi daging kerbau ini justru membawa peluang nakal bagi pelaku usaha daging sapi yang mencampurnya (oplos) dengan daging kerbau untuk mengecoh konsumen yang membelinya dengan harga tinggi selayaknya daging sapi.

"Di Kuching, Malaysia, para pedagang di pasar beceknya sangat terbuka menyajikan daging kerbau, daging sapi dan daging segar dengan harga yang jelas," tuturnya. 

Sehingga yang bingung adalah konsumen yang harus ekstra keras memilih daging sapi segar atau daging sapi yang dioplos daging kerbau. "Kita akhirnya harus memberikan edukasi bagi konsumen agar mampu menentukan pilihannya dalam memilih daging," ungkapnya.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018